SOLUSI MASA DEPAN INDONESIA

SOLUSI MASA DEPAN INDONESIA

KONDISI SAAT INI

Sejak beberapa waktu terakhir, berbagai krisis telah mengguncang dan memporakporandakan tata nilai yang berlaku di masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Krisis tersebut antara lain menyangkup aspek PANCA GATRA, yaitu :
• krisis politik
• krisis ekonomi
• krisis hukum
• krisis kepercayaan
• krisis moral

Tidak dapat disangkal bahwa guncangan ini terjadi karena kurang tangguhnya ketahanan pribadi dan nasional kita. Padahal seperti telah di sebutkan di atas, jika kualitas pribadi sebagai esensi dari ketahanan pribadi yang di harapkan dalam keadaan rapuh, kondisi ini juga akan mempengaruhi ketahanan pribadi, keluarga, wilayah dan pada akhirnya ketahanan nasional.

Adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, krisis yang telah mampu mengguncang hampir seluruh aspek kehidupan nasional ini pada hakekatnya bersumber pada krisis identitas. MAka masalah identitas yang sebenarnya bukan termasuk masalah urgent tetapi tergolong important, penanganannya pun harus ditangani secara efektif oleh pemerintah dan partisipasi aktif dari segenap lapisan masyarakat.

Jika kondisi Negara dan bangsa ibarat sebatang pohon, berbagai krisis yang sedang berlangsung semisal rontoknya dedaunan gara-gara rapuhnya ranting, dahan dan batang pohon. Apa penyebab semua itu ??? Akar pohon yang membusuk karena si pemilik lupa memberi pupuk, lalai menyiramnya dengan air. Akibatnya telah kita ketahui bersama. Merupakan tugas kita bersama untuk menjaga akar pohon, yang melambangkan berbagai unsur penting, yaitu agama, budaya, jati diri, kepedulian, keteladanan dan budi pekerti yang senantiasa terpelihara dengan baik, dan segera ditangani jika kita tidak berharap kondisinya akan menjadi semakin parah.

KIAT MENGHADAPI PERSAINGAN

Pada saat ini kita telah berada di abad ke-21 yang merupakan abad Milenium baru yang merupakan era globalisasi dan dengan segala implikasinya. Agar bangsa dan Negara tetap eksis, maka kita harus mempersiapkan diri untuk meningkatkan kemampuan menghadapi persaingan.

Dengan memahami tantangan di masa depan, lewat suatu analisis mendalam kita dapat menghayati berbagai faktor, baik yang mempengaruhi perkembangan global, regional maupun nasional, singkat kata, semua yang berkaitan dengan kehidupan sosial kita ( Panca Gatra ). Hanya dengan cara itulah berbagai kemungkinan yang dapat kita tempuh dapat di antisipasi dengan baik.

Sebagai salah satu gambaran analis tentang adanya berbagai konsep yang masuk ke Indonesia akibat globalisasi ini adalah HAM, perdagangan bebas, demokrasi, budaya dan lingkungan hidup. Sementara itu, akibat yang terjadi di dalam negeri sekarang ini adalah :
• tidak adanya demokrasi
• KKN
• Konsentrasi kekuasaan hanya pada golongan tertentu saja

Hal itulah yang menuntut adanya reformasi total yang dapat mengakomodasikan hasil interaksi antara konsep-konsep luar negeri dan konsep dalam neger, dengan memanfaatkan segenap kemampuan kita mengendalikan kekuatan itu.

Sebagai alternative, dapat dikembangkan tiga ( 3 ) kemungkinan strategi, yaitu :
1. melawan ( kalau mampu )
2. menghindar ( kalau tidak mampu )
3. ikut ( kalau bermanfaat )

Strategi apapun yang diambil, tolak ukurnya adalah PANCASILA, tetapi yang sangat menentukan adalah peran pelakunya, yaitu manusia Indonesia.

ILUSTRASI

Berkaitan dengan masalah persaingan dalam era globalisasi, sebuah pertanyaan muncul. Sudah siapkah kita berkompetisi dengan bangsa lain, khususnya dalam bidang ekonomi??? Sudah siapkah kita menghadapi globalisasi dengan segala implikasinya???

Betapa sering kita mendengar komentar, “ Kita harus siap bersaing. “ di ucapkan oleh para pejabat dan petinggi Negara. Komentar yang sering terdengar sangat sederhana, tetapi dalam kenyataannya mengandung sejumlah hal mendasar, yang justru merupakan titik kelemahan kita. Mengapa demikian ?

Kenyataan membuktikan bahwa kita belum memiliki kebiasaan bersaing, bahkan cenderunglengah menghadapi persaingan. Dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan lebih sering di cegah untuk bersaing. Dalam suatu kelompok, jika kebetulan pendapat kita berbeda dengan yang lain, kita dianjurkan untuk mengikuti arahan ataupun keputusan/ketentuan yang telah digariskan.

Hal serupa juga terjadi dalam dunia olahraga kita : Lingkungan yang seharusnya dapat melatih seseorang untuk berjiwa besar, bersikap sportif dan rendah hati. Sejauh ini tampaknya sebagian besar olahragawan kita baru sampai pada tahap mengagumi bila melihat seseorang juara menunjukkan sikap sebagai pemenang simpatik ( a sympathetic champion ). Namun pada saat mereka mereka berkesempatan tampil sebagai pemenang, sikap yang mereka perlihatkan jauh lebih menarik.

Apa yang membuat seseorang pemenang mampu bersikap simpatik? Dalam filosofi budaya jawa terdapat ungkapan, “Menang tanpa ngasorake” maksudnya menang tanpa membuat pihak lawan merasa rendah diri. Sungguh sangat disayangkan betapa sering kita melihat seorang juara sedemikian membanggakan kemenangannya hingga memberi kesan sombong, suatu sikap yang acap disebut sebagai awal kehancuran.

Lalu bagaimana seharusnya sikap seorang pemenang? Untuk menjadi pemenang yang simpatik, terlebih dahulu ia harus melatih diri untuk mampu menjadi si kalah yang baik ( a good loser ); dalam bahasa jawanya Kalah nanging legowo, artinya biarpun kalah, ia tetap menghargai pihak yang mengalahkan dirinya ( pemenang ), tetapi diam-diam bertekad untuk berlatih dengan lebih giat lagi agar dapat meraih hasil yang lebih baik. Kesadarn seperti itu tentunya harus diwujudkan dalam tindakan, bukan sekedar dengan kata-kata.

Kesadaran dalam bertindak juga merupakan suatu tuntutan jika kita memutuskan untuk menjadi seorang pemimpin atau para pemegang suatu keputusan, terlebih lagi para wakil-wakil rakyat dan staf di struktur pemerintahan.

SISTEM NILAI YANG DIANUT

Proses globalisasi mengandug suatu implikasi mendasar, aktivitas yang semula terbatas jangkauan menjadi hampir tanpa batas. Secara revolusioner, proses globalisasi juga akan memberikan implikasi pada tatanan nilai hampir di setiap bidang kehidupan. Khususnya dalam bidang social budaya, globalisasi akan memberikan dampak terhadap masuk dan munculnya nilai-nilai baru dalam tata kehidupan umum dan menjadi penentu perilaku bangsa. Sangat di harapkan bila kita dapat menyesuaikannya dengan integritas, identitas dan kepribadian bangsa.

Integritas bangsa merupakan perpaduan dari integritas pribadi-pribadi sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai social dan budaya. Identitas itu akan terpancar dari penampilan kepribadian bangsa, tercermin dari rangkaian kepribadian individu-individu warganya. Timbul pertanyaan : Sistem nilai manakah yang paling sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia???

Suatu bangsa memerlukan dasar normatif, suatu system nilai dan pandangan tentang manusia yang mendasari kebijaksanaan-kebijaksaannya. Akan tetapi, sestem nilai tersebut seyogyanya tidak hanya dibuat dan diciptakan oleh mereka yang sedang berkuasa, tetapi juga harus diambil dan digali dari masyarakat itu sendiri dan merupakan perwujudan kepribadian moral bangsa dan masyarakat itu sendiri. Pada akhirnya kita akan kembali kepada PANCASILA, dasar dan haluan kehidupan yang diakui sebagai satu-satunya azas bangsa Indonesia. Sebagai suatu system nilai normative bagi bangsa Indonesia, Pancasila tidak digariskan dari atas, tetapi digali dari nilai-nilai dasar dan pandangan hidup masyarakat Indonesia sendiri.

Dalam Pancasila sendiri, sebagai makhluk Tuhan, manusia menempati kedudukan terhormat berkat keluhuran, kesadaran dan martabatnya. Dengan kesadarannya itu, manusia diharapkan dapat mengembangkan kodratnya sebagai individu ataupun sebagai makhluk sosial.

Visi yang menyangkut pandangan hidup dan tertuang dalam Pancasila ini tentu saja harus dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukanlah suatu hal yang sulit jika kita memegang teguh Pancasila, kristalisasi berbagai nilai yang telah hidup dan berurat akar dalam masyarakat dan bangsa kita.

Idealnya, system nilai bagi bangsa Indonesia dapat digali dari ideology Pancasila serta tradisi kebudayaan yang masih relevan, dan bermuara pada system nilai dari agama yang kita peluk. Secara sederhana kita dapat merangkumnya dengan istilah 4 F, seperti pernah diutarakan oleh Frank Kehoe, seorang konsultan senior yaitu :

-Friendly ( ramah tamah )

-Frank ( terbuka )

-Firm ( tegas, bertanggung jawab )

– dan Fair ( adil ), yang dilandasi dengan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

MANUSIA DAN PEMANFAATAN INTELLIGENCE QUOTIENT, EMOTIONAL INTELLIGENCE DAN EMPATI

Sebelum Daniel Goleman memperkenalkan teorinya tentang pentingnya Emotional Intelligence ( kecerdasan Emosional ), pihak-pihak yang berkaitan dengan dunia pendidikan lebih banyak memberikan perhatian pada upaya mempertinggi tingkat ecerdasan, yang lazim kita kenal dengan istilah IQ ( Intelligence Quotient ).

Dalam buku Emotional Intellegence yang menggemparkan itu, Dr. Daniel Goleman mengatakan bahwa seseorang yang memiliki IQ tinggi, tetapi ber-EQ rendah berpeluang menemui kegagalan, sebaliknya seseorang ber-EQ tinggi meski hanya memiliki tingkat kecerdasan rata-rata, berpeluang menikmati keberhasilan.

APA SESUNGGUHNYA YANG DISEBUT KECERDASAN EMOSIONAL ?

Kecerdasan emosional terutama berkaitan dengan kemampuan dalam pengendalian diri. Khususnya dalam pergaulan, mampu mengendalikan diri juga berarti mampu mengelola emosi. Artinya, kita dapat memahami perasaan orang lain, menerima sudut pandang mereka, menghargai perbedaan dalam cara berperasaan terhadap berbagai hal. Jangan pula diabaikan pentingnya kemampuan untuk menjadi pendengar dan penanya yang baik kemampuan membedakan antara yang dikatakan ataupun dilakukan seseorang lewat suatu reaksi dan penilaian tertentu. Seni bergaul juga menyangkut kemampuan dalam bekerja sama, memecahkan konflik, membuat kesepakatan. Tak kurang pentingnya adalah kemampuan membaca pikiran emosional; sedih, bahagia, marah, terkejut, benci atau takut.

Jika seseorang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, berarti ia mampu mengendalikan dorongan emosionalnya, pandai membaca perasaan orang lain serta memelihara hubungan baik dengan lingkungannya,. Seperti halnya IQ yang perlu dilatih dan ditingkatkan lewat berbagai bentuk pendidikan, EQ-pun dapat dipertajam, antara lain, lewat pengenalan diri sendiri secara lebih mendalam. Sebagai makhluk sosial, akan lebih baik lagi bila ia memilki sejumlah kemampuan, yang merupakan komponen dasar dari kecerdasan antar pribadi.

Kemampuan yang dimaksud, antara lain :
• Keampuan menjalin hubungan pribadi : keterampilan untuk masuk dalam lingkup pergaulan, termasuk didalamnya keterampilan dalam mengenal dan merespon secara tepat perasaan ataupn keprihatinan orang lain.
• Kemampuan dalam membuat analisa sosial : keterampilan dalam mendeteksi dan memahami perasaan orang lain.
• Kemampuan mengorganisir kelompok : keterampilan esensial bagi seorang pemimpin, menyangkut tindakan mengambil prakarsa dan mengkoordinasi upaya menggerakkan kelompok.
• Kemampuan merundingkan pemecahan : keterampilan khusus yang dimiliki seorang mediator, yaitu mencegah atau menyelesaikan konflik, mengupayakan kesepakata, mengatasi atau menengahi selisih pendapat.

APAKAH EMPATI ITU ???

Akan sangat ideal jika kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dapat diserasikan. Tiadanya keserasian akan menghambat pengendalian diri dan pengendalian emosi seseorang.

Apabila seseorang hanya mengandalkan IQ, sementara EQ rendah, ia akan menemui kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan lingkungannya. Ia cenderung mengharapkan lingkungan “menyesuaikan diri dengan pemikirannya”. Sikap egoistis, mementingkan diri sendiri membuat seseorang menutup telinga, enggan memberikan empatinya. Meskipun ia bukan penderita buta dan tuli, namun ia tidak mampu melihat ataupun mendengar dengan telinga dan mata hatinya.

Agak berbeda dengan simpati, kesadaran untuk memberikan pengertian terhadap pengalaman ataupun perasaan orang lain, empati adalah penyaluran perasaan kita kedalam perasaan orang lain. Apabila kita mendengar seseorang sedang dilanda musibah, dengan menunjukkan empati kita luruh, seolah kita ikut mengalami musibah itu.

Bila seseorang memiliki kemampuan untuk memancarkan empati, ia akan dapat mendekatkan diri dengan pihak mana pun yang membutuhkan empatinya. Dengan gampang ia menyatukan diri dalam satu gelombang pemikiran dengan “penerima empati” dan melakukan yang terbaik untuknya.

Selain memberikan kemampuan kepada seseorang untuk memberikan simpati, kecerdasan emosi selanjutnya akan meningkatkan kemampuan yang bersangkutan untuk memancarkan empati. Pihak yang hanya mementingkan diri sendiri niscaya akan menyebabkan rang lain merasa terganggu dan bosan, sementara mereka yang mampu memancarkan empati akan menjadi sosok yang disenangi oleh orang disekitar.

GAMBARAN MASA LALU BANGSA

1. Stability, predictibality ( stabilitas, kondisi mudah di ramalkan )
2. Size and scale ( dimensi dan berskala )
3. Leadership from the top ( kepemimpinan dari atas )
4. Organization rigidity ( kekakuan organisasi )
5. Control by rules and hierarchy ( pengawasan atas dasar peraturan dan hierarki )
6. Information closely guarded ( informasi dengan pengawasan ketat )
7. Qualitative analysis ( analisa kualitatif )
8. Need for certainty ( kebutuhan atas kepastian )
9. Reactive risk averse ( penolakan reaktif terhadap resiko )
10. Corporate invendence ( kemandirian usaha )
11. Vertical integration ( integrasi vertical )
12. Focus on internal organization ( fokus pada organisasi internal )
13. Sustainable competitive advantage ( keuntungan kompetitif berkelanjutan )
14. Competing for today’s market ( persaingan untuk merebut pasar hari ini )

GAMBARAN MASA DEPAN BANGSA

1. Discontinous change ( perubahan tidak menentu )
2. Speed and responsive ( kecepatan dan tanggap )
3. Leadership from everybody ( kepemimpinan semua pihak )
4. Permanent flexibility ( fleksibilitas menetap )
5. Control by vision and value ( pengawasan atas dasar visi dan sistem nilai )
6. Information shared ( informasi untuk semua pihak )
7. Creativitas, intuisi ( kreativitas, intuisi )
8. Tolerance of ambignity ( toleransi terhadap ketidakpastian )
9. Proactive entrepreneurial ( kewirausahaan proaktif )
10. Corporate interdependence ( interdependensi usaha )
11. Virtual integration ( integrasi maya )
12. Focus on competitive environment ( fokus pada lingkungan persaingan )
13. Consultant reinvention of advantage ( pengupayaan keuntungan secara berkelanjutan )
14. Creating tomorrow market ( menciptakan pasar masa depan )

Apa yang kita perlukan untuk mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri sehingga dapat menjadi motivator bagi bangsa di seluruh dunia ???…
• Mempersiapkan visi, konsep dan teknis praktis yang jelas dalam menghadapi era millennium ini, minimal hingga tahun 2020.
• Program terpadu yang disepakati bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun masyarakat Indonesia baru.
• Fondasi atau landasan yang kukuh untuk menopang visi dan program tersebut, jati diri bangsa yang jelas dan kokoh serta dengan didukung oleh pribadi-pribadi yang berkualitas baik itu dari struktur pemerintahan maupun masyarakatnya.
• Program terpadu menyangkut pembinaan jati diri, moral dan esensi diri baik sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial maupun makhluk yang berketuhanan.

UPAYA-UPAYA YANG PERLU DILAKUKAN

Sebagai respond an sikap proaktif dalam menghadapi situasi dan kondisi saat ini, pembinaan jati diri merupakan suatu upaya strategis dan konseptual yang paling bijak dilakukan.

Apa sesungguhnya yang disebut jati diri?… Jati diri seorang pribadi/bangsa akan tercermin dari penampilan rasa, cipta serta karsa atau sistem nilai ( value system ), sikap pandang ( attitude ), dan perilaku ( behavior ) yang ia miliki. Berbagai unsur berikut ini kiranya dapat dipertimbangkan sebagai landasan jati diri, yang dicoba digali dari kehidupan nyata dalam upaya memelihara nilai-nilai intrinsik kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
1. ketakwaan kepada Tuhan
2. refleksi hati nurani
3. keramahan yang tulus dan santun
4. kebersamaan
5. keuletan dan ketangguhan
6. kecerdasan yang arif
7. harga diri

Ketakwaan kepada Tuhan, sesungguhnya telah mengakar kuat, walaupun seringkali dikaburkan dan kurang dihayati seperti yang seharusnya. Seandainya pembinaan dan ketakwaan kepada Tuhan dilakukan secara lebih mendasar dan benar-benar dilaksanakan secara tepat dengan pendekatan dari bawah ke atas ( bottom up ), berkat Pancasila sebagai ideologi negara rakyat Indonesia niscaya dapat membanggakan diri sebagai bangsa yang berbudi luhur.

Refleksi hati nurani, merupakan cerminan sikap seseorang yang tidak henti-henti mencoba dan mencari tumpuan hati. Benarkah cemooh yang mengatakan bahwa orang Indonesia lebih mendahulukan perasaan, kurang menggunakan akalnya???.

Dalam hal ini, kita tidak perlu berkecil hati kendati komentar ini tidaklah mengada-ada. Seperti telah diuatarakan diatas, ternyata kecerdasan emosi ( EQ ) merupakan elemen sangat penting di samping kecerdasan otak ( IQ ). Seseorang dengan IQ tinggi, tanpa didukung kecerdasan emosi yang memadai, cenderung akan menemui kegagalan dalam hidupnya. Ia harus lebih memahami hati nurani, membina dan menggunakannya secara tepat.

Keramahan yang tulus dan santun, adalah suatu realita dalam kehidupan di daerah pedesaan dengan ciri khas nya dengan keramahan dan kesantunan para warganya. Alangkah baiknya apabila realita kehidupan ini juga di bangun pada masyarakat perkotaan.

Kebersamaan, merupakan ciri utama kndati setiap individu tetap memelihara jati dirinya. Karena dengan adanya factor ini, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya.

Keuletan dan ketangguhan, merupakan unsure yang sangat menentukan pula dalam meraih keberhasilan. Tanpa kedua hal ini, Indonesia dipastikan belum adapt menikmati kemerdekaan pada tahun 1945.

Kecerdasan yang arif, merupakan suatu pendapat yang obyektif tentang bangsa Indonesia. Kita bukan bangsa yang bodoh, bahkan sebaliknya dapat dikategorikan sebagai bangsa yang potensial. Bukankah tidak sedikit putra dan putri bangsa telah memberikan prestasinya dalam bidang pendidikan di luar negeri???

Harga diri, merupakan budaya tua dan luhur, yang diwariskan secara turun temurun yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kenyataan ini selayaknya dipertahankan dan menjadi jati diri bangsa.

Dengan demikian, jika kita simak secara menyeluruh di setiap Nusantara ini, maka dapat dianggap sebagai suatu kebenaran ditemukannya persamaan yang menunjukkan adanya sifa-sifat berikut ini :

– Religius
– Ramah-tamah
– Gotong royong

Kiranya ketiga hal ini dapat merupakan format Jati Diri Bangsa yang dapat ditumbuh kembangkan.

Semoga Bangsa ini dapat mempercepat prosesnya MENUJU NUSANTARA JAYA.

( Syair dalam An Anglican Bishop, ditulis dalam The Crypts of Wetminister Abbey, Diterjemahkan oleh Rita Oetoro-1999 )

KEHENDAK UNTUK BERUBAH

Ketika diriku muda dan bebas,
Dan angan-anganku tanpa batas,
Aku berniat mengubah dunia.

Seiring diriku tumbuh dan lebih bijak,
Kudapati dunia tak kunjung berubah,
Maka kusederhanakan wawasan dan kuputuskan,
Hanya mengubah negeriku,
Namun tampak sia-sia,

Saat diriku menapak tahu-tahun senjakala,
Dalam suatu tekad penghabisan,
Kutetapkan untuk mengubah keluargaku saja,
Mereka yang akrab denganku,
Namun apa daya, mereka menolak

Dan kini saat terbaring diriku iranjang kematian,
Barulah aku menyadari,
Seandainya saja aku mengubah diriku sendiri,
Sebagai teladan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku,

Dengan keteladanan, kegigihan dan kobaran semangat mereka,
Pasti aku bisa memperbaiki negeriku dan
Siapa tahu, diriku bahkan berhasil mengubah dunia.

Salam untuk semuanya,
MARI KITA PERSIAPKAN DIRI MENUJU NUSANTARA JAYA

2 Komentar (+add yours?)

  1. mrsabdopalon
    Mar 27, 2009 @ 11:53:44

    Salam untuk semuanya,….

    Silahkan tuangkan ide dan konsep2 anda, guna membangun NUSANTARA JAYA….

    Terima Kasih sebelum dan sesudahnya.

    Mudah-mudahan Bangsa ini cepat bangkit menuju MASYARAKAT YANG ADIL DAN MAKMUR…
    GEMAH RIPAH LOH JINAWI…, AMIN

    Salam

    Balas

  2. mrsabdopalon
    Apr 09, 2009 @ 09:33:46

    GOD BLESS YOU……….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: