PERLU TATAKRAMA IKLAN POLITIK

Beberapa calon pemimpin bangsa yang melekat dengan keberhasilan yang digambarkan oleh berbagai pariwara politik, dinilai hanya menguntungkan kubu mereka. Semua mengklaim keberhasilan pembangunan sebagai bagian dari perjuangan partainya. Oleh karena itu, setiap anggota calon legislatif ( caleg ) dan partai politik ( parpol ) agar memiliki KEMATANGAN EMOSIONAL terutama dalam membuat iklan politik.

Perlu ada swakarma yang bisa mendewasakan diri dan kehidupan beretika dari caleg maupun parpol. Iklan politik perlu memperhatikan beberapa aspek penting, yakni tatanan dari dari segi tata cara dan tata karma, masa iklan, kewenangan, dan asas-asas yang diperjuangkan. Seperti benar, lurus dan jujur serta bertanggung jawab. Hal ini pula harus dilaksakan dengan persaingan yang sehat. Iklan juga mesti melindungi dan menghargai khalayak, tidak merendahkan agama, budaya, Negara, golongan bahkan tidak melawan hokum.

Iklan tidak 100% memaparkan situasi apa adanya. Iklan politik secara lebih spesifik bisa merupakan janji-janji kepada konstiuen. Jika janji ini tidak dipenuhi, berarti pemasang iklan ini telah menipu. Maka perlu di berdayakan nilai-nilai moral dan kode etis terhadap mereka. Sesuatu hal-hal yang termuat pada isi iklan harus merupakan sesuatu yang benar.

Kita khawatir, apakah gencarnya iklan politik bisa mendongkrak elektabilitas caleg atau parpor. Ataukah iklan itu hanya merupakan simbol atau wadah saja dalam mendongkrak popularitas semata.

Beberapa hal penting yang menjadi rebutan beberapa pemasang iklan politik antara lain, swasembada pangan, alokasi APBN 20% ke sector pendidikan, penurunan harga minyak, harga kebutuhan pokok, pembangunan infrastruktur dan lainnya.

Adakah yang peduli dengan ini semua ???

Sampai kapankah fenomena ini akan terus berlangsung di negeri tercinta ini ???

Dimanakah peran serta dari para intelektual agama, dewan pertimbangan agung, DPR / MPR atau lembaga-lembaga lainnya ???

Mengapa kita harus berjalan dengan langkah sendiri-sendiri tanpa memperdulikan langkah dan fenomena yang ada disekitar kita ???

Apakah kita sudah buta, tuli, dan tidak peka lagi terhadap perkembangan bangsa ini ???

Dimanakah HATI NURANI kita sebagai hidayah terbesar dari SANG MAHA PENCIPTA ???

Semoga kita semua, bahu membahu dan berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara MENUJU NUSANTARA JAYA.

Salam

Iklan

MENJADI POLITISI ADALAH SEBUAH PENGABDIAN

Memilih karier sebagai politisi di Indonesia, memang susah-susah gampang. Susahnya, ditengah masyarakat yang sedang susah, segala perbuatan yang tidak baik pasti akan cepat terkuak. Dalam hitungan jam, maupun beberapa hari perilaku tersebut dapat diketahui oleh masyarakat terlebih lagi di era informasi sekarang ini yang cukup pesat.

Ada juga yang mengatakan kalau menjadi politisi tersebut gampang. Asal mempunyai uang, mempunyai minat terhadap kesejahteraan rakyat maka orang tersebut bisa masuk menjadi anggota partai politik dan kemudian berkecimpung didalamnya.

Tetapi yang harus kita renungkan, bahwa menjadi politisi tersebut sesungguhnya adalah sebuah PENGABDIAN. Pengabdian ini tidak sekedar kepada Negara, tetapi terlebih kepada masyarakat. Partai politik hanya sebagai wadah saja agar pengabdian tersebut bisa berlangsung dengan lebih terkoordinir. Tetapi faktanya jauh sekali dengan di lapangan, jadi memang di perlukan penanaman moral, nilai-nilai kebaikan dan kebersamaan serta nasionalisme kepada para politikus kita.

Kebetulan di Indonesia secara garis besar boleh dikatakan, pengabdian politisi tersebut harus dilakukan melalui partai. Menjadi politisi harus siap dengan waktu yang terkuras bahkan waktunya banyak terbuang untuk organisasinya ketimbang keluarganya. Juga ia pun harus rela uang pribadinya terkuras.

Dengan konteks itulah, maka kita khawatir dengan berbagai penyimpangan dan manuver politik yang terlihat di setiap pemilu, baik itu di tingkat daerah maupun di tingkat pusat.

Di tingkat bawah, kita dukung aparat keamanan yang mengusut calon anggota legislatifnya yang berbuat menyimpang. Di tingkat atas kita dukung KPK untuk menindaklanjuti calon maupun anggota legislative yang berbuat korupsi. Tetapi bagaimana terhadap maneuver politik tingkat pada tingkat eksekutif ???

Saat ini sudah jelas, bahwa pasangan SBY-JK tidak akan bergabung lagi. Keadaan ini memicu dinamika tinggi pada tingkat elit politik pusat. Pemilihan Presiden yang berlangsung bulan Juli nanti, justru kini terasa di bulan Maret dan April. Artinya, baik perhatian maupun strategi untuk pemilihan presiden tersebut, lebih popular di bandingkan dengan pemilu legislative yang akan diselenggarakan di bulan April nanti. Salah satunya adalah adanya trik-trik koalisi antar partai besar. Disinilah kekhawatiran kita. Koalisi adalah metode untuk mencapai kekuasaan, tetapi koalisi terkadang tidak baik untuk membangun pemerintahan. Pemerintah adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap rakyat. Koalisi, apalagi yang berlangsung diantara partai-partai besar, kerap runtuh di tengah jalan disebabkan oleh “perebutan “ pengaruh atau kekuasaan. Partai-partai besar merasa dirinya berkuasa dan memerintah. Jika koalisi ini retak di tengah jalan, maka Negara akan kacau dan rakyat menjadi penonton dan kebingungan.

Maka sekali lagi kita coba ingatkan, bahwa berpolitik itu adalah sebuah PENGABDIAN, bahkan bisa disebut pengabdian luhur, jika aplikasinya sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jika pandangan anda terhadap BERPOLITIK sama dengan BERKUASA, maka urungkanlah niat anda untuk berpolitik. Maka tindakan tersebut bukannya membuat Nusantara Jaya, tetapi menjadi Nusantara Sengsara. Jadi, mari kita bersama-sama berpartisipasi dan berperan aktif dalam peningkatan mutu bangsa menuju NUSANTARA JAYA.

Salam Kasih dan Damai untuk kita semua