BUDAK ANGON MENURUT NASKAH UGA WANGSIT SILIWANGI

BUDAK ANGON MENURUT NASKAH UGA WANGSIT SILIWANGI

Wangsit Siliwangi:
“Suatu saat nanti, apabila tengah malam terdengar suara pembawa panji, nah itu adalah tandanya.”
Sosok “Satrio Piningit” memang masih misterius. Banyak sudah yang mencoba untuk menemukannya dengan caranya sendiri-sendiri. Alhasil, ada yang yakin telah menemukannya, bahkan juga ada yang mengaku dirinyalah si Satrio Piningit tersebut. Apabila diteliti maka sosok yang telah ditemukan itu masih bisa diragukan apakah memang dia si calon Ratu Adil?

Budak Angon atau “Penggembala” sesungguhnya merupakan konsepsi tentang kehidupan dan kemanusiaan. Dalam konteks diri manusia, Budak Angon merupakan konsep tentang penemuan jati diri dan pengendalian diri untuk apa sesungguhnya kita dicipta. Selain jasad kita yang sesungguhnya hanyalah “tunggangan” yang harus ditundukkan, dikendalikan, dan diarahkan melalui proses “penggembalaan”, dalam diri kita juga terdapat kumpulan “sasatoan” yang tidak untuk dimatikan melainkan untuk digembalakan sehingga menjadi potensi dan energi positif bagi penemuan misi hidup kita.

Dalam konteks kehidupan sesama, Budak Angon menjelaskan suatu upaya dan proses “penertiban”, pembangunan kesadaran, serta pengarahan hubungan antarsesama yang dilandasi cinta dan kasih sayang. Suatu tatanan kehidupan yang lebih berkeadilan. Dalam konteks sosok, pribadi-pribadi yang bekerja keras dalam upaya dan proses yang demikianlah disebut Budak Angon.

Keragu-raguan yang muncul mendorong untuk menelaah dan mempelajari kembali apa yang telah diungkapkan dalam naskah-naskah leluhur mengenai sosok Satrio Piningit sejati. Salah satu naskah yang biasa kita gunakan sebagai rujukan yaitu Uga Wangsit Siliwangi. Siliwangi dalam Ugo Wangsitnya menyebut si calon Ratu Adil dengan sebutan Bocah Angon atau Pemuda Penggembala. Beberapa hal yang disebutkan dalam Ugo Wangsit Siliwangi mengenai Bocah Angon yaitu :
1. Suara minta tolong.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara para pembawa panji, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné.” Kata “suara minta tolong” sepertinya sama dengan ungkapan Joyoboyo dalam bait 169 yaitu “senang menggoda dan minta secara nista, ketahuilah bahwa itu hanya ujian, jangan dihina, ada keuntungan bagi yang dimintai artinya dilindungi anda sekeluarga“.

Bocah Angon di awal kemunculannya akan beraksi melakukan hal-hal sebagai pertanda kedatangannya. Salah satunya adalah meminta tolong kepada orang di sekitar daerah Gunung Halimun. Tidak jelas mengapa dia minta tolong kepada orang lain, apakah dia dalam kesulitan ataukah keperluan lainnya. Yang pasti bila telah terjadi hal demikian berarti itu pertanda akan kemunculannya.

Sementara dikaitkan dengan Ramalan Joyoboyo paba bait 169 disebutkan bila Bocah Angon tersebut “suka minta secara nista sebagai ujian”. Kalimat tersebut mengindikasikan bahwa minta tolong itu hanya sebatas ujian bagi yang dimintai pertolongan. Ujian apakah itu? belum diketahui ujian apa yang suka dilakukan Bocah Angon pada orang. Sebaiknya kita tunggu saja kejadiannya.
2. Mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala.” Kata terlanjur dilarang ini apa maksudnya? Apakah dilarang dalam mengungkap fakta-fakta, ato dilarang meluruskan sejarah? sepertinya masih butuh penafsiran lagi.

Yang pasti Bocah Angon sepertinya tidak peduli dengan larangan pemimpin. Bahkan bukan hanya tidak peduli dengan larangan tersebut, tetapi lebih dari itu Bocah Angon melawan larangan si pemimpin itu sambil tertawa. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan si pemimpin bila dilawan sambil tertawa. Bisa-bisa Bocah Angon dalam situasi bahaya nih karena kerjanya selalu melawan sang pemimpin pengganti.

Kata banyak yang ditemui sebagian-sebagian karena terlanjur dilarang pemimpin baru, menunjukkan bahwa yang akan ditemukan masyarakat memang hanya sebagian saja. Oleh karena sebagian saja maka yang ditemukan tersebut belumlah lengkap dan tentunya belum sempurna hasilnya. Tetapi tidak bagi Bocah Angon, dia terus saja mencari sambil melawan. Bisa jadi temuan si Bocah Angon ini kelak merupakan temuan yang paling lengkap dan mendekati kebenaran.
3. Dia gembalakan ranting daun kering dan sisa potongan pohon.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”

Bocah Angon memiliki kebiasaan mengumpulkan daun dan ranting. Kata daun dan ranting yang disebutkan Uga Wangsit Siliwangi dalam bahasa asli Sundanya yaitu “Kalakay jeung Tutunggul“. Kalakay merupakan daun lontar yang biasa digunakan oleh orang kita pada jaman dulu kala sebagai lembaran daun untuk menulis. Sementara Tutunggul merupakan ranting pohon yang biasa digunakan orang kita pada jaman dulu kala sebagai pena untuk menulis. Sehingga Kalakay dan Tutunggul bisa diartikan sebagai kertas dan pena.

Si Bocah Angon ini memiliki kegemaran suka menggembalakan kertas dan pena. Dia terus mengumpulkan dan mengumpulkan kedua barang tersebut sebagai gembalaannya. Tidak jelas kenapa dia suka menggembalakan kertas dan pena. Kata mengumpulkan itu berarti kertas dan pena tersebut tidak hanya 1 buah, tetapi jumlahnya banyak dan itu menjadi barang kegemarannya.

Selanjutnya disebutkan “Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian“. Kalimat tersebut bisa berarti bahwa Bocah Angon menggembalakan kertas dan pena untuk menemukan sejarah dan kejadian. Ntah sejarah dan kejadian apa yang dia kumpulkan, tetapi bisa dimengerti bahwa di Nusantara banyak sekali sejarah yang dirubah, mungkin hal tersebut bisa juga terkait dengan pelurusan sejarah kita.

Dia akan terus mengumpulkan sejarah dan kejadian-kejadian penting tentunya untuk menyelesaikan masalah di Nusantara. Wajar saja bila sejarah ditelusuri karena memang untuk menyelesaikan suatu masalah tidak bisa tidak harus mengetahui awal sejarahnya bagaimana bisa terjadi. Dengan kegemarannya menelusuri sejarah dan kejadian yang dituangkan dalam kertas dan pena tersebut kelak masalah di Nusantara akan bisa dibereskan dengan mudah. Semoga.
4. Rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu”. Kata di ujung sungai menunjukkan bahwa rumah Bocah Angon letaknya berada dekat dengan hulu sungai. Siliwangi tidak memberikan gambaran berapa jarak antara rumah dengan sungai tersebut. Bisa jadi hanya beberapa meter dari sungai, tetapi bisa jadi puluhan meter dari sungai.

Siliwangi juga tidak menyebutkan nama dari sungai tersebut sehingga rada menyulitkan untuk menentukan letak sungainya. Di Jawa terdapat banyak sekali sungai membentang dari utara hingga selatan. Dan rata-rata di pinggir sungai terdapat banyak rumah penduduk dan ini tentunya sangat menyulitkan untuk menentukan letak sungainya yang sesuai kata Siliwangi. Namun yang pasti Bocah Angon rumahnya dekat sungai sehingga bila ada yang mengaku dirinya Bocah Angon tetapi rumahnya jauh dari sungai berarti itu tidak sesuai dengan Ugo Wangsit Siliwangi.

Kemudian untuk kata pintunya setinggi batu masih perlu dipertanyakan, apakah atap rumahnya terbuat dari batu? dan juga apakah pintu rumahnya juga terbuat dari batu? kok seperti rumah nenek moyang kita dulu. Bisa jadi demikian tetapi mungkin juga tidak demikian.
Kalimat tersebut bisa dipahami bahwa rumah Bocah Angon tidak hanya 1 lantai, namun bertingkat rumahnya. Hal ini diperkuat dengan ungkapan Joyoboyo dalam bait 161 yaitu “berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga“. Dari ungkapan Joyoboyo menunjukkan ada 3 lantai rumah dari Bocah Angon. Tentunya bukan rumah biasa, bisa jadi rumah tingkat ekonomi menengah atau memang Bocah Angon dari keluarga kaya? belum bisa dipastikan.

Oleh karena untuk membuat suatu rumah yang bertingkat dengan bahan semen untuk lantai 2nya, maka dari bahan semen yang padat otomatis akan membentuk batu yang keras. Sehingga bisa dipahami bila pintu lantai pertama akan setinggi batu (setinggi cor semen lantai 2). Memang kebanyakan rumah orang yang bertingkat pintunya pasti akan setinggi lantai 2, tepat di bawah cor semen yang telah menjadi batu tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa rumah Bocah Angon memang bertingkat yang pintunya setinggi lantai tingkat 2-nya.
5. Tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang”. Kata rimbun oleh pohon Handeuleum dan Hanjuang berarti di depan rumah Bocah Angon terdapat 2 pohon yang sangat subur dan menjadi ciri khas rumahnya. Dalam hal ini hanya disebutkan 2 buah pohon saja, artinya memang hanya ada 2 buah pohon di depan rumahnya sebagai pembeda dari rumah lainnya.

Apabila ditelusuri kedua jenis pohon tersebut dalam istilah bahasa Indonesianya memang belum diketahui apa namanya. Kedua kata tersebut sepertinya bahasa kuno dari daerah Sunda tempat Siliwangi berada. Hingga kini belum ada pihak yang merasa mengetahui kedua jenis pohon tersebut. Bahkan orang-orang asli Sundapun juga mengaku tidak mengetahui kedua jenis pohon itu. Kita tunggu saja kelak akan kita ketahui juga.

Sementara itu beberapa kalangan justru menafsirkan kata Handeuleum dan Hanjuang sebagai simbol saja. Benarkah kedua pohon itu sebenarnya bukan pohon hidup di atas tanah, tetapi sekedar simbol saja? Coba anda lihat kembali Siliwangi menyebut Pemuda Penggembala dengan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon.”

Kata pemuda penggembala itu cuma simbol dari Siliwangi. Kemudian simbol tersebut dijelaskan bila yang digembalakan bukan binatang, tetapi daun dan ranting. Sementara kata Handeuleum dan Hanjuang tidak ada kalimat penjelasan selanjutnya. Sehingga kedua kata tersebut dapat dipastikan memang dua buah pohon yang tumbuh di atas tanah. Apabila simbol tentunya Siliwangi akan menjelaskan maksudnya.

6. Pergi bersama pemuda berjanggut
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Siapakah pemuda berjanggut itu? Penyebutan pemuda berjanggut ini masih perlu dipertanyakan. Apakah pemuda tersebut merupakan kerabat atau keluarga atau teman ataukah pengasuh si Bocah Angon? Belum jelas diketahui karena memang dalam Ugo Wangsit Siliwangi tidak menyinggung mengenai hal tersebut.

Dalam naskah-naskah lain memberitahukan bahwa Ratu Adil memiliki pengasuh yaitu Sabdo Palon. Mungkinkah pemuda berjanggut tersebut adalah Sabdo Palon? Sepertinya tidak karena Sabdo Palon merupakan sosok Jin, sementara penyebutan kata pemuda menunjukkan dia adalah manusia. Jadi pemuda berjanggut bukanlah Sabdo Palon.

Misteri ini masih sulit untuk diungkap yang sebenarnya. Pada saat Bocah Angon masih menjadi sosok yang misteri, pada saat yang sama pula ada sosok lain yaitu pemuda berjanggut yang jati dirinya juga masih misteri. Namun yang pasti pemuda tersebut memiliki janggut dan kelak akan kita ketahui setelah tiba waktu kemunculan Bocah Angon.
7. Pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Bocah Angon sepertinya tidak akan ditemukan sebelum kemunculannya. Ketika orang-orang sudah menemukan rumahnya yang di ujung sungai, dia telah pergi bersama pemuda berjanggut ke Lebak Cawéné.

Siliwangi tidak menyebutkan kemudian orang-orang akan berhasil menemukan Bocah Angon di Lebak Cawéné setelah gagal menemukan di rumahnya. Tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit Siliwangi. Karena tidak ada kata itu maka bisa disimpulkan bahwa jarak antara rumah dengan Lebak Cawéné tidak dekat bahkan mungkin sangat jauh.

Siliwangi juga tidak menyebutkan setelah pergi ke Lebak Cawéné si Bocah Angon kemudian kembali lagi ke rumahnya. Karena tidak ada kalimat yang menyebutkan hal tersebut berarti Lebak Cawéné merupakan tempat baru yang ditinggali Bocah Angon setelah rumahnya yang di ujung sungai di tinggal pergi. Apabila Bocah Angon kembali lagi ke rumahnya yang di ujung sungai, maka tentunya Siliwangi akan menyebutnya berhasil ditemukan di rumahnya. Sudah pasti bila orang telah menemukan rumahnya maka akan ditunggui kapan kembalinya. Tetapi ternyata tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit Siliwangi.

Sampai saat ini belum diketahui dimana letak Lebak Cawéné berada. Dalam peta Jawa maupun peta Indonesia, tidak ada daerah yang diberi nama Lebak Cawéné. Oleh karena namanya yang masih asing inilah maka banyak kalangan menafsirkan menurut keyakinannya masing-masing.

Ada yang menafsirkan Lebak Cawéné berada di lereng sebuah gunung. Ada juga yang mengatakan berada di petilasan Joyoboyo. Yang lain mengatakan berada di tempat yang ada guanya dan sebagainya membuat semakin tidak jelas saja letak Lebak Cawéné dimana. Tetapi apabila anda meyakini sebuah tempat merupakan Lebak Cawéné, maka bisa dipastikan anda akan memaksakan kehendak untuk menentukan 1 orang di daerah tersebut sebagai calon Ratu Adil. Wah jadi kasian pada orangnya kena sasaran.

Ketahuilah bahwa Siliwangi tidak menyebutkan Bocah Angon akan berhasil ditemukan di Lebak Cawéné. Di sisi lain Siliwangi juga tidak memberikan ciri-ciri Lebak Cawéné yang dia katakan sehingga mustahil Lebak Cawéné bisa diketahui sebelum Ratu Adil muncul, kecuali anda lebih sakti dari Siliwangi. Kemampuan sama dengan Siliwangi aja tidak mungkin apalagi lebih tinggi dari Siliwangi, jelas tidak mungkin lagi.
8. Gagak berkoar di dahan mati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati”. Kata Gagak berkoar mungkinkah memang burung Gagak yang suka berkicau, ataukah itu merupakan simbol saja.

Banyak kemungkinan mengenai Gagak berkoar tersebut. Namun dalam naskah-naskah lain seperti yang diungkap Ronggowarsito dan Joyoboyo bahwa Bocah Angon sebelum menjadi Ratu Adil hidupnya menderita, dia sering dihina oleh orang. Apabila dikaitkan dengan hal tersebut maka Gagak berkoar itu bisa juga diartikan sebagai orang-orang yang suka menghina si Bocah Angon.

Oleh karena hidupnya yang selalu saja dihina orang, maka akhirnya Bocah Angonpun pergi meninggalkan rumahnya. Kemudian dia bersama pemuda berjanggut menuju ke Lebak Cawéné untuk membuka lahan baru disana. Semua mencari tumbal bisa saja diartikan sebagai mencari berita dan ketika yang dicari si Bocah Angon sudah tidak ada, maka tidak bisa tidak mencari berita dari para Gagak yang berkoar tersebut.
9. Ratu Adil sejati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.” Kita disuruh Siliwangi untuk mencari Bocah Angon, karena dialah yang kelak akan menjadi Ratu Adil sejati.
Sepertinya SIliwangi bermaksud memberikan pesan untuk berhati-hati dalam mencari Bocah Angon. Hal ini dikarenakan banyak sekali Bocah Angon palsu akan bermunculan di Jawa ini. Kemunculan Bocah Angon palsu bisa jadi karena dukungan orang lain akan dirinya sehingga dipaksa cocok menjadi Ratu Adil, tetapi juga bisa jadi karena terburu-buru meyakini dirinyalah si Bocah Angon.

Lihatlah saat ini telah banyak terdengar dimana-mana dari Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur, orang-orang yang muncul diyakini sebagai Ratu Adil. Bahkan juga bermunculan dimana-mana orang yang mengakui dirinyalah Ratu Adil tersebut. Apabila dimintai bukti maka orang-orang tersebut akan mencocok-cocokkan diri dengan naskah-naskah yang ada untuk meyakinkan orang. Padahal kenyataan tidak semuanya cocok.

Untuk itulah Siliwangi berpesan agar kita mencari Ratu Adil sejati, karena Ratu Adil sejati hanya satu sementara Ratu Adil palsu banyak sekali. Walaupun banyak Ratu Adil palsu, hal itu tidak akan mengubah kepastian munculnya yang asli. Apabila yang asli telah muncul maka semua akan terbukti mana yang asli dan mana yang palsu sesuai kata Siliwangi “Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.”

Demikianlah beberapa hal mengenai Bocah Angon sesuai yang disebutkan dalam naskah Ugo Wangsit Siliwangi. Siliwangi sengaja tidak begitu jelas menggambarkan si Bocah Angon dalam naskahnya sehingga sangat menyulitkan kita untuk menemukannya. Kesengajaan ini dimengerti karena memang akan banyak pihak-pihak yang tentunya menghalangi kemunculan Ratu Adil dengan berbagai alasannya.

Pada saat Siliwangi tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai Bocah Angon. Di waktu yang sama pula kita disuruh untuk mencari si Bocah Angon tersebut, memangnya kita ini terlahir sebagai detektif semua. Namun yang pasti kelak akan diketahui juga mana Ratu Adil palsu dan mana Ratu Adil yang sejati tentunya setelah tiba waktu kemunculannya. Untuk itu baik ditunggu, dicari maupun tidak sama sekali sepertinya hasilnya tetap sama. Waktunya akan segera tiba.

MENELISIK TABIR JEJAK SEJARAH YANG HILANG…

MENELISIK TABIR JEJAK SEJARAH YANG HILANG…

KERAJAAN PAJAJARAN SILIWANGI

( Jilid I )

Dalam Catatan ‘Uga’

JAKARTA,  MEI 2011

 

 

DAFTAR ISI :

 

-         PENDAHULUAN

-          KEBERADAAN NAMA PAJAJARAN

-          KONDISI ALAM

-          SIAPA SILIWANGI..???

  – KISAH……SRIBADUGA MAHA RAJA

      PRABU SILIWANGI…

-          PERJALANAN SILIWANGI

-          TEMPAT

-          PEREBUTAN KEKUASAAN BOROBUDUR

-          RAMALAN PRABU SILIWANGI

-          PENUTUP

 

 PENDAHULUAN

Hampir semua pegunungan di Tatar Sunda ini menjadi tempat hunian para leluhur Pajajaran antara lain, Gunung Munara, Gunung Galuh, Gunung Kapur Ciampea, Gunung Gede, Gunung Ceremai, Gunung Slamet serta Gunung Padang. Selain itu pegunungan lainnya di luar Pulau Sunda, juga banyak mencatat riwayat tentang Siliwangi yang menjadi tokoh Pajajaran. Rupanya pegunungan menjadi suatu tempat yang mengesankan dengan alasan tertentu.

Dilain pihak Siliwangi juga menyukai gua, atau lembah yang mendekati aliran sungai. Oleh karena itu, Siliwangi telah mengukir sejarah di wilayah, seperti ; Batutulis, Kutamaneh/Kutawesi, Pasir Angin, Cengkuk, Cangkuang, yang merupakan tempat awal penyebaran keturunannya sebelum ke seantero Nusantara.

Tentunya kondisi tempat-tempat tersebut di atas, jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Dahulu kala keadaan alam masih hutan lebat, mungkin juga bagai savanna tanpa pepohonan !. Tetapi yang akan diuraikan disini tentang kehadiran manusia yang berhubungan dengan tabir adanya Siliwangi. Walaupun bersifat legenda, kiranya nama tempat maupun nama tokoh menjadi alasan kuat adanya untaian riwayat yang perlu dikenali oleh keturunannya.

Selain itu pula, masih banyak lokasi yang belum terungkap di belahan jagat raya ini yang pernah di jelajahi Siliwangi. Tetapi banyak kendala, karena nara sumber yang sulit mengungkap, juga sejarah Siliwangi tidak sembarang orang dapat menuturkan secara batiniah maupun artifak. Sehingga diakui, memakan waktu lama untuk membuktikan minimal mendekati kejelasan riwayat Siliwangi.
Walaupun demikian, sebagai penghormatan kepada leluhur yang menjadi nenek moyang, marilah coba mengungkap secercah kisah Siliwangi. Sebab bagaimanapun juga nama Siliwangi bagi rakyat tatar Sunda sangat erat kaitannya dengan nama kebesaran daerah, maupun dengan kharisma Siliwangi. Oleh karena itu, apabila hendak menuturkan kisah Siliwangi, maka harus dari sumber yang berkompeten sebab tidak mustahil akan menjadi polemik dan cerita yang usang dikalangan rakyat serta anak keturunan Siliwangi. Bahkan mungkin tidak diridoi oleh obyeknya. Dalam pengungkapanpun harus orang yang tepat dan memiliki warisan sejarah, serta mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf lingga sangkala, kawi, sanksekerta, maupun bahasa “karuhun”.

Dan jika menyimak Siliwangi, sebaiknya harus identik dengan zaman purba dan bebatuan. Sebab latar belakang pada zamannya selalu meninggalkan jejak batu-batuan, gua, dan batu bertulis yang merupakan tanda warisnya. Namun menurut orang tua dulu, semua peninggalan itu di awali dari Rumpin dan Ciampea. Karena, dari sanalah awal Siliwangi digelar ke alam persada ini.

KEBERADAAN_NAMA_PAJAJARAN

Nama Siliwangi banyak dihubungkan dengan nama Tarumanegara maupun dengan nama Sunda atau nama Pajajaran. Hanya disini akan disinggung nama Pajajaran saja, karena nama Pajajaran mungkin yang paling tepat dan sangat berarti. Namun, bukan nama lainnya di abaikan. Hanya saja, Taruma disebut karena dikawasannya banyak pohon tarum. Kemudian nama Sunda pun, karena alasan masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda. Jadi nama Taruma maupun Sunda, hanya sebutan (katelah, bahasa Sunda) karena kondisi keadaan zaman itu.

Sedangkan nama Pajajaran, lebih berkesan terhadap hasil upaya Sang Pemimpin. Menurut “orang tua” nama Pajajaran adalah nama jajaran. Sama halnya dengan adanya seorang bapak, ibu dan anak. Itulah sinonim Pajajaran. Atau dengan kata lain jajaran atau jejeran anak-cucu dan keturunannya. Sedang nama Siliwangi adalah nama gelar, untuk setiap anak-cucu keturunan dari Pajajaran. Namun tidak semua anak-cucunya bisa dikatakan Siliwangi, tentunya hanya kepada anak-cucu tertentu yang pantas dan menjadi pemimpin (Kokolot, bahasa Sunda) di tiap wilayah tertentu.

Tahun berapa adanya kehidupan masyarakat Pajajaran ?. Salah satu patokannya, angka 081 sebagaimana tertera pada batu makam Sangiyang Sungging Prabangsa di Cikembar Sukabumi. Menurut “orang tua” angka tersebut merupakan tahun sebelum masehi. Hal itu menunjukkan, bahwa Siliwangi pada zamannya telah mengukir budaya tulis yang ada di Batutulis, di Cicatih maupun di Kawali sebagai ilustrasi bagi generasi berikutnya.

Dan konon nenek moyang tersebut, mulai menulis dengan mempergunakan jemari ujung kuku. Kuku yang kita kenal merupakan tanda ”doraka” dan dari sisa jasad kulit manusia ketika diciptakan itu, ternyata ampuh dan tajam terhadap batu sekalipun. Malah menurut informasi orang tua, tentang angka dan bahasa pun banyak dipelajari dari alam.

Huruf Lingga Sangkakala dari Gunung Bentang
Tulisan pada batu itu dikenal dengan istilah aksara ”Lingga Sangkala” dalam situasi zaman sengsara atau zaman prihatin itu istilahkan ”Mikrob Kolbu”. Nah ! dari situasi ”Mikrob Kolbu” itulah, orang tua dulu mempelajari dan meniru huruf yang ada di dedaunan maupun buah-buahan. Bahkan sampai sekarang dari daun dan buah itu tetap masih ada, walau hanya berupa garis ikal dan berliku. Tetapi, tetap mirip dengan tulisan yang dibuat orang tua dulu. Sedangkan tentang fungsi lain dari kuku, akan dibahas selanjutnya.

KONDISI_ALAM

Pada zaman itu, kebudayaan manusia masih serba purba dan primitif. Alat maupun perkakas untuk menunjang kehidupannya sangat sederhana sekali. Adapun yang mereka ciptakan mula-mula, kampak, pisau maupun tombak. Semuanya dipergunakan sebagai alat berburu, tetapi juga dipergunakan sebagai senjata. Kenapa harus senjata dulu yang dibuat dan dimiliki ?. Senjata menjadi penting, karena unt indungi dari ancaman binatang buas, maupun sebagai alat berburu untuk kebutuhan makan.

Jika demikian beralasan, karena keadaan alam pada zaman itu masih didominasi hutan belantara, sehingga binatang buas bebas hidup berkeliaran. Maka wajar setiap manusia mempersenjatai diri untuk melindungi dirinya.

Pada zaman itupun, belum ada logam besi. Walaupun sebenarnya bahan besi ada di tanah pegunungan maupun laut, tetapi manusia belum memiliki teknologi untuk memprosesnya menjadi lempengan besi. Jadi, manusia dahulu kala hanya mengandalkan alat seadanya. Mereka membuat senjata dari batu, kayu maupun dari tulang belulang binatang yang dibuat runcing sehingga menyerupai tombak, kampak atau pisau.

Meskipun keadaan alam yang ganas, kodrat sebagai manusia memerlukan makan dan minum. Maka untuk memperoleh kebutuhannya, manusia harus ikhtiar dengan cara apapun. Lagi-lagi dengan belajar terhadap kondisi alam yang ada saat itu. Mereka belajar dari alam. Antara lain, memperhatikan bagaimana harimau dapat menaklukan mangsa dengan kuku dan gigi yang tajam. Sehingga sekalipun mangsanya lebih besar, tetapi harimau dapat menaklukan dan bahkan dapat merobek daging mangsanya untuk disantap.

Dari salah satu kasus itulah, rupanya menjadi pelajaran bagi manusia tempo dulu. Dengan kuku itu pula manusia meniru, sehingga kuku mereka dipelihara dan dibuat setajam mungkin. Dengan kuku yang tajam itulah, mereka seolah-olah memiliki kekuatan untuk berburu. Mereka dapat memperoleh hasil perburuan untuk kelangsungan hidupnya. Mereka amat menikmati daging mentah, bahkan sekaligus bisa menghirup air darah serta memanfaatkan kulit binatang.
Apabila yang mereka peroleh buruan kijang atau domba, maka menjadi keburuntungan berlipat ganda yaitu dapat daging dan kulitnya. Sebab kulit hewan tersebut, mereka gunakan untuk menutupi anggota badan agar terhindar dari udara dingin maupun kondisi panas.

Sejak itulah mereka mulai dapat membedakan keadaan badan yang ditutupi kulit binatang dengan kondisi badan tanpa ditutupi. Sehingga dari pengalaman itulah mereka mulai mencari alternatif selain kulit binatang, yaitu pelepah pohon pinang (Upih, bahasa Sunda). Ternyata upih menjadi keperluan dan pilihan mereka untuk menutupi auratnya. Dengan upih itulah mereka nampak tidak telanjang sama sekali, malah terlihat seperti berbusana ala kadarnya.

Budaya menutupi aurat sejak itu mulai berkembang, walaupun sangat sederhana. Coba bayangkan bagaimana sosok orang tua dulu ! dengan badan tinggi besar, kuku panjang dan tajam, serta rambut panjang gimbal tak terurus, lantas tanpa penutup badan pula. Nampaknya terlihat menyeramkan, bukan ?!.

SIAPA_SILIWANGI..???

Siliwangi ketika lahir bernama ”PANCAWALA”, ayahnya bernama ”Sangiyang Dewa MURBA” atau ”Nirwana Sangiyang Domas Siliwangi” dan ibunya bernama ”Nyi Sri Dewi Pohaci” dikenal pula dengan nama ”SUNAN AMBU”. Beliau memiliki ageman ilmu ”CANGKOK WIJAYA KUSUMA”. Jadi nama Siliwangi sudah ada dari nama orang tuanya yaitu : Nirwana Sangiyang Domas Siliwangi, jadi nama Siliwangi bukan nama baru atau telahan. Sehingga kepada keturunannyapun, tetap digunakan sebab nama itu sama dengan bin atau alias.

Mengenai sosok Siliwangi, ada pendapat mengatakan menyerupai harimau. Hal itu tidak tepat, jika Siliwangi yang dilambangkan ibarat harimau. Sebab harimau malah menjadi hewan ”mainan” dan kesayangannya. Dan harimau itu sendiri dapat dikepit sebelah tangannya. Jadi dapat dibayangkan sebesar apa orang tua dulu kala ?, karena antara Siliwangi dengan harimau seperti sekarang layaknya orang dewasa mengangkat seekor kucing ?. Jadi sebenarnya jika Siliwangi dikatakan harimau hanyalah mitologi. Mungkin juga mengandung arti bahwa, harimau adalah raja hutan yang ditakuti dan disegani oleh binatang hutan lainnya.

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa kehidupan Siliwangi ibarat angin, bagai kilat dan penuh petualangan. Walau demikian, tidak mustahil Allah SWT menciptakan Siliwangi tanpa perencanaan, pasti dibalik itu ada kehendak Allah menciptakan umatnya.

Pada zaman itu, makanan umumnya bersumber dari bahan mentah mungkin termasuk daging menyebabkan keringat berbau tak sedap. Namun bagi Pancawala tidaklah demikian, beliau tetap harum dan wangi. Karena selalu menikmati daging maupun lauk pauk, terlebih dahulu dibakar atau dijemur matahari. Sedangkan yang menjadi sumber api dari batu megalit maupun sumber panas lahar gunung. Oleh karena itulah, ketika Siliwangi berada di Rumpin selalu memanfaatkan panas belerang gunung kapur Ciseeng. Ketika menetap di Halimun, mempergunakan sumber aliran Cipanas Cisolok. Sewaktu di Gunung Padang senantiasa menggunakan sumber belerang yang ada di Ranca Suni lembah Gunung Patuha. Selain itu pula, Ciater, kawah Tangkuban Perahu, Gunung Pancar maupun kawah Kamojang, merupakan petilasannya juga. Bahkan Gunung Pancar di jadikan tempat ’Panembongan Tatar Sunda”.

Banyak tempat dan sumber panas gunung lainnya dijadikan tempat mengolah daging dan ikan untuk hidangan makanannya. Oleh karena itu, beliau tidak menyantap daging maupun ikan mentah yang menyebabkan badan bau tak sedap. Dari perbedaan itulah, tubuh Pancawala tetap harum dan wangi. Dikalangan manusia purba, ia sudah dikenal dengan sebutan Siliwangi.

Panggilan atau sebutan penggunaan nama Siliwangi, adalah atas restu dan perintah leluhurnya. Hal itu menjadi kebiasaan kepada anak keturunannya, jika diberikan gelar. Seperti ketika Aji Saka yang diberi gelar Siliwangi diawali di daerah Tomo – Kadipaten. Tempat itu bernama Marongge berada di kawasan Gunung Congkrang atau Gunung Parang Sumedang. Disana terdapat aliran sungai Cihaliwung dengan Cilutung merupakan tempat bersejarah untuk menggunakan nama Siliwangi, bahkan Cilutung diberi nama ”Air Ludah Braja”, dan disekitar Marongge ditandai dengan batu yang diberi nama ”Mus Sang Geni”. Tetapi, Haji Kyai Santang sendiri selaku putra keturunan Siliwangi tidak menggunakan nama Siliwangi. Jadi tidak semua menggunakan nama Siliwangi. Bahkan Ciung Wanara sebagai generasi kedua Siliwangi yang memiliki nama Adi Sakti jarang menggunakan gelar Siliwangi.

“KISAH……SRIBADUGA MAHA RAJA PRABU SILIWANGI…”

“…Tersebutlah seorang Raja di Bumi Jawa Barat yang namanya tetaplah legendaris hingga saat ini. Dan Raja itu bernama Sri Baduga Maharaja Prabu SILIWANGI. Berdasarkan Keterangan dari Prasasti Batu Tulis yang terdapat di Jalan Batu Tulis Bogor. Beliau memerintah Bumi Jawa Barat selama kurang lebih 39 tahun, terhitung sejak tahun 1482 hingga 1521 Masehi, dengan nama kerajaannya adalah Galuh Pakuan PADJAJARAN. Saat ini nama GALUH PAKUAN PADJAJARAN bekas nama Kerajaan Sunda yang dulu beliau pimpin itu, oleh pemerintah pusat tetaplah di abadikan dengan menjadikannya sebagai nama dari sebuah Universitas Negeri di kota Bandung yaitu Universitas PADJAJARAN dan juga Universitas PAKUAN Bogor. Dan bukan hanya itu saja kebesaran nama Prabu SILIWANGI pun di abadikan secara Monumental sebagai Simbol Perjuangan Rakyat Jawa Barat melalui Divisi SILIWANGI Tentara Nasional Indonesia Korps Angkatan Darat. Yang sekarang di sebut Kodam III SILIWANGI. Menurut para ahli sejarah di masa pemerintahan beliau Prabu SILIWANGI, jumlah populasi penduduk Ibu Kota PAKUAN Kerajaan PADJAJARAN Jawa Barat adalah kurang lebih 48.271 Jiwa. Dan menempati urutan no 2 terbanyak jumlah penduduknya dari seluruh jumlah penduduk yang tinggal di Ibu Kota – Ibu Kota Kerajaan di Nusantara. Sedangkan Kerajaan dengan jumlah populasi penduduk Ibu Kotanya menempati urutan Pertama sekaligus terbesar di Nusantara kala itu adalah Ibu Kota Trowulan MAJAPAHIT di Jawa Timur.

“…Candi CANGKUANG…” Situs Peninggalan Kerajaan Padjajaran di Garut Jawa Barat.

Dengan jumlah penduduknya yaitu 49.197 Jiwa. Di masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Prabu SILIWANGI 1482 – 1521 Masehi Kerajaan Galuh Pakuan PADJAJARAN mencapai puncak masa KEJAYAANNYA. Dengan Pelabuhan Niaganya SUNDA KELAPA serta wilayahnya yang meliputi seluruh Jawa Barat, Selat Sunda hingga Pegunungan Dieng Wonosobo Jawa Tengah. Kerajaan Galuh Pakuan PADJAJARAN menjadi sebuah negara yang sangat di perhitungkan oleh segenap Kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.Jadi tak heran jika di masa itu Pelabuhan Niaga SUNDA KELAPA yang kini merupakan salah satu pelabuhan kota JAKARTA, menjadi Pusat jalur lalu lintas PERDAGANGAN dan IMIGRASI berbagai Bangsa Asing dari Mancanegara ke Pulau JAWA. Pelabuhan-pelabuhan laut yang menjadi pusat perniagaan saat itu di antaranya adalah : Banten, Pontang, Cigede, Tamgara ( Muara Cisadane ), Sunda Kelapa ( Jakarta ), Karawang dan Muara Kali Cimanuk. Menurut catatan Tom Pires seorang Penjelajah berkebangsaan Portugis bersama 4 buah Kapal Dagang Portugis yang sedang berlabuh di pantai utara Jawa, lalu kemudian singgah di Padjajaran pada tahun 1513 Masehi. Mencatat bahwa : Kerajaan Sunda Padjajaran adalah Negeri para Ksatria sekaligus Pahlawan Laut, sebab para Pelautnya telah mampu berlayar ke berbagai negara mancanegara hingga sampai ke kepulauan Maladewa Srilangka. Dan kemudian Tom Pires pun mencatat bahwa komoditi perdagangan kerajaan Padjajaran yang terpenting adalah Beras mencapai 10 Jung pertahun, Lada 1000 bahar pertahun, mengekspor Kain Tenun ke kerajaan Malaka, Sayuran yang melimpah ruah, Daging serta Asam yang jika di gabung akan dapat untuk memuati lebih dari 1000 Kapal Dagang.

“…Bangunan Cagar Budaya Tempat Menyimpan Prasasti Batu Tulis..” di Jalan Batu Tulis Bogor.

Berdasarkan catatan Tom Pires itu pula, beliau pun mencatat tentang keadaan Ibu Kota Pakuan Padjajaran. Dimana di katakan olehnya bahwa Rumah-rumah di Kota Pakuan Padjajaran sangatlah Indah dan Besar, terbuat dari Kayu dan Palem. Istana tempat tinggal Raja di kelilingi oleh 330 Tiang Pilar Kayu berukuran sebesar Tong Anggur dengan Tinggi 4 pathom atau sekitar 9 meter, di sertai berbagai ukiran Indah di atasnya. Tak lupa Tom Pires pun mencatat tentang pola perilaku masyarakat PADJAJARAN yang katanya adalah : Menarik, Ramah, Sopan, Jujur serta berbadan Tinggi Besar. Dan komentarnya pula tentang Sosok sang Sri Baduga Maharaja Prabu SILIWANGI di dalam bukunya “…THE KINGDOM Of SUNDA Is JUSSTTLY GOVERNED…” Tom Pires mengatakan bahwa : Sri Baduga Maharaja Prabu SILIWANGI adalah Sosok Seorang Raja Yang ADIL dan BIJAKSANA dalam memerintah segenap Rakyat Kerajaannya. Prabu SILIWANGI yang terlahir di Keraton SURAWISESA Kawali Ibu kota Kerajaan Galuh Sunda yang kini berada di daerah Ciamis Jawa barat itu adalah Putera dari Prabu Dewa Niskala, sedangkan Prabu Dewa Niskala adalah Putera dari Prabu Niskala Wastu Kancana yang merupakan Anak Lelaki satu-satunya dari Prabu Lingga Buana. Jadi secara urutan garis silsilah Prabu SILIWANGI adalah Cucu dari Prabu Niskala Wastu Kencana sekaligus Cicit dari Prabu Lingga Buana sang Mokteng Bubat. Oleh Kakeknya yaitu Prabu Niskala Wastu Kencana beliau di beri nama Sang PAMANAH RASA, sedangkan oleh Ayahandanya yaitu Prabu Dewa Niskala, beliau di beri nama Sang JAYA DEWATA.

“…Prasasti Batu Tulis…” Berisi Catatan Masa Pemerintahan Prabu Siliwangi di Jalan Batu Tulis Bogor.

Di usia remaja / masa mudanya Sang PAMANAH RASA / JAYA DEWATA ternyata tumbuh menjadi seorang Pemuda Tampan dan Gagah yang lebih cendrung mewarisi karakter / sifat perilaku dari Kakeknya yaitu Prabu Niskala Wastu Kencana, ketimbang ayahnya Prabu Dewa Niskala. Sang PAMANAH RASA / JAYA DEWATA pun kemudian mengikuti jejak Sang Kakek yaitu gemar TIRAKAT / Lelaku PERIHATIN ( Pengendalian Diri ) serta menjadi Seorang Ksatria PENGEMBARA. Meskipun Ia adalah Seorang Putera Mahkota / Pangeran Kerajaan Galuh, namun Sang PAMANAH RASA / JAYA DEWATA Muda tidaklah mau tinggal DIAM serta ASYIK terbuai oleh kehidupan MEWAH di ISTANA yang penuh Hidangan Nikmat serta pelayanan Gadis – gadis Cantik Dayang-dayang Istana. Ia pun kemudian pergi mengembara ke wilayah utara Jawa sampai ke Muara Jati Cirebon. Dan berkat Ketekunan serta Perjalanan Lelaku Prihatin / Tirakat Pengendalian Diri yang di mulai sejak masa Mudanya itulah, yang kemudian berhasil membentuk karakter Sang PAMANAH RASA / JAYA DEWATA Menjadi Seorang Raja yang ADIL, ARIF, BIJAKSANA serta berhasil mempersatukan seluruh wilayah Kerajaan Jawa Barat di bawah Panji-panji PADJAJARAN. Di mana Kemakmuran dan Kesentausaannya Tersiar Memancar ke seantero pelosok Bumi Nusantara dan Mancanegara. Sehingga pantaslah Beliau jika kemudian memperoleh Nama Gelar Kehormatan sebagai Sang Hyang Prabu SILIWANGI. Oleh karena Beliau memanglah teramat sangat di Cintai sekaligus di Hormati oleh segenap Anak Cucu Keturunan serta Rakyatnya hingga saat ini…”

SENJATA

Pada uraian diatas telah disinggung bahwa Siliwangi memiliki ageman ilmu “CANGKOK WIJAYA KUSUMA”. Senjatanya berupa senjata alam yang tidak berwujud sehingga tidak nampak oleh kasat mata. Namun banyak orang meyakini bahwa Kujang adalah senjata milik Siliwangi, mungkin seperti Kujang tetapi bukan dari bahan logam karena zaman itu belum ada namanya besi atau logam lainnya. Memang bahan besi sejak dahulu kala banyak terdapat di tanah pegunungan maupun laut, namun proses pengolahan menjadi besi belum ada teknologi. Senjata Kujang Siliwangi itu, sejatinya berupa nur cahaya, sehingga tidak terlihat oleh kasat mata. Rupanya semacam mustika alam dari besi kuning, dan ada keyakinan bersemayam di pulau Baas, pulau sekitar daerah Cilacap.

Senjata lainnya milik Siliwangi yaitu diberinama ”Gendeng Kalapitu”. Pusaka itu sewaktu-waktu menjelma berwujud layaknya manusia serta seringkali menampakkan diri disetiap gunung yang bernama Gunung Padang.
PERJALANAN_SILIWANGI

Di atas telah disinggung, bahwa Siliwangi ibarat angin, bagai kilat dan penuh petualangan. Beliau senantiasa berpetualang dari satu tempat ke daerah lainnya dan selalu meninggalkan jejak batu bertulis, atau batu berbentuk lingga, atau berbentuk yoni, dan juga gua. Peninggalan-peninggalan itu selalu berdekatan dengan sungai dan pegunungan, karena dari alam itulah selalu diharapkan dapat mendukung ekosistemnya.

Karena selain daging hasil buruan, ikan juga kesukaannya. Alasan itulah kehidupan mereka senantiasa dekat dan selalu menyatu dengan alam. Selain itu pula, gua dan gunung menjadi tempat pilihannya, karena gua ideal untuk dijadikan tempat tinggal dengan alasan aman dari gangguan binatang buas.

Perjalanan awal Siliwangi bukan hanya terdesak oleh kebutuhan hidup saja, tetapi juga mengemban misi tertentu yang dirahasiakan oleh pencipta-Nya.

TEMPAT

Pajajaran di Bogor tidak memiliki tempat yang permanen sebagai pusat kegiatan maupun untuk bernaung sebagai tempat bercengkrama layaknya masyarakat sekarang. Nama Bogor waktu itu bernama Saka Bumi, yang artinya tempat Saka Domas, Aji Saka, Gendeng Kalapitu dan lain-lain yang menjadi tokoh Pajajaran. Sedang nama Pajajaran hanya untuk kiasan menjajarkan anak keturunan yang sudah terjadi menyebar dari satu tempat ke tempat lainnya. Oleh karena itu, sebelum mereka mempunyai anak keturunan dan belum menyebar, tidak ada nama Pajajaran. Setelah mereka melakukan perjalanan jauh menyebar anak keturunan barulah muncul nama Pajajaran. Sebagai dasar perimbangan tempat bebatuan di Cibedug Raden diberi nama Hang Tua Pajajaran yang artinya tempat para leluhur Pajajaran. Hang Tua lainnya diawali dari Gunung Munara. Oleh karena itu, marilah coba diurai perjalanan Siliwangi dari satu tempat ke tempat lainnya :

a. Gunung Munara – Rumpin

Gunung Munara-Rumpin, merupakan tempat pertama yang mereka huni. Disanalah awal kehidupan masyarakat yang menurunkan keturunan kelak bernama Siliwangi. Walau pegunungan itu tidak terlalu tinggi, namun rupanya tanah tersebut menjanjikan kehidupan bagi mereka. Entah berapa lama menetap di Gunung Munara, namun Munara masih nampak angkuh dan meninggalkan bebatuan besar. Gunung tersebut, sampai kini setia dijaga dan dipelihara oleh Eyang Nata Boga.

Nama Gunung Munara, merupakan telahan masyarakat sunda karena bentuk batu yang menjulang tinggi nampak bagai menara (munara, bahasa sunda) mesjid. Sehingga sekilas nampak dari kejauhan seperti menara mesjid.

Ketika keluarga Siliwangi menghuni Gunung Munara, seorang perempuan melahirkan bayi yang bernama Sri Dewi Ciptarasa, dan kelak menjadi istri Sisik Agung Telaga Bodas Siliwangi Rama Agung Dalem atau Purwa Kalih atau Sangiyang Windu Agung. Perkawinan tersebut melahirkan Sri Nuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maha Raja Mulawaman.

Srinuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maha Raja Mulawarman mempunyai garwa yaitu : Embah Buyut Haji Wali Sakti Mangkurat Jagat “nu linggih” di Lemah Duhur Pajajaran Bogor / Saripohaci Bogor. Dari Saripohaci mempunyai putra Dalem Sunan Ambu. Dalem Sunan Ambu mempunyai putra terakhir yaitu Pusparaja Siliwangi Taruma Suta Pakuwon Pajajaran.

Masih Embah Buyut Haji Wali Sakti Mangkurat Jagat / Sapujagat “nu calik” di Gunung Halimun mempunyai putra Sangiyang Singa Perbangsa atau Atok Larang atau Bolekak Larang. Atok Larang atau Bolekak Larang mempunyai putra Ratu Dayang Sumbi. Ratu Dayang Sumbi mempunyai putra ;

1. Joko Lalangon atau Sangkuriang
2. Joko Bandung Bandojaya cahaya.

Agar rangkaian keturunan ini lebih jelas, maka perlu diuraikan pula ketika di Gunung Halimun walaupun terkesan penulisan ini melompat-lompat. Tetapi dianggap perlu disinggung terlebih dahulu sewaktu Sapujagat di Gunung Halimun.

Nirwana Sangiyang Domas Siliwangi Wardananingsih mengkisahkan tentang keturunan Siliwangi dan Pajajaran yang memiliki putra yaitu :
1. Lingga Manik
2. Lingga Sana
3. Lingga Lingba
4. Lingga Manik Wulung
5. Sangiyang Bandung
6. Sangiyang Putih Purba Wayang
7. Sangiyang Singa Perbangsa
8. Lingga Dewa Agung Pucuk Manik Maya adalah Sangiyang Siliwangi Wardananingsih
9. Murtapa Di Gunung Cakra Domas atau Mandalawangi Situ Sangiyang Tunggal adalah Pajajaran.

Sangiyang Putih Purba Wayang mempunyai putra Sangiyang Domas Siliwangi atau Hayam Wuruk. Hayam Wuruk mempunyai putra Sangiyang Weda yang menjadi Raja Galuh. Sangiyang Weda mempunyai putra yang menjadi raja di Palimanan. Dari istri lain Hayam Wuruk atau Sangiyang Domas Siliwangi, mempunyai putra Patih Gajah Mada atau Patih Joyo Merkolo.

b. Gunung Kapur Ciampea

Selanjutnya, saat keluarga kecil itu berada di Gunung Kapur Ciampea mereka membuat peninggalan berupa arca. Arca yang dibuat itu dikenal, patung 5, 4, 3, 2 dan 1. Seiring kebudayaan dan keterampilan orang dulu yang belum maju, maka patung yang dibuatpun tidak sebagus dan sehalus tangan-tangan yang terampil. Patung atau arca yang terdapat di Ciampea masih terkesan asal-asalan dan tidak sebagus yang ada di daerah-daerah lainnya. Konon bentuk patung yang dibuat merupakan wujud peringatan atau pesan bahwa ditempat tersebut pernah ditempati atau dihuni kelompok masyarakat Siliwangi.

Patung adalah lambang atau pertanda untuk menunjukan bahwa disana telah hidup dan ada kehidupan sejak zaman purbakala, atau semacam monumen tentang adanya manusia terdahulu. Adapun yang dapat diketahui dari patung-patung batu atau Arca tersebut masing-masing memiliki nama sebagai identitasnya, yaitu :

1. Sangiyang Cupu Manik
2. Sangiyang Dewa Braja
3. Sangiyang Mustika Dewa Domas
4. Sangiyang Agung Dewa Suci

Tidak mustahil menamai patung atau arca-arca tersebut yang sebenarnya merupakan anak keturunan dari Srinuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maha Raja Mulawarman.

Namun sayang, ternyata di daerah yang dianggap cikal bakal pengungkapan sejarah tersebut, kini batu berupa patung atau arca sudah tidak nampak lagi. Konon pada tahun 1974, patung-patung tersebut telah berpindah tempat. Bahkan sekarang sebanyak 3 arca telah berada dalam kotak peti dalam kondisi pecahan batu kapur di Pasir Angin Leuwiliang. Padahal dengan berpindahnya tempat bertengger patung (arca) berarti jejak sejarah telah berubah. Bahkan mungkin untuk generasi mendatang akan lebih sulit melacaknya. Kapan, bagaimana dan dimana titik tolak awal sejarah jati diri Pajajaran maupun nenek moyangnya.
Batu Telapak Kaki Gajah

Dari Gunung kapur itulah, mulai adanya perkembangan budaya masyarakat dan jumlah anggota keluarganya bertambah. Selanjutnya gunung itupun ditinggalkan. Namun sebelum beranjak migrasi ke tempat lain, mereka sempat mengabadikan pula dengan suatu monumen. Mereka membuat Padatala yaitu batu jejak kaki gajah dan kaki ayam. Hal ini mengingatkan kita tentang kaki gajah sebagai symbol Gajah Mada dan kaki ayam adalah Hayam Wuruk ?. Namun sayang, batu tersebut telah lenyap di lokasinya yang kebetulan berada di tepi sungai. Padahal batu itu dapat menjadi rujukan suatu bukti adanya nama Gajah Mada maupun Hayam Wuruk dari Pajajaran yang kelak menguasai Pulau Sunda disebelah timur.

Padatala Kaki dan Bertulis

c. Lemah Duhur Batutulis

Sewaktu Pancawala setelah menyandang Siliwangi berada di Batutulis, Sri Dewi Ciptarasa meninggal dunia. Pada masa itu, kebudayaan yang berkembang masih menganut Agama Hindu. Oleh karena itu sebagai penganut Hindu, setiap yang meninggal melalui proses perabuan. Mayat Sangiyang Sri Dewi Ciptarasa pun dibakar. Abu mayatnya dikuburkan disebelah Prasasti Batutulis bersama 8 makam lainnya.

Disebelah makam itu, terdapat pula makam perabuan kerabatnya yang bernama Sangiyang Loro Agung. Sedang tempat pembakaran mayat, tepatnya pada rumah yang pernah menjadi tempat tinggal penduduk yang bernama Haji Aming (Jalan Batutulis). Di sebelah utara Batutulis terdapat batu panjang merupakan tempat kesukaan Sangiyang Lodaya Sakti bersemedi. Disitulah Sangiyang Lodaya Sakti digembleng sebelum melakukan petualangan ke Sancang Pameungpeuk Garut Selatan.

Disebelah selatan Batu Bertulis, terdapat patung/arca Sisik Agung Telaga Bodas Siliwangi Rama Agung Dalem atau Purwa Kalih atau Sangiyang Windu Agung. Di seberangnya, terdapat petilasan kramat Embah Dalem yang memiliki nama Eyang Embah Buyut Haji Wali Sakti Mangkurat Jagat nu linggih di Pajajaran Bogor, Lemah Duhur Saripohaci Bogor.

Leluhur tersebut, mempunyai buyut Kidang Pananjung (Embah Dalem Kedung Badak). Kidang Pananjung sendiri mempunyai anak cucu keturunan, dan banyak menyebar di sekitar Kedung Badak, Kebon Pedes dan ke arah Sukaraja.

Batu Bertulis Lingga Sangkakala dan Padatala

Sedangkan Cipaku sebelumnya bernama Blubur yang meliputi Cipaku sampai batas wilayah Ciawi dan Cijeruk. Sedangkan Kebun Raja atau sekarang terkenal bernama Kebun Raya, dahulu merupakan kawasan “Sangiang Domas Cipatahunan”. Khususnya nama Blubur atau Cipaku, ketika pengembaraan ke Purwokerto, tokoh dari Blubur menggunakan samaran Banyak Blubur.

Di Batutulis inipun Siliwangi membangun tata kehidupan, sedang keluarga di Ciampea tetap melanjutkan hidup bermasyarakat. Di Lemah Duhur – Batutulis, Siliwangi yang sebelumnya bernama Pancawala, mendapat gelar pula ”Srinuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maharaja Mulawarman”. Beliau terus meningkatkan nalarnya. Ilmu pangaweruhnya dituangkan dalam tulisan pada batu, sehingga terwujud Batu Bertulis huruf Lingga. Hal itu dilakukan, seolah amanat untuk dikenang jejak Siliwangi dan keluarganya, serta yang terpenting menjadi peringatan bahwa beliau telah mendiami daerah itu.

Berpindah-pindah Siliwangi lakukan seperti mudah sekali, karena beliau dalam “perjalanannya” selalu mengandalkan ”mukjizat Saefi Angin”. Konon menurut “orang tua dulu”, tiap daerah yang telah Siliwangi singgahi selalu meninggalkan batu ”pengapungan”. Sebab batu tersebut, sebagai landasan refleksi ilmu saefinya. Di Bogor pun ada, hanya saat penulis menelusuri batu tersebut telah lenyap dari tempatnya. Batu lain yang masih tersisa bekas pertapaan Siliwangi, yaitu Batu Putih yang terletak di Sungai Cisadane dan di Curug Bengkung sekitar Rancamaya. Serta diyakini, Siliwangi ”murca” di Sukawayana sebelum ”ngabubat” Banjarmasin – Kalimantan.

Sedangkan bebatuan lainnya yang masih tersisa, terdapat di Cibedug Raden Pasir Angin. Disana masih nampak bebatuan besar dan masih kokoh berserakan, serta mempunyai sebutan antara lain: batu Kedok, batu Gedongan, batu Lalay, batu Kasur, batu Karut dan lain-lain. Khususnya batu Kedok memiliki nama : ”Dewa Prabu Agung Sri Baduga Maharaja”. Malah di sekitar Makam Mbah Guru Mega Mendung, batu lingga setinggi 150 cm telah hilang oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Sangat disayangkan.

Dalam perjalanannya, Siliwangi selalu berpindah tempat dengan dalih untuk memperbanyak anak keturunan, serta dari satu tempat ke tempat lainnya selalu menggunakan nama tokoh yang berbeda. Kenapa demikian ? mungkin jika satu nama saja akan menjadi kultus individu, dan akan selalu dicari keturunannya. Oleh karena itu, ia senantiasa setelah menganggap cukup memberi keturunan, beliau terus menghilang (ngahiyang/murca), pindah tempat atau kadang seperti layaknya orang meninggal dunia. Namun sebelum hijrah dari Bogor, Nyi Sri Dewi Pohaci (Dalem Sunan Ambu) menurunkan pula seorang putra yaitu Sangiyang Pusparaja Siliwangi Taruma Suta Pakuwon Pajajaran.

Itulah jejak Siliwangi di Lemah Duhur – Batutulis, dan Batutulis sendiri memiliki sebutan gelar ”Saiful haq bil goib” yang berarti ”Pedang kebenaran dari yang tidak nampak”, sebagai kiasan yang maksudnya : Ilmu dari leluhur Batutulis setajam pedang. Namun keturunannya hanya dapat mengenang ”Cihaliwung nunjang ka kidul, Cisadane nunjang ka kaler, panggih Cikalimusana”. Siapapun dan pusaka apapun yang melintas Cikalimusana akan ”laas teu metu ” (tidak akan ampuh). Begitulah dahulu kala. Dan Cikalimusana sekarang jarang dikenang, padahal tak jauh dengan Batutulis.

d. Kutamaneuh / Kutawesi, Cikembar dan sekitarnya.

Setelah lama di Batutulis, akhirnya Siliwangi merambah Sukabumi. Pertama disinggahi, gua yang diberi nama Kutamaneuh dan Kutawesi yang terletak di kaki Gunung Guruh. Bahkan di Sukabumi ini banyak daerah yang suka digunakan beliau untuk kepentingan berumah-tangga seperti di Sukawayana, Cengkuk, Cikakak Gunung Halimun, Gunung Bentang, Gunung Beser, Gunung Batu/Cupu/Sunda.

Khususnya Gunung Cupu, di sebutkan dalam bahasa arab “Likuli amrin hidayati” yang berarti setiap perintah pasti ada petunjuk. Dari sinilah bersemayam keturunan Siliwangi ; Eyang Surya Kate, Eyang Surya Kemasan dan Eyang Kuncung Putih. Bagi anak keturunannya, apabila hendak “bersilaturahmi khusus” malam hari pada tanggal 14 Syafar. Ketiga tokoh tersebut, juga telah menyandang gelar Siliwangi atas restu leluhurnya.

Menurut informasi orang tua, Eyang Surya Kate adalah petualang sejati. Pengembaraannya sampai ke wilayah Tiongkok, Jepang, Saigon – Vietnam dan Muangthai serta ke Batu Merah – Australia. Mungkin saking terkesannya dengan Saigon, beliau memberi nama “Kota Qolbu” dan bagi Batu Merah Australia “Qud Alam”. Sehingga kemungkinan, Suku Aborigin merupakan keturunannya. Sedangkan petualangan ke luar nusantara lainnya, yaitu ke Malaysia. Disana terdapat petilasan pertapaan Eyang Surya Kate, di sekitar danau kecil.

Adiknya Eyang Surya Kate, yaitu Eyang Surya Kemasan tetap bertahan tinggal di Indonesia. Tentang pengembaraan Eyang Surya Kate, sekitar tahun 1945-1946 ketika Jepang mengusai daerah Cikembar, serombongan bangsa Jepang mencari nama Gunung Kate. Ternyata yang bangsa Jepang adalah Gunung Batu/Cupu. Konon menurut bangsa yang menyembah matahari tersebut, mereka sambil menelusuri asal muasal tempat nenek moyangnya. Mungkin itulah salah satu bukti keteturunan dari Eyang Surya Kate.

Namun seperti kebiasaan kakek-buyutnya, Eyang Kuncung Putih pun selalu berganti nama baru sesuai dengan tempat tinggalnya yang baru pula. Eyang Kuncung Putih ketika di Sukawayana beliau disebut Begawan Sukawayana, di Gunung Halimun bernama Eyang Gentar Alam / Eyang Gentar Bumi bahkan diyakini pula dengan sebutan Syeh Haji Qodratullah. Ketika di Gunung Beser dan Gunung Hejo, Siliwangi meneruskan bekas Eyang Suryakencana. Dan namanya di gunung itu Embah Kusumah. Di Cikembar juga terdapat nama Prabu Puspa Raja dan Prabu Sungging Prabangsa serta Ibu Ratu Sri Geuncay.

Ibu Ratu Sri Geuncay adalah saudara kembaran Ibu Ratu Dewi Sri Nyi Roro Kidul, yang satu di daratan dan yang lainnya penguasa lautan. Ibu Ratu Dewi Sri Nyi Roro Kidul memiliki doa ; “Qolbu Adam bil Hawa, bil Baetullah Wal Madinah”. Sejatinya Ibu Ratu itu penguasa seluruh lautan didunia.

Sedangkan Prabu Sungging Prabangsa di Cikembar juga dikenal Bolekak Larang. Jika di Ciamis, bernama Atok Larang. Khususnya masyarakat di Cihaurbeuti Ciamis tidak boleh (pamali, Bahasa Sunda) menyebut batok seolah-olah menyebut leluhurnya tanpa awalan penghormatan.

Sedangkan di Cikembar terdapat kebiasaan aneh yang berhubungan dengan situasi negara, jika negara dalam keadaan kacau tidak menentu, maka penduduk akan menjumpai babi yang berlari-lari ke tengah hunian penduduk tetapi tak lama kemudian babi itu akan hilang dan dinamai “babi hiyang”. Selain itu pula terdapat pohon beringin rengkas (tumbang). Kadang pohon itu rebah layaknya tumbang, tetapi kemudian akan berdiri kembali sebagaimana berdiri semula. Dan konon disanalah tempat bersemayam Dewa Angkara. Namun entah sekarang masih ada atau tidak, karena pohon itu tumbuh di tengah markas TNI sekarang. Sebelum menjadi markas TNI, pada zaman kolonial disana menghampar perkebunan kopi dan untuk mengawasi perkebunan itu, Belanda membuat lapangan terbang.

Nama Kutamaneuh maupun Kutawesi, mengingatkan kita dengan nama Kuta Tandingan atau Kuta Kelambu di Karawang. Nama Kuta itupun merupakan tempat yang pernah disinggahi oleh Siliwangi. Disamping itu juga yang menjadi lokasi kesukaan Siliwangi yaitu di Gua Rampo, Gua Siluman di Cidolog Jampang Tengah maupun di Gunung Walad.

e. Gunung Halimun Cikakak dan Cengkuk

Di Gunung Halimun ini terdapat batu bersusun undak yang merupakan tapak tilas kebudayaan zaman Siliwangi. Gunung Halimun yang memiliki ketinggian antara 500 – 2000 meter dari permukaan laut ini, terdapat batu-batu punden berundak sebagai tempat untuk menyelenggarakan musyawarah sekaligus lokasi pemujaan terhadap “Sanghiyang Widi”. Suasana Gunung Halimun yang lebat dengan pepohonan serta udara yang dingin, menjadikan nyaman bagi nenek moyang menetap disana.

Kondisi hutan yang mendukung dari segi kondisi, maupun bahan makanan yang cukup, menjadikan garwa Siliwangi, yaitu ; Dewi Sri Ratu Panutup melahirkan 49 keturunan yang menyebar ke berbagai tempat. Perempuan idaman Siliwangi tersebut, masih adik kandung Ibu Dewi Sri Geuncay maupun Ibu Dewi Sri Nyi Roro Kidul.

Pangguyangan Punden Berundak
Menjadi kesan tersendiri, bahwa di Cikakak maupun Cengkuk masih terdapat artifak punden berundak dan tugu. Hanya sayang, gua yang terdapat patung/arca telah lenyap terkubur longsoran tanah subur Gunung Halimun. Padahal merupakan bukti sejarah yang penting dilestarikan.

f. Cangkuang

Di Leles Garut ini, Siliwangi mulai membuat candi pertama dan diberi nama “Nila Warna” atau “Ki Agem Balangantrang”. Sebenarnya candi disini terdapat empat buah, namun entah mengapa pada zaman Belanda kondisinya hancur dan sekarang yang tersisa cuma satu candi. Itupun upaya renovasi dari pihak pemerintah pada tahun 1976 dan sungguh membanggakan.

Adanya batu bersusun ini, menunjukan bahwa kebudayaan Siliwangi beserta keluarganya sudah agak maju. Candi, adalah bebatuan yang disusun rapih dibuat untuk tempat semedi. Dahulu nama Leles, lebih dikenal dengan nama “Kalingga”, dan disini keluarga Siliwangi makin berkembang dan bertambah banyak. Alasan lain, diantara keturunan mereka banyak yang saling mengadakan perkawinan antar saudara.

Perkawinan antara saudara tersebut tidak bersifat monogamy, tetapi malah polygamy serta ditentukan karena kekuatan seseorang. Tapi mungkin juga polyandry. Sebab siapa yang dianggap “jago 80� maka dia berhak mengawini pasangan mana saja dan berapa saja yang disukai. Mungkin begitulah masa lalu karena belum adanya aturan tentang hukum perkawinan. Walaupun ketika itu ajaran atau kepercayaan mereka telah mengarah ke aturan agama Hindu, tetapi keperkasaanlah yang berkuasa menentukan pilihan sesuai seleranya.
Candi Nila Warna / Ki Agem Balangantrang Cangkuang
Oleh karena itu, perkawinan yang tidak tertib menghasilkan makin bertambahnya anggota masyarakat. Tak terkecuali dari Kalingga pun merambah ke wilayah Galuh dan ke Gunung Putang. Bagi mereka, Galuh atau Karang Kamulyan maupun Kawali, bukan batasan luar daerah. Karena, zaman itu belum adanya batas wilayah atau struktur daerah. Hanya siapa yang berkuasa, dialah segala-galanya. Begitulah dahulu kala dengan sebutan zaman kegelapan. Khususnya di Gunung Putang terdapat batu yang suka dijadikan oleh Siliwangi sebagai tempat semedi yaitu di Batu Kebek dan Batu Kasur dan Batu Ceper yang terdapat di puncak gunung itu.

Selain candi, di Kalingga inipun terdapat petilasan makam para tokoh, namun urutan nama ”kekasih” disini seolah hidup setelah kedatangan agama Islam, diantaranya seperti :

1. Mama Kanjeng Sunan Pangadegan
2. Mama Kanjeng Sunan Sembah Arif Muhammad
3. Mama Eyang Prabu Santosa / Singa Perbangsa.

Sebenarnya jika dikaji lebih mendalam, budaya batu-batu yang disusun membentuk candi, dibuat sebelum adanya agama Islam sehingga menjadi tanda tanya besar kenapa nama-nama diatas terkesan nama Islam, seperti sebutan Mama Kanjeng Sunan.

g. Galuh/Karang Kamulyan maupun Kawali

Di Galuh keluarga Siliwangi makin berkembang menempati peloksok Ciamis. Cara bermasyarakatnya lebih dinamis, sehingga bermunculan berbagai permainan atau “kamonesan” maupun kerajinan masyarakatnya. Dari hasil kerajinan keturunannya, muncul kampung yang dinamai Rajapolah. Nama tersebut karena adanya tokoh yang kreatif.

Di kawasan Kawali khususnya banyak meninggalkan artifak berupa Batu Bertulis, Batu Kaca, dan batu lainnya yang menandakan bahwa disini telah ada kehidupan tempo dulu. Dan di Kawali pula Siliwangi telah mengukir tulisan pada batu yang menunjukan angka 1 dan 7. Kemudian ada pula garis berkotak 4 dan 5 serta terdapat tapak jari tangan. Konon tapak tangan tersebut menunjukan disitulah “Sangiyang Tapak” berada. Mengenai angka, orang tua meyakini bahwa angka-angka tersebut ternyata memiliki makna tertentu sesuai dengan perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Sebab hal itu dihubungkan dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, maka bermakna tanggal 17 Agustus ‘45 dan angka 5 merupakan falsafah bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Sedangkan di Gunung Sawala, menjadi basis leluhur yang dihuni keturunan dari Ciung Wanara maupun dari putra Dewa Resi atau Ki Ajar Padang atau Eyang Kalawangsa atau Atok Larang atau Batok Larang.

Terdapat keunikan dengan nama Batok Larang, sebab bagi keturunannya tidak boleh (pamali, Bahasa Sunda) menyebut batok, sekalipun itu batok kelapa sebenarnya. Tetapi konsonan “tok” seolah-olah menyebut leluhurnya tanpa awalan penghormatan. Dan juga sejak dulu yang menjadi larangan penduduk disini, khususnya yang perempuan tidak boleh memelihara rambut panjang. Konon jika terdapat keturunan yang berambut panjang apalagi berparas cantik, maka akan kena sumpah serapah leluhurnya.

Itulah Galuh yang artinya asal mula. Sangiyang Bolekak Larang atau Atok Larang disini mempunyai anak yaitu Dayang Sumbi, Ki Balangantrang dan Diah Pitaloka. Cerita Dayang Sumbi mengingatkan kita pada zaman Sangkuriang, dan Ki Balangantrang pada babad Ciung Wanara. Sedang Diah Pitaloka sebagai cucu Siliwangi, tersirat dalam perang Bubat. Dari Dayang Sumbi melahirkan Joko Lalangon dan Joko Bandung Bandojaya. Joko Lalangon yang menjadi tokoh dalam cerita Sangkuriang, sedangkan adiknya Joko Bandung Bandojaya menghilang bagai cahaya.


h. Majeti

Disamping Galuh, Siliwangi juga membuka lahan di suatu tempat yang berawa yaitu di Pulo Majeti. Sedangkan masyarakat disekitar memberi nama Rawa Onom (Onom artinya Dedemit, bahasa Sunda). Dinamakan pulau, karena di sekeliling pegunungannya terdapat genangan air payau. Sedangkan nama Onom, karena terkenal banyak dedemit/hantu yang pernah mereka temui. Padahal di lokasi ini terdapat tokoh-tokoh yang kelak bernama Aji Saka, Dewata Cengkar, Ratu Rengganis, Ratu Gandawati, Sri Begel, Sri Budegel, Sawung Galing, Sulaeman Kuning, Eyang Mentereng, Tubagus Tomal.

Makam para leluhur Majeti
Nama-nama tersebut bukan nama pituin, atau nama asli melainkan nama telahan karena tempat atau nama sifat, laku lampah dan tingkah yang unik. Seperti Eyang Mentereng, beliau menyukai hal-hal yang bersifat menonjol dalam berpakaian sehingga terlihat mentereng. Kemudian Tubagus Tomal, ia malah senang berdandan diri.

Khususnya nama Aji Saka, adalah cicit Siliwangi dan beliau bergelar Siliwangi. Aji Saka yang diberi gelar Siliwangi diawali di daerah Tomo – Kadipaten. Tempat itu bernama Marongge berada di kawasan Gunung Congkrang atau Gunung Parang Sumedang. Aji Saka memiliki adik yang menjadi kepala suku / Raja yang berkuasa di daerah Boko – Kedu. Namun sayang bekas petilasan yang berupa candi masih berserakan bebatuannya, sehingga terkesan belum selesai di bangun. Dan konon menurut penuturan orang tua dulu, Candi Boko sebenarnya menyambung dengan Candi Prambanan, Candi Sewu maupun Candi Loro Jongrang.

i. Pajajar dan Cipaku

Perkembangan di Ciamis semakin pesat menyebar kearah Cipaku dan Pajajar Majalengka yang berbatasan dengan Cirebon. Disana mereka mendirikan perkampungan yang dijadikan tempat menetap Sang Pemimpin dari keluarga Siliwangi. Di Pajajar maupun di Cipaku ini juga semakin bertambah anak dan keturunan Siliwangi, karena perkawinan antar keluarga dari wilayah lain maupun keluarga yang ada disana. Kehidupan yang telah mulai merebak, bertambah menjadi daerah pendudukan yang ramai.

Tokoh yang terkenal di Cipaku terdapat nama-nama seperti ; Ki Buyut Sawala, Ibu Siti Aisah, Ibu Syeh Ambu, Eyang Kencur Putih, Eyang Pangeran Kumis, Eyang Mama Kalijaya dan Ibu Ratu Bungsu. Di Cipaku Majalengka inipun, lagi-lagi terdapat nama yang terkesan sudah zaman Islam seperti ; Ibu Siti Aisah, Ibu Syeh Ambu dan Mama Kalijaya. Mengapa demikian ?.

j. Gunung Padang

Gunung Padang Ciwidey, terdapat Batu Lenit ( batunya besar) dan Batu Lingga ( Batu Totonde) banyak dijadikan tempat pertapaan Siliwangi. Sifatnya yang jujur, arif bijaksana dan senang memberikan ajaran tentang kehidupan. Anak didiknya menyebut Sangiyang Premana atau sebutan Ki Ajar Padang. Sebelum bermukim di Gunung Padang, beliau memilih hidup di Gunung Patuha. Dalam perkawinannya, melahirkan 7 orang putri. Salah satu putrinya, dinikahi Sangiyang Lingga Manik. Putri Ki Ajar Padang bersama menantunya ini, kemudian menempati kawasan ”Purwo Wiwitan” atau Purwokerto sekarang. Lingga Manik alias Batara Dewa memiliki anak yang bernama Putri Tawang Wulan.

Nama Padang diambil dari nama gunung pertapanya, sebenarnya nama gunung tersebut dahulu bernama Gunung Rangga. Di Gunung Padang Sukabumi, di Kuta Tandingan, Kuta Kelambu Karawang, Gunung Padang Ciwidey, Gunung Padang sekitar Sidareja maupun di Gunung Padang Sumatera, disitulah Ki Ajar Padang melakukan semedi atau tapabrata. Beliau merupakan tokoh yang paling dihormati, namun enggan dijadikan pemimpin atau kepala suku tetapi selalu disertai penjelmaan Ki Gedeng Kalapitu.

k. Gunung Slamet

Ketika pengembaraan Siliwangi berada di Baturaden Gunung Slamet Purwokerto, beliau bernama Siliwarni. Saudara-saudaranya bernama Banyak Cotro, Banyak Ngampar, Banyak Blubur, Batara Dewa (Sangiyang Lingga Manik). Di Purwo Wiwitan atau Purwokerto sekarang, merekapun menata kehidupannya. Tetapi Banyak Cotro mengembara kearah timur Pulau Sunda, Banyak Ngampar ke daerah Ujung Pandang (Makasar), Batara Dewa kearah selatan atau ke Cilacap.

Sedangkan Siliwarni yang menyaru lutung selalu mengikuti gerak langkah kemanapun Putri Tawang Wulan bepergian. Putri Tawang Wulan adalah anak dari perkawinan Kepala Suku yang bernama Lingga Manik (Batara Dewa) dengan salah seorang putri dari Sangiyang Premana atau Ki Ajar Padang. Ketika itu Lingga Manik, tengah menguasai Gunung Alas Larangan atau Gunung Sangkala di sekitar kawasan Sagara Anakan. Bahkan sampai hayatnya, Lingga Manik atau Batara Dewa ngahiyang dan bersemayam di Gunung Sangkala atau “Gunung Alas Larangan”.

Di daerah ini terdapat 2 tempat yang dikeramatkan penduduk yaitu Janur Putih sebagai penjelmaan ”Naga Nyi Sri” dan yang lainnya bernama “Gajah Putih Bulu Landak” serta Angka Wijaya. Naga Sri suka menjelma seperti ular yang sisiknya mengarah berbalik ke depan, sedangkan Gajah Putih nampak berbulu bagai bulu landak.

Kembali ke tokoh Siliwarni, ketika itu menyaru seolah-olah rakyat jelata melamar Putri Tawang Wulan. Tetapi akhirnya lamaran itu diterima. Dan perkawinan tersebut sebenarnya antara paman dengan keponakan. Dari perkawinan mereka, lahir Hariang Banga salah seorang keturunannya. Sedangkan putra Siliwangi dari lain istri, bernama Ciung Wanara. Anak keturunan inilah yang kelak tercatat dalam kisah perang Bubat dan keduanya bergelar Siliwangi.

l. Daerah Pengembaraan Lainnya

Urutan tempat-tempat dimaksud di C bukan berarti secara berurutan jalur pengembaraan Siliwangi, tetapi daerah itulah yang banyak dan sering dijadikan hunian yang paling disukainya. Selain itu pula, daerah yang tidak tersirat disini bukan berarti tidak disenangi, tetapi malah menjadi basis bagi keturunan Siliwangi bermasyarakat pada zaman selanjutnya.

Oleh karena itu, langkah dan petualangan Siliwangi tidak terikat di satu lokasi saja tetapi beliau bergerak lincah dan cepat ke setiap penjuru, bagai angin bertiup dan sesuai dengan julukan lain nama beliau, yaitu Sangiyang Kilat Buana.

Itulah beberapa tempat Pulau Sunda Bagian Barat yang telah dihuni oleh keluarga Siliwangi maupun keturunannya. Disamping itu, perjalanan beliau juga tercatat ke arah timur nusantara seperti ; ke Gunung Lawu, Gunung Kelud, Gunung Tengger, Gunung Sundoro sekitar Dieng dan ke Gunung Wukir Kecamatan Salaman Magelang dan lain-lain. Malahan ketika di Ponorogo, melahirkan keturunan yang ke 5.

Dalam cerita pewayangan wilayah Gunung Dieng di juluki Negara Madukara.

Sewaktu menghuni Sundoro, kebudayaan membuat patung maupun candi sangat digandrungi, sehingga sejak itu sekitar Gunung Dieng banyak berdiri candi untuk pemujaannya. Disamping itu, disana juga terdapat telaga warna. Sebagaimana dimaklumi bahwa Siliwangi juga menyukai Telaga Warna di Puncak Bogor, Telaga Warna di Gunung Jampang Tengah, dan Telaga Warna atau Danau Kelimutu. Masih di sekitar Dieng, terdapat Gua Sumur, Gua Semar dan Gua Dewi Kuan In. Padahal gua atau relung tanah tersebut merupakan tempat Siliwangi bertapa.

Banteng Lilin dan aksara Lingga Nirwana
Sewaktu Siliwangi di wilayah Gunung Wukir, memiliki generasi keturunan yang ke 7 yaitu Syailendra. Artifak yang ada di Gunung Wukir ini ditandai dengan candi dan arca Banteng Lilin, sama seperti yang terdapat di Kebun Raya Bogor.

Candi Nandi di Gunung Wukir

(Perhatikan kesamaan dengan Banteng Lilin di Kebun Raya Bogor)

Petilasan lain Siliwangi di Gunung Lawu, dahulu terdapat sebuah gua yang menghadap arah matahari, itupun menjadi tempat pertapaan Siliwangi. Kesamaan lainnya yaitu tempat yang paling disukai Siliwangi menikmati sumber air Jalatunda seperti yang terdapat di Kebun Raya Bogor, di Cirebon dan Tretes Malang.

Perjalanan Siliwangi tidak sekedar di Pulau Sunda bagian barat saja, tetapi merambah ke beberapa pulau lainnya seperti di Padang dengan nama Adityawarman, ke Pulau Nias meninggalkan petilasan Batu Loncat. Di Aceh menetap di daerah Tapak Tuan. Kemudian juga beliau menyeberang ke Kalimantan dengan nama Mulawarman. Masih sekitar Kalimantan juga, beliau menghuni pulau kecil dekat Banjarmasin yang sekarang bernama Kota Baru. Bahkan sebelum menghuni Kota Baru, pernah tinggal di Danau Toba dan menurunkan keturunan yang kelak bermarga Sisingamangaraja. Sisingamangaraja ketika diangkat menjadi pembantu (Pengawal) Siliwangi memiliki tanda merah dipipinya.

Ketika murca di Sukawayana, Siliwangi meneruskan pengembaraannya ke Lampung dan Palembang. Disana meninggalkan petilasan berupa patung Dewi Sri, namun penduduk disana menyebutnya Patung Lidah Pahit. Padahal arti dari lidah pahit yaitu ”Saciduh metuh saucap nyata” (ucapannya yang dikelurkan benar dan nyata).

Sungguh tidak diduga pengembaraan Siliwangi begitu jauh, namun begitulah Siliwangi tidak berhenti sampai di Kota Baru saja. Beliau yang memiliki nama lain yaitu ”Sangiyang Tapak”, juga pernah menghuni gua Leang di Sulawesi sebelum berada di Danau Merah Irian Jaya. Mungkin agak lama mendiami daerah Gowa, karena ketika disana beliau menurunkan ilmu menulis bagi keturunannya yang berada di Bugis. Setelah Danau Toba, Danau Merah dan pernah juga tinggal di sekitar Danau Kelimutu (Ende-Flores) wilayah Pulau Sunda Kecil.

Siliwangi tidak dan bukan berkuasa dalam Pulau Sunda saja, tetapi jika menulusuri jejaknya melebihi jagat nusantara. Lalu bagaimana dengan perubahan nama Pulau Sunda ?. Entahlah Indonesia merupakan daratan yang terhampar luas. Sedangkan pada masa itu yang disebut Pulau Jawa, adalah yang sekarang Pulau Bali. Dan disanalah menetap Sangiyang Dewa, salah seorang putra pertama keturunan Siliwangi generasi yang ke 8. Sedangkan adiknya yang perempuan, yaitu Sangiyang Rinjani menetap di pegunungan yang kemudian diberi nama Gunung Rinjani. Gunung yang memiliki ketinggian antara 300 – 3700 meter dari permukaan laut ini, terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sedangkan kakak perempuan yang paling tua dari Sangiyang Dewa, pergi ke Danau Kelimutu atau ”Danau Pusaka Alam”. Dinamakan pusaka alam karena danau tersebut memiliki air berwarna lambang negara. Namun sebelum Sangiyang Dewa ke Bali, beliau sempat membuat Candi Jabung di kawasan Panarukan. Malahan sampai ujung Pulau Sunda Besar itu, tepatnya di Alas Purwo Kabupaten Banyuwangi, terdapat gua dan makam panjang itulah suatu tanda peninggalan Siliwangi.

PEREBUTAN KEKUASAAN BOROBUDUR

Pulau Sunda Besar dan Sunda Kecil, pada zaman pemerintahan Belanda dibagi-bagi menjadi beberapa daerah propinsi, dengan strategi pembentukan pemerintahan agar dapat memudahkan pengendaliannya. Namun perubahan dari Pulau Sunda menjadi Pulau Jawa entah gagasan siapa dan kapan ?. Oleh karena itu, kejadian peran t bukan perang antar daerah, atau perang antar suku atau antar agama Hindu dengan Budha, tetapi pertikaian antara keturunan Siliwangi dan terjadi di Pulau Sunda Besar.

Kejadian pertikaian tersebut, hanya memperebutkan pewarisan Candi Borobudur diantara keturunan Siliwangi, antara Hariang Banga dengan Ciung Wanara ?. Warna Biru dan Merah inilah yang bertikai menentukan pengusaan Borobudur. Hariang Banga yang berkuasa di daerah Timur dengan warna hijau dan Ciung Wanara berkuasa di daerah Barat dengan warna merah. Penentuan warna itu terjadi di Gunung Tengger.

Ketika itu Hariang Banga berkuasa daerah timur memiliki patih yang bernama Gajah Mada. Gajah Mada adalah patih yang setia dan salah satu pengawal yang berilmu sakti mandraguna. Gajah Mada, ketika di Pajajaran beliau adalah pengawal ke 3.

Namun sewaktu terjadi pertempuran memperebutkan penguasaan Borobudur itu, ia terluka oleh senjata saudaranya dari daerah barat. Dan Gajah Mada menyadari, hanya senjata dari Siliwangi yang dapat mengalahkannya. Dalam kondisi luka dan menghindari perang saudara lebih dasyat lagi dengan Saudaranya, ia lari dan menjauh ke arah Malang. Sampai hayatnya ia bersemayam di salah satu gua di daerah Malang. Tempat peperangan Bubat terjadi di beberapa tempat dan puncaknya terjadi di sekitar Sidoarjo.

Dalam pertempuran sengit itupun, Diah Pitaloka tertusuk pula oleh senjata saudaranya dari timur. Ia berlari kearah Kediri. Dan sampai hayatnya meninggalkan prasasti tulisan Palawa/Sangkakala di daerah Gunung Kawi.

Perebutan kekuasaan itu tentunya banyak meninggalkan korban dari kedua belah pihak, terutama para bala prajurit. Setelah kejadian ini hubungan antara kedua pihak keluarga menjadi tidak harmonis lagi, bahkan pihak dari keluarga Siliwangi dari timur mulai meninggalkan agama Hindu sebagai agama dari keturunannya. Sejak saat itulah mereka mulai menghimpun diri menjadi kekuatan kelompok masyarakat, dan pada akhirnya kelompok kekuatan itu kelak menjadi wilayah kerajaan-kerajaan diantaranya seperti ; Singosari, Majapahit.

Khususnya mengenai Gajah Mada maupun Hayam Wuruk, sebagaimana telah disinggung diatas beliau merupakan keturunan Pajajaran dan diisyaratkan dengan tanda pada batu yang menggambarkan tapak kaki gajah dan telapak kaki ayam yang terdapat di tepi sungai Ciampea telah hilang. Sayang artifak jejak kaki ayam telah lenyap sehingga sulit menjadi pembuktiannya. Gajah Mada sendiri ketika di Pajajaran menjadi Pengawal (patih) yang ke 3 dan beliau meninggalkan berupa tanda batu di Batu Gede – Bojong Gede.

SILIWANGI ZAMAN ISLAM

Siliwangi sendiri dikatakan “Slam Tunggal”, karena sejak lahir telah kulup sehingga nampak seperti telah disunat. Pada zaman Islam beliau telah melakukan sunatan terhadap keluarganya. Hanya sayang pratek khitanan yang dilakukan oleh Siliwangi dengan menggunakan kuku dan batok. Lubang yang nampak di bagian ujung batok kelapa dijadikan lubang penis, kemudian penis yang menjulur ia potong dengan kuku. Namun pertama khitanan yang dilakukan Siliwangi telah merenggut nyawa keluarganya, karena salah memotong. Salah satu korban salah potong khitanan tersebut, dimakamkan di sebelah selatan Batutulis sekarang.

Generasi Siliwangi ke 14 yaitu yang bergelar Haji Kiayi Santang, setelah gagal melakukan khitanan di Lemah Duhur – Batutulis Bogor akhi embali lagi menemui gurunya di Tanah Arab. Sekembalinya dari jazirah Arab, beliau hijrah ke Gunung Mandalawangi Garut. Di Godog Suci itulah di mulai pengislaman melalui khitanan lagi. Haji Kiyai Santang atau S _`7 atau dikenal pula bernama Sangiyang Sunan Rohman yang kemudian akrab dengan nama Sunan Rohmat, dan sampai akhir hayatnya bersemayam di Gunung Mandalawangi. Suatu saat suka mengunjungi Gunung Batu/Cupu/Sunda dan di Gunung Bentang Sukabumi pula, bernama Eyang Sunan Agung Cakrawala atau Kiyai Santang Ratu Sunda. Tetapi, beliau lebih banyak menempati Lemah Duhur – Batutulis Bogor dengan panggilan Eyang Embah Buyut Haji Wali Jaya Sakti Mangkurat Jagat nu linggih di Lemah Duhur Wali Tunggal Pakuwon Pajajaran. Dan selalu didampingi oleh saudaranya Sangiyang Lodaya Sakti.

Gunung Bentang – Sukabumi

Oleh karena itu, tidak mustahil banyak diantara keturunannya menjadi tokoh Islam dan menggunakan nama-nama Islam seperti nama Mama Kanjeng Sunan bagi anak laki-laki dan atau nama Siti bagi yang perempuan. Bahkan beliau sendiri disamping menggunakan nama terkesan Hindu atau Budha seperti Sangiyang, Batara atau Prabu juga menggunakan nama lain seperti Haji Sakti Qodratullah, Haji Putih. Bahkan ada nama lain beliau yang bernuansa Sunda kental yaitu Haji Agung Komara Putih.

Ketika di keturunan Siliwangi mengadakan pertemuan di Gunung Tengger – Bromo (meliputi wilayah Probolinggo, Malang, Pasuruan dan Lumajang), pembahasannya menyinggung aliran (ageman) cara beribadah. Keturunan yang masih menganut Sunda (Hindu) tetap beribadah dengan caranya, sedangkan agama baru yaitu Islam beribadah pula dengan aturannya. Namun tetap dari sekian banyak keturunan masih ada yang berselisih yaitu antara Ki Gede Palimanan dengan Prabu Atas Angin.

Ki Gede Palimanan adalah salah seorang keturunan Sancang Lodaya Sakti. Sancang Lodaya Sakti adalah salah satu keturunan Siliwangi dari istrinya yang berada di Gunung Ceremai Kuningan. Sejatinya suka menjelma bagaikan “seekor harimau”. Oleh karena itu, keturunan Ki Gede Palimanan tak pernah dan tidak mau menyebut nama Ki Gede Palimanan karena setiap mengucap nama itu maka dihadapannya akan hadir tiba-tiba seekor harimau. Penduduk dan keturunannya selalu menyebut dengan nama Mbah Kuwu Sangkan.

Ki Gede Palimanan, tidak menyukai Prabu Atas Angin karena tetap tidak mau beralih keyakinan beragama. Beberapa kali Prabu Atas Angin ia bunuh, namun setiap anggota badan Prabu Atas Angin menyentuh tanah maka ia hidup kembali dan badannya utuh lagi. Begitulah seterusnya. Tetapi setelah dibunuh badan Prabu Atas Angin digantung tidak menyentuh tanah, barulah benar-benar meninggal. Sejatinya Prabu Atas Angin memiliki ilmu “Batara Bumi”.

Prabu Atas Angin memiliki garwa Ibu Ratu Bungsu dari keturunan Ki Buyut Sawala. Dari perkawinan itu lahirlah Syeh Siti Jenar. Dilain pihak, yaitu Ki Gede Palimanan mulai menyebarkan ajaran Islam di Gunung Murti Jati atau lebih dikenal dengan nama Gunung Jati karena disana banyak terdapat pohon jati – Cirebon. Syeh Siti Jenar memiliki ilmu jiwa raganya dipenuhi “pangaweruh tanpa guru”. Namun perselisihan paham tentang ajaran Islam dengan Dewan Walisanga, menjadikan Syeh Siti Jenar yang tengah berkiprah didaerah Tuban – Demak Bintoro dianggap penganut Islam sesat. Untuk menghindari perseteruannya dengan para Walisanga, akhirnya Syeh Siti Jenar lebih banyak berkhalwat di Cirebon Girang.

Syeh Siti Jenar diyakini akhirnya melepas sukmanya, di daerah Gunung Awisan Kanoman atau Plangon Cirebon. Syeh Siti Jenar atau nama lain yaitu Syeh Lemah Abang, ajarannya lebih menitik-beratkan terhadap tasawuf dan mengandung nilai metafisika, dipandang Dewan Walisanga menyimpang dari ajaran Islam. Pada akhirnya keturunan Pajajaran ini murca. Ketika penulis ke Plangon, ternyata disana dinamai Syeh Syarif Abdurahim atau Pengeran Kejaksan. Namun Syeh Siti Jenar sebelum tilar dunya, mempunyai keturunan yang bernama Slingsing yang juga penyebar agama Islam di daerah Kudus.

Syeh Syarif Abdurahim atau Pangeran Kejaksan mempunyai saudara kandung yaitu Syeh Pangjunan. Dari Saudara-saudara Pangeran Kejaksan inilah menurunkan ulama yang menyebarkan agama Islam ke berbagai peloksok daerah melalui salah seorang keturunannya, yaitu Syeh Syarif Hidayatullah. Salah satu wilayah yang di Islamkan termasuk Banten. Di Banten mempunyai garwa Ibu Ratu Kawung Anten dan melahirkan Syeh Sabakinkin dan Ratu Winaon. Ayah Syeh Syarif Hidayatullah adalah Maulana Muhammad Syarif Abdullah bin Nurul Alim, seorang pejabat di jazirah Arab. Dari da’wah Syeh Syarif Hidayatullah inilah penyebaran agama Islam berkembang pesat.

Begitulah Siliwangi. Beliau yang memiliki berbagai nama menyukai hidup berpindah-pindah tempat layaknya kaum nomaden. Memang secara lahiriyah kurang masuk akal sebab begitu mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, namun keadaan alam pada zaman itu mendukung petualangan Siliwangi. Kepindahan Siliwangi juga bukan tanpa sebab, beliau mendiami di satu tempat disamping beristri untuk memperbanyak keturunan juga dengan menurunkan ilmu yang berbeda pula. Sehingga dapat disimpulkan membina setiap keturunan dengan sikap dan sifat yang berbeda disatu tempat dengan tempat lainnya. Namun walaupun demikian, tetap tujuan utamanya agar anak keturunannya menyembah kepada Allah SWT dan mengikuti ajaran yang diwariskan Allah kepada para Rasulullah SAW.

RAMALAN PRABU SILIWANGI

Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zaman Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521).
Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya. Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Di akhir masa pemerintahannya, Prabu Siliwangi dikabarkan menghilang, dan sampai sekarang masih merupakan misteri dimanakah beliau berada, sebelum itu beliau meninggalkan pesan-pesan untuk pengikutnya.
Pesan-pesan inilah yang dipercaya sebagai ramalan Prabu Siliwangi untuk kejadian yang akan terjadi dimasa yang akan datang.
Beginilah pesan-pesannya :

Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!
Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”

Artinya :
Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang :
“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”

Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!

Artinya:
Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!

Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!

Artinya:
Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!

Artinya:
Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!

Artinya:
Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!

Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.

Artinya:
Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.

Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.

Artinya:
Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Antar Waktu! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.

Artinya:
Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!

Artinya:
Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!

Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.

Artinya:
Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.

Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.

Artinya:
Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.

Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.

Artinya:
Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.

Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Artinya:
Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.

Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.

Artinya:
Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung/gembolan kain tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.

Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Artinya:
Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Artinya:
Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.

Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!

Artinya:
Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!

Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.

Artinya:
Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.

Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!

Artinya:
Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.

Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!

Artinya:
Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!
PENUTUP

Kejayaan Siliwangi jauh sebelum adanya besi. Memang fantastis. Oleh karena itu, Siliwangi beserta kisah sejarah, maupun peninggalannya sampai kini masih ditelusuri dan penuh dengan misteri yang belum terungkap. Hanya dimanakah Siliwangi berada ? Siliwangi telah ngahiyang. Mungkin ngancik pada keturunannya, mungkin pula pada setiap atau tokoh Pajajaran yang menyebar di Nusantara. Namun yang pasti Siliwangi telah murca di suatu tempat. Selama itu pula, anak keturunan Siliwangi sampai saat ini masih menulusuri jejak nenek moyangnya. Kata orang Sunda, masih “nyucuk galur mapay galengan sugan aya cukang lantaran”, Iraha, dimana, jeung kumaha ayeuna Siliwangi? Mungkin banyak ragam yang mengartikan, biarlah menurut keyakinan, kepercayaan dan mata hatinya masing-masing. Toh karuhun selalu bersifat, bersikap dan berhati arif bijaksana “lautan hampura”. Apapun dan bagaimanapun alur yang mengkisahkan Siliwangi dengan Pajajarannya, merupakan pertanda masih memiliki sebersit “kadeudeuh / kanyaah” terhadap nenek moyangnya.

PADA AWAL 2012 POPULASI DUNIA MENCAPAI 7 MILIAR JIWA

United Nations, – Menurut perkiraan PBB, populasi dunia akan mencapai angka 7 miliar jiwa pada awal 2012 dan mencapai 9 miliar pada tahun 2050 dengan mayoritas peningkatan sangat besar terjadi di negara-negara berkembang Asia dan Afrika. Hania Zlotnik, direktur Divisi Populasi PBB, mengatakan bahwa tidak terjadi perubahan besar dari perkiraan perkembangan populasi dewasa ini. Perkiraan tersebut berdasarkan asumsi fertilitas sekarang, yakni sekitar 2,56 anak per wanita dan akan menurun sekitar 2,02 persen per wanita seluruh dunia. Zlotnik mengatakan jika fertilitas tetap berada di angka sekarang, maka populasi akan mencapai 10,5 miliar pada tahun 2050. Jika menurun dari yang diperkirakan menjadi 1,5 maka populasi hanya meningkat sekitar 8 miliar pada pertengahan abad nanti. Perkembangan populasi masih terkonsentrasi di Negara-negara paling padat dunia hingga 2050. Sembilan negara yang terhitung memberikan 50 persen pertambahan tersebut adlah India, Pakistan, Nigeria, Ethiophia, AS, Kongo, Tanzania, Cina dan Bangladesh.

Namun perbandingan sangat kontras berlangsung di 45 negara atau wilayah dan di prediksi menurun 10 persen pada periode yang sama diantaranya Jepang, Italia dan banyak negara lain pecahan Uni Soviet. Menurut studi yang dilakukan, jumlah migrant terbesar akan bergerak menuju AS dengan perkiraan 1,1 juta setiap tahun antara 2010 hingga 2050. Menurut Gerhard Heilig, kepala bidang Perkiraan Populasi PBB, para pendatang ditambah rasio kelahiran anak akan meningkatkan secara drastis populasi negeri Paman Sam dari perkiraan 314,7 juta pada pertengahan 2009 ini menjadi 403,9 juta pada tahun 2050.

SATRIO PININGIT

Menurut ramalan dari warisan kitab-kitab leluhur, bahwa suatu saat nanti negara tercinta ini akan di pimpin oleh “seseorang” yang merupakan titisan / reinkarnasi” dari orang yang “mulia” di masa lalu.

Ia akan mengejawantahkan hidupnya demi kemajuan peradaban akhlak, yang mengedepankan budi pekerti yang luhur.

Lalu dimanakah SANG SATRIO PININGIT ini berada ???

Apakah Ia telah lahir ke dunia ini ???

Lalu, Apakah yang akan ia lakukan ???

Mungkin bagi sebagian besar orang, bahwa ia hanyalah merupakan sekedar mitos, simbol atau isapan jempol belaka. Tapi, lain bagi sebagian pihak khususnya orang2 yang sudah memahami TANDA-TANDANYA. Bahwa SANG DINANTI ini, pasti akan datang, dan dia akan memberikan kiprahnya di NEGARA TERCINTA ini.

Hemmm,…  bagaimanakah dengan pendapat anda ????

Percaya atau tidak ????

Terserah anda menyikapinya …..

Salam

MUSIBAH “YG PERLU DI WASPADAI” DI BULAN MEI 2009

Salam Kasih dan Damai untuk kita semua…

Sekedar informasi,… Menurut analisis Eyang Sepuh,…

Bahwa di akhir bulan April 2009 dan di bulan Mei 2009 mendatang, ada beberapa kejadian “kecil” yang perlu di “waspadai”… di negara tercinta ini.

“BENCANA ALAM” DAN “SARANA TRANSPORTASI”

Sehingga mengakibatkan beberapa orang yang akan meninggal sia-sia, dan kerugian material yang cukup besar.

INGAT !!!

JANGAN DILIHAT BERAPA JUMLAH YANG AKAN JADI KORBAN….

TAPI PAHAMILAH… MENGAPA BISA TERJADI ???

APAKAH KITA SUDAH LUPA PADA YANG KUASA…???

Yang perlu diwaspadai khususnya dibeberapa daerah di :

JAKARTA, JAWA BARAT, JAWA TIMUR, SUMATERA BARAT dan SULAWESI SELATAN.

( Maaf, penulis tidak memberikan lokasi yang spesifik,…

kalau ingin tahu,… tanyalah pada orang2 yang sudah tahu di tahunya….

atau tanyalah pada NURANI masing2…..

kalau tidak bisa, ya belajar to mas / mba’ yu…

mumpung masih diberikan kesempatan oleh “Sang Gusti”

karena zaman akan berputar,…. perlahan … tapi pasti )

Karena lokasi-lokasi tersebut di sinyalir “masuk” dalam daftar “daerah rawan bencana/musibah”.

Informasi ini mungkin menjadi tanda tanya besar bagi para pembaca…

Penulis tidak bermaksud untuk memberikan informasi yang membuat resah bagi warga yang tinggal di daerah tersebut, tetapi kami hanya ingin memberikan “sekedar sekilas info” tuk dijadikan “nasehat” atau “wacana publik” bahwa kita harus “mawas diri” atas apa yang ada di alam ini sekarang atau akan datang.

Pun demikian, informasi ini boleh percaya atau tidak….

Terserah anda menyikapinya….

Yang penting,…. sing eling lan waspodo

karena zaman akan berputar….

dan mengisyaratkan tanda-tandanya,….

serta sang waktu akan selalu setia mendampingi roda zaman ini…

waspadalah,….!!! waspadalah,….!!!

=SEKILAS INFO=

 

 Segala puji bagi Sang Maha Pengasih tak pilih kasih dan Maha Penyayang yang tak pandang sayang. Kepada-Nya setiap makhluk bergantung, berlindung dan bertawakkal.

Dengan pertolongan-Nya maka semua kemudahan akan dilimpahkan-Nya kepada semua makhluk tak pandang bulu. Mengingat begitu pentingnya PERAN SPIRITUAL ditengah hiruk pikuknya alur alir kehidupan saat ini, maka kita selayaknya dapat meningkatkan SPIRITUAL kita secara cepat, efektif, mudah dan berkualitas. Sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi panduan dalam menjalani dan mensiasati lika liku kehidupan. Jika demikian, nilai-nilai kasih dan kebaikan dari Sang Maha Pencipta dapat terngejawantahkan, maka sesama manusia bisa saling ASAH, ASIH DAN ASUH… sesudah itu, maka tercapailah kebahagiaan dan kedamaian dimuka bumi. Meningkatkan dan mendayagunakan Energi Spiritual pada dasarnya dapat menjadi SANGAT MUDAH. Ya,.. semudah anda mengedipkan mata, tanpa persyaratan dan teknik yang memberatkan dan membingungkan.

Oleh karena itu, mari kita berdayakan Energi Spiritual kita tuk hidup yang BERKUALITAS. Menjadi makhluk yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Ya… Saatnya kita bangun kesadaran diri dan berkarya untuk negeri ini MENUJU NUSANTARA JAYA.

Eyang Sepuh sudah memberi restu, bahwa dalam beberapa bulan kedepan, kami akan terbitkan beberapa artikel mengenai panduan teknik dalam meningkatkan spiritual kita. Artikel tersebut merupakan bagian kecil dalam “kitab pusaka” warisan leluhur yang berjudul :

“KUNCI MENCAPAI SPIRITUAL EMAS”.

DAFTAR ISI :

BAB I MAKHLUK DAN TUHAN

BAB II MENJADI MASTER SPIRITUAL

BAB III TEKHNIK “EMAS” MENINGKATKAN SPIRITUAL

BAB IV MENDAPATKAN “KUNCI SEJATI”

BAB V MENJADI KEKASIH TUHAN

SALAM, semoga nantinya dapat bermanfaat bagi kita semua….

MITOS-MITOS

MITOS PENGUASA LAUT SELATAN


Konsep Bahari Defensif Kerajaan Mataram

Konsep penyatu-ragaan Senapati – Lara Kidul: konsep politik
SEKITAR tujuh kilometer arah selatan desa Pleret Kotagede, terletak desa Ngrasawuni. Di arah timur dan timur laut desa ini konon dahulu menjadi tempat Sang Senapati dan Nyai Lara berkencan. Bekas bekas yang masih diingat dalam cerita tutur orang ialah: gua dan bukit yang disebut Gunung Payung. Di bukit ini terdapat dua makam. Yang satu makam kuda sembrani, kuda bersayap kendaraan Senapati, yang bekas telapak nya tercetak pada “batu gilang” di dekat situ. Yang lain “makam kama”, yaitu makam sperma Senapati yang tetes di tanah di bukit itu.

Kesatu ragaan Pandawa Pandu dengan Pandawa Lelembut di Astina sejatinya merupakan kesatu ragaan politik. Begitu juga perkawinan Lara Kidul dengan Senapati pada dasarnya perkawinan politik. Senapati memperoleh kedaulatan atas wilayah Mataram, di samping Laut Selatan yang tak berbatas itu. Ini sekaligus merupakan satu deklarasi politik Sutawijaya di depan Adiwijaya, ayah angkatnya. Deklarasai, bahwa Mataram bukan penerus Pajang, baik de facto maupun de iure. Dengan itu pula,
sekaligus untuk “menggertak” lawan lawan nya, Senapati memamerkan kelebihan lelembut istrinya itu di depan segenap makhluk halus yang tak terbilang banyak nya:

‘Gung pra peri perayangan ejim
sumiwi Sang Sinom
Prabu Rara yekti gedhe dhewe.
(kutipan dari “Babad Nitik”)
saya terjemahkan:
segenap makhluk halus jin
bersembah pada Sang Ratu
yang besar tak bertara

Saya sependapat dengan Ben Anderson yang melihat benteng (saya tambah: juga “jagang” atau parit) di sekeliling kraton Yogya dan Solo, terutama bukan sebagai barikade terhadap tentara musuh, tapi lebih merupakan pernyataan tentang garis batas antara “krama” dan “ngoko”, antara “priyagung” dan “wong cilik”.*

Walaupun begitu terdapat beda, yang seperti bumi dan langit, antara dasar konsepsi pada lakon carangan “Babad Alas Wanamarta” dengan legenda “Babad Alas Mentaok”. Jika pada yang pertama bersifat materiel, pada yang kedua bersifat im-
materiel. Yang pertama kenyataan dihadapi sebagai dan dengan kenyataan, yang kedua kenyataan dihadapi sebagai dan dengan impian. Maka dari itu dunia pedalangan ditutup dengan “Bratayuda Jaya Binangun”, dan berakhir dengan kemenangan pihak Pandawa terlepas berapa besar pun kurban yang harus jatuh. Sedangkan babad Mataram, yang mungkin bisa dipandang sebagai “perwakilan Jawa” pada jaman nya, sejak itu tidak
pernah mengenal lagi perang untuk sesuatu nilai. Tidak pernah lagi berinisiatif ofensif. Impian nya pun impian lesu tentang Ratu Adil, yang tak berdarah dan tak berdaging, dan dibangun di atas seribu satu ramalan Jayabaya dan semacamnya, atau
tafsir tafsir yang dipaksakan atas “Jaka Lodang” dan “Kalatida” dari Ranggawarsita. Tidak bisa lain, karena keagungan kerajaan Jawa memang sudah habis bersama dengan
tahun candrasangkala jatuhnya Majapahit: “sirna hilang kartaning bumi” (hilang lenyap keagungan negri).

Mengusut latar belakang mitos
ENTAH lidah atau tangan siapa yang pertama tama mendoktrin kan mitos Lara Kidul itu. Tapi pastilah dari lidah atau tangan yang memang memenuhi syarat syarat kepujanggaan. “Wedatama”, yang mem-p4-kan 6) keagungan Senapati berikut mitos Lara Kidul, berasal dari paro sampai perempat terakhir abad ke-19. Kira kira satu abad sebelumnya, tepat nya 11 November 1743, VOC memang telah menodong tanda tangan Paku
Buwana II di pembaringan sakit nya. Dan dari surat todongan itu (agaknya semacam Supersemar Suharto), didapat lah hasil hasil oleh VOC:
(1) sepanjang pantai utara Jawa, dan wilayah sejauh 6 Km
ke pedalaman dikuasai VOC;
(2) semua Bupati pesisir utara Jawa, sebelum mulai
berfungsi, harus bersumpah setia kepada VOC.
Itulah angka tahun ketika kerajaan Jawa secara definitif kehilangan kekuasaan nya atas laut utara. Dan tahun itu (1743), kira kira hanya selang dua dasawarsa saja dari “Babad Karangbolong”. Oleh karenanya sejak itu, orang mengadakan
selamatan dan upacara, setiap kali sebelum turun ke gua, untuk mengutip sarang burung. Selamatan dan upacara yang dipersembah kan bagi Dewi Lampet. Upacara ini disertai dengan pergelaran wayang kulit yang mengambil lakon “Dewi Lampet”, sebuah nama dan versi lain dari tokoh Dewi Laut Selatan yang satu itu juga: Nyai Lara Kidul (baca: “Histoire de Dewi Lampet: Le Mythe de la Deesse de la Mer du Sud a Karang Bolong” , Claude Guillot; Archipel 24/1982; hal. 101-06).
Tapi semuanya itu tentu tidak berarti bahwa mitos Lara Kidul ini mulai (di)timbul(kan) pada sekitar tahun tahun tersebut. Jauh jauh hari pada senja riwayat Kerajaan Demak, wawasan tentang keadaan dan pengarahan politik telah dibisik
kan Sunan Kalijaga kepada Mas Karebet alias Jaka Tingkir, kelak Sultan Adiwijaya di Pajang. Tanpa menyebut masalah armada dagang berikut ancaman meriam meriam Spanyol,
Portugis, Belanda dan Gujarat di laut utara [tapi wali yang arif ini pasti mencatat di ingatan nya dua kali pengalaman kekalahan Pati Unus di Malaka], diperintah nya Karebet: pertama, agar tidak mempertahankan Demak, tapi membangun
pusat bakal kerajaan nya di pedalaman; dan kedua, agar kerajaan nya kelak tidak bersandar pada para “dagang layar” di laut, tapi pada kaum “among tani”. (baca: Atmodarminto, Babad Demak Jarwa, Penerbit “Pesat” 1954).
“Carilah bakal pusat kerajaan mu itu di dekat Prambanan,
di pinggir Kali Kuning sana!” Begitu kira kira nasihat
Kalijaga pada Mas Karebet. Tinggal kan Laut Utara, mundur dan
masuk ke pedalaman.
“Arus sudah berbalik!” Kata Pramudya
Ananta Toer.
Revaluasi atas wawasan situasi objektif, yang
meninggalkan konsep wawasan nusantara bahari, diuji penjabaran nya terutama oleh Sultan Agung Anyakrakusuma (1612-45). Tapi ternyata mengalami kegagalan. Dua kali ekspedisi ke Betawi dikirim (1628 dan 1629), dua kali pula gagal. Bukan saja sama
sama dedel duwel dengan VOC di Betawi (konon J.P. Coen berhasil dipenggal kepalanya oleh lasykar Mataram?), tapi juga harus menghadapi pemberontakan “golongan ketiga” yang sedang tumbuh di pedalaman Mataram. Pemicu pemberontakan ini, agaknya, jika kita mencermati dongeng rakyat “Pranacita – Rara Mendut”, akibat semacam “krismon” yang dicoba hendak diatasi dengan (karena belum ada IMF!) politik perpajakan. Begitu juga
oleh sabotase besar besaran dari para “bupati pesisir”, sepanjang barat Semarang sampai Rengasdengklok. Sayang “benang merah” tutur Jawa ini kurang diangkat, baik oleh YB. Mangunwijaya maupun oleh Ami Prijono, masing masing dalam
novel dan film nya tentang Rara Mendut.

Lahir dari konsep defensif
G.J.Resink benar, mensinyalir mitos Lara Kidul ini,
dengan menghubungkan nya dengan armada armada Spanyol, Portugis dan Belanda yang dalam masa itu sudah malang melintang di Laut Jawa (“Mers Javanaises”; Archipel 24/1982, hal. 97-100). Namun demikian ini tentu saja tidak berarti, bahwa kepercayaan pada ruh penguasa laut belum ada di Jawa sebelum masa itu. Sebutan “nyai” itu sendiri, bentuk feminin untuk “kyai”, sejenis honorefik prefiks bagi orang tua yang
dimuliakan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Termasuk dalam yang akhir ini, terutama yaitu arwah “bahureksa” yang di lain tempat disebut “pamali” (Buru), “danyang” (tentu dari “da” dan “hyang”), dan lain lain.
Nyai Lara Kidul konon berparas cantik. Beda dengan Durga (Umayi) atau si Janda dari desa Girah, Calon Arang. Tapi wataknya? Jelas, tidak pernah melempar senyum barang secercah pada “kawula cilik”. “Lampor” nya bikin takut anak anak. Ia
juga luar biasa pencemburu pada perempuan tani di desa. Jika gadis gadis desa dan gunung itu, satu kali setahun, pada kesempatan hari raya Lebaran ingin bergembira ria di laut, bukan main banyak pantangan mereka. Tidak boleh berbaju warna
“gadung”, “gadung melati”, “jingga”, dan sebagainya; tidak boleh berkain “poleng alit”, “teluh watu” dan semacam nya. Juga pada penduduk desa umumnya. Ini terjadi sangat hebat, misalnya, di sekitar tahun 1956. Dihamuk nya rakyat
Gunungkidul yang miskin tak berdaya itu. Gelombang Laut Selatan bergulung gulung menghempas pantai, sambil melepas berjuta juta balatentara yang berupa tikus tikus. Dan dimangsanya segala apa saja. Bukan saja tumbuhan dan hasil bumi, bahkan ternak dan bayi anak anak manusia juga dimakan.
Lalu, sekali lagi terjadi pada tahun 1946. Ketika itu Nyai Lara Kidul memerlukan tambahan balatentara, guna memerangi tentara Nica yang musuh Mataram, dan juga musuh Republik. Maka untuk rekrutering balatentara lelembut itu, dibunuhinya
rakyat dengan menyebar wabah pes tanpa pardon! (Yuyud! Ini positif atau negatif, coba? Ironis ya Mas Wah? Jika mitos telah berhasil ditanamkan.)

Penutup
Menghadapi mitos, legenda, saga dan sebangsanya, bukan lah “who’s who” nya yang penting. Tapi “mengapa” nya, lalu “bagaimana” nya. Di situ lah soal nya. Maka itu, menurut hemat saya, bukan soal beratus nama dan beribu versi penuturan yang
masalah. Namun, karena terperangkap keasyikan mencari tahu “apa siapa” nya itu, orang terkadang lantas tergelincir berasyik masyuk di dalam “dichtung” kejadian nya saja. Bung Karno, dalam ceramah di Universitas Gajahmada (1954?) menyi- kapi legenda Nyai Lara Kidul ini dari konsep impian wawasan nusantara bahari. Juga di dalam
“Sarinah”, diceritakannya tentang mitos laut bangsa bangsa Timur Tengah, yang mengandung kisah kisah perjuangan mereka dalam menunduk kan laut. Demikian juga Bima. Tak kurang gagah dan perkasa nya pula tokoh idola Bung Karno itu. Ada satu kali
ia memang kompromi dengan Nagaraja di Saptapratala. Tapi itu terjadi bukan lantaran Nagaraja berputri Nagagini yang jelita, melainkan karena keadaan darurat. Bahwa ia harus menyelamatkan empat saudara saudaranya dan Kunti, ibunya, dari pengejaran
Kurawa, sesudah kegagalan usaha pembunuhan dalam peristiwa
judi di Balai Sigalagala itu. Selebih nya paling tidak tiga kali Bima telah bertempur mati matian, dan berhasil mengalah kan tokoh tokoh bahureksa sakti: Hidimba (Arimba), raksasa penunggu pohon randu alas; dua raksasa kembar penunggu gunung;
dan seekor naga laut dalam kisah “Dewaruci”. Konon kisah “Dewaruci” berasal dari jaman Mamenang (Isyanawikrama alias Empu Sindok), sekitar enam abad lebih tua dari jaman Mataran Senapati.
Kisah kisah perjuangan dan kemenangan anak manusia Jawa terhadap arwah bahureksa seperti itu, banyak terdapat baik dalam dunia wayang maupun dalam dongeng rakyat.
Adanya berbagai versi penuturan mitos tentang laut, menandakan juga adanya berbagai tokoh bahureksa laut di berbagai daerah kebudayaan. Tapi, beda dengan mitologi Hindu yang memandang laut sebagai laki laki (Dewa Waruna), di
Indonesia (seperti di Mesir) bahureksa laut mendapat bentuk sosok perempuan. Seperti halnya bumi, tanah dan air, laut merupakan unsur pengandung – pelahir – dan penyusui kehidupan.
Rakyat Buru selain mengenal Ina Kabuki, ratu yang bertahta di dasar Teluk Kayeli, juga mempunyai tokoh Boki Ronja(ng), “pamali’ atau bahureksa sungai Wai Apu.
Bentuk feminin itu barangkali juga karena, di hadapan langit, laut terletak di bawah. Dari dunia pedalangan sering kita dengar kata kata, diucap kan terhadap tokoh yang akan dikenai senjata pamungkas; “tumengaa Bapa Angkasa, tumungkula
Babu Pertiwi” (tengadah lah pada Bapa Langit, dan tunduk lah
pada Ibu Bumi”. Gagasan pemikiran demikian, bahwa “bapa” (laki laki) adalah langit, dan “ibu” (perempuan) adalah bumi, sesuai dengan konsep susunan bangunan lingga dan yoni.
Kemanunggalan Mataram dan Laut Selatan adalah mutlak, karena Laut Utara tidak lagi memberi lebensraum. Kesatu- tubuhan Senapati – Lara Kidul adalah mutlak, karena itu ialah kesatuan nya antara langit dan bumi, antara lingga dan yoni.
Mitos Nyai Lara Kidul sebuah konsep yang mempunyai akar sejarah pada “Wahyu Majapahit”, mempunyai dasar ideologi pada dua aspek “gender” dalam satu tubuh (bandingkan dengan sesaji “ardanareswari” di Bali), dan merupakan antropomorfi dari
wawasan bahari Kerajaan Mataram yang telah hilang.
_______________________________
1 Profesor (pensiun) G.J. Resink (Yogya 1911-Jakarta 1996).
Artikel ini ditulis dan disiarkan “Kompas Minggu” tahun 1982.
2 Dalam konsepsi Jawa, perempuan atau syakti (“sy” ini
mestinya “c cedille”) yang maha hebat agaknya selalu
dilukiskan sebagai “mengerikan”. Ingat: Sarpakenaka, Durga,
Calon Arang, sedikit banyak juga “Durga Umayi” YB
Mangunwijaya, dsb.; bandingkan dengan konsepsi Barat yang
sebaliknya: Maria, Aya Sofia dll. Kenapa begitu, ya!?
3 Perhatikan gelar ini: “panembahan” gelar yang biasa
disandang para wali, raja atau bangsawan tinggi, yang kuasa
atas bidang ruhani (agama) dan kenegaraan. Jadi boleh lah di
terjemahkan sebagai: Yang Suci Panglima Perang. Gelar ini
tampaknya timbul dari satu jaman, ketika “dua tangan” (ulama
dan raja) memegang “satu fungsi” yang bersegi kembar ibarat
“kupu tarung” (segi ruhani dan badani), yaitu (untuk Jawa
Tengah) di jaman kerajaan Demak; dan lebih melembaga di jaman
ketika “dwi fungsi’ (agama dan politik) dipegang satu tangan,
yaitu sejak jaman Panembahan Senapti dan lebih tegas lagi
sejak Amangkurat.
4 Adat kepercayaan demikian terdapat pada banyak suku murba
(terjemahan saya untuk “primitif” yang di telinga saya
terdengar melecehkan), juga sementara suku di Irian dan Papua
Niugini.
5 Ruba, Ruang Bawah Tanah, diambil dari istilah yang dipakai o-
leh gerakan perlawanan bersenjata melawan pemerintahan rezim
$uharto tahun 1968 di sekitar Blitar Selatan. Ide sistem perta
hanan ini diambil dari pengalaman para pejuang Vietnam ketika
mereka melakukan ofensif milter mengepung benteng Dien Bien Phu
yang akhirnya membebaskan mereka dari penjajahan Prancis.
6 P4 istilah Orde $uharto “Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila” tak lain istilah selubung untuk “indoktrinasi” atau
“brainwashing”.

DUNIA MAKHLUS HALUS

Pada kenyataannya banyak orang yang tertarik menelaah pada dunia mahkluk halus, barang kali mereka mendengar beberapa cerita atau membaca tulisan atau dari buku-buku. Bagi orang yang telah mencapai ilmu sejati dalam kejawen atau mungkin yang sudah menguasai metafisika, dunia mahkluk halus itu biasa adanya, bukannya omong kosong. Dibawah ini digambarkan informasi dari dunia-dunia mereka versi kejawen,dimana (lebih dari satu dunia) paling tidak yang terjadi ditanah Jawa.

Banyak ahli kejawen mempunyai pendapat yang sama bahwasanya di dalam dunia yang satu dan sama ini, sebenarnya dihuni oleh tujuh macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Di dunia ini memiliki tujuh saluran kehidupan yang ditempati oleh bermacam-macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing, aktivitas mereka tidak bercampur setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu hanyalah alamnya manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain mempunyai badan jasmani.

Penduduk dari 6 alam yang lain mereka mempunyai badan dari cahaya (badan Cahya) atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus – wong alus – mahkluk yang tidak kelihatan. Di 6 alam itu tidak ada hari yang terang berderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan bintang-bintang yang terang, maka itu tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar matahari atau bagaskoro (Jawa halus)

Konon Ada 2 macam mahkluk halus :

1. Mahkluk halus asli yang memang dilahirkan – diciptakan sebagai mahkluk halus.

2. Mahkluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh.

Mahkluk-mahkluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai masyarakat maka itu ada mahkluk halus yang mempunyai kedudukan tinggi seperti Raja-raja, Ratu-ratu, Menteri-menteri dll, sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja dll.

Inilah kenyataannya yang bukan hanya merupakan ilusi atau bayangan semata, alam lain itu antara lain :

1. Merkayangan

Kehidupan di saluran ini hampir sama seperti kehidupan di dunia manusia, kecuali tidak adanya sinar terang seperti matahari.

Dalam dunia merkayangan mereka merokok, rokok yang sama seperti dunia manusia, membayar dengan uang yang sama, memakai macam pakaian yang sama, ada banyak mobil yang jenisnya sama di jalan-jalan, ada banyak pabrik-pabrik persis seperti di dunia manusia. Yang mengherankan adalah, mereka itu memiliki tehnologi yang lebih canggih dari manusia, kota-kotanya lebih modern ada pencakar langot, pesawat-pesawat terbang yang ultra modern dll.

Ada juga hal-hal yang mistis di dunia Merkayangan ini, kadang-kadang bila perlu ada juga manusia yang diundang oleh mereka antara lain untuk : melaksanakan pertunjukkan wayang kulit, menghadiri upacara perkimpoian, bekerja di batik, rokok dan manusia-manusia yang telah melakukan pekerjaan di dunia tersebut, mereka itu dibayar dengan uang yang syah dan berlaku seperti mata uang di dunia ini.

2. mahkluk halus-Siluman

Mahkluk halus ini konon suka tinggal didaerah yang ber air seperti di danau-danau, laut , samudera dll, masyarakat siluman diatur seperti masyarakat jaman kuno. Mereka mempunyai Raja, Ratu, Golongan Aristokrat, Pegawai-pegawai Kerajaan, pembantu-pembantu, budak-budak dll. Mereka bisa tinggal di Keraton-keraton, rumah-rumah bangsawan, rumah-rumah yang bergaya kuno dll.

Kalau orang pergi berkunjung ke Solo-Yogyakarta atau jawa Tengah, orang akan mendengar cerita tentang beberapa siluman antara lain : Kanjeng Ratu Kidul – Ratu Laut Selatan, Ratu legendaris, berkuasa dan amat cantik, yang tinggal di istananya di Laut Selatan, dengan pintu gerbangnya Parangkusumo. Parangkusumo ini terkenal sebagai tempat pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, dalam pertemuan itu, Kanjeng Ratu Kidul berjanji untuk melindungi semua raja dan kerajaan Mataram.

Beliau mempunyai seorang patih wanita yang setia dan sakti yaitu Nyai Roro Kidul, kerajaan laut selatan ini terhampar di Pantai Selatan Pulau Jawa, di beberapa tempat kerajaan ini mempunyai Adipati. Seperti layaknya disebuah negeri kuno di kerajaan laut selatan ini juga ada berbagai upacara, ritual dll dan mereka juga mempunyai angkatan perang yang kuat.

Sarpo Bongso-Penguasa Rawa Pening.

Sebuah danau besar yang terletak di dekat kota Ambarawa antara Magelang dan Semarang. Sarpo Bongso ini siluman asli, yang telah tinggal di telaga itu untuk waktu yang lama bersama dengan penduduk golongan siluman. Sedangkan kanjeng Ratu Kidul bukanlah asli siluman, beberapa abad yang lalu beliau adalah seorang Gusti dikerajaan di Jawa, tetapi patihnya Nyai Roro Kidul adalah siluman asli sejak beberap ribu tahun yang lalu.

3. Kajiman

Mereka hidup dirumah-rumah kuno di dalam masyarakat yang bergaya aristokrat, hampir sama dengan bangsa siluman tetapi mereka itu tinggal di daerah-daerah pegunungan dan tempat-tempat yang berhawa panas. Orang biasanya menyebut merak Jim.

4. Demit

Bangsa ini bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang hijau dan lebih sejuk hawanya, rumah-rumah mereka bentuknya sederhana terbuat dari kayu dan bambu, mereka itu seperti manusia hanya bentuk baadannya lebih kecil.

Disamping masyarakat yang sudah teratur seperti Merkayangan, Siluman, Kajiman, dan Demit masih ada lagi dua menjelaskannya lebih detail, secara singkat kedua masyarakat itu adalah untuk mereka yang jujur, suci dan bijak.

Mahkluk halus yang tidak sempurna.

Disamping tujuh macam alam permanen tersebut, ada sebuah saluran yang terjepit, dimana roh-roh dari manusia-manusia yang jahat menderita karena kesalahan yang telah mereka perbuat pada masa lalu, ketika mereka hidup sebagai manusia.

Manusia yang salah itu pasti menerima hukumaan untuk kesalahan yang dilakukannya, hukuman itu bisa dijalani pada waktu dia masih hidup di dunia atau lebih jelek pada waktu sesudah kehidupan (afterlife) diterima oleh orang-orang yang sudah melakukan : fitnah, tidak jujur, prewangan orang yang menyediakan raganya untuk dijadikan medium oleh mahkluk halus) blakmagic, guna-guna yang membuat orang lain menderita, sakit atau mati dll, pengasihan supaya dikasihi oleh orang lain dengan cara-cara yang tidak wajar, membunuh orang dll perbuatan yang nista.

Memuja berhala untuk menjadi kaya (pesugihan) yang dimaksud dengan berhala dalam kejawen bukanlah patung-patung batu, tetapi adalah sembilan macam mahkluk halus yang katanya, suka menolong “ manusia supaya menjadi kaya dengan kekayaan meterial yang berlimpah.

Pemujaan terhadap kesembilan mahkluk jahat itu merupakan kesalahan fatal, mereka itu bila dilihat dengan mata biasa kelihatan seperti :

1. Jaran Penoleh – kuda yang kepalanya menoleh kebelakang

2. Srengara Nyarap – anmahkluk halusg menggigit

3. Bulus Jimbung – bulus yang besar

4. Kandang Bubrah – kandang yang rusak

5. Umbel Molor – ingus yang menetes

6. Kutuk Lamur – senagsa ikan, penglihatannya tidak terang

7. Gemak Melung – gemak, semacam burung yang berkicau

8. Codot Ngising – kelelawar berak

9. Bajul Putih – buaya putih.

Bagi mereka yang telah melakukan kesalahan dengan jalan memuja atau menggunakan “ jasa-jasa Baik “ berhala diatas, mereka tentu akan mendapat hukuman sesudah “ kematiannya “ badan dan jiwa mereka mendapat hukuman persyaratan sangkan paraning dumadi (datang dari suci, di dunia ini hidup suci dan kembali lagi ke suci)

Berbagai macam hukuman sesudah kehidupan :

Ini merupakan hukuman yang teramat berat, tidak ada penderitaan yang seberat ini, maka itu setiap orang harus berusaha untuk menghindarinya. Bagaimana caranya ? mudah saja : bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan melakukan perbuatan yang baik dan benar, berkelakuan baik, jujur, suka menolong, jangan menipu, jangan mencuri, jangan membunuh, jangan menyiksa, jangan melakukan hal-hal yang jelek dan nista.

Ada pepatah Jawa yang bunyinya “ Urip iku mung mampir ngombe “ artinya hidup didunia ini hanyalah untuk mampir minum, itu artinya orang hidup didunia ini hanya dalam waktu singkat maka itu berbuatlah yang pantas/ “pener”.

Sebenarnya, masalah mahkluk halus dapat diperoleh dari banyak sumber terutama di Indonesia. Banyak sekali orang di Indonesia yang mampu berkomunikasi dengan mahluk jenis mahkluk halus. Baik yang jahat atau tidak. Hal ini sudah dilakukan sejak lama sekali. Kerajaan-kerajaan di nusantara, khususnya di jawa selalu memiliki komunikasi tetap dengan mahluk2 ini. Bahkan mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kerajaan mahkluk halus yang jumlahnya sangat banyak di nusantara ini.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu beberapa teman yang ternyata bisa berkomunikasi dengan mahkluk halus. Mereka masih muda2. Dibawah 30 tahun. Penampilan dan gayanya biasa saja tidak seperti para paranormal/dukun yang kadang2 berkulit jubah & sorban. Awal mulanya mereka bisa dengan berlatih untuk bisa lebih sensitif dengan dunia gaib ada juga yang memang bakat yang dimilikinya yang terus diasah.
Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk lebih mengenal dunia di sana. Bagaimana perilaku mereka dan bagaimana kondisi dunia di sana. Saya akan sharing sedikit secara ringkas:

1. Bagaimana bisa berkomunikasi dengan mereka? Apakah saat berkomunikasi seperti mendengar suara atau juga melihat mereka?
** Komunikasi lebih banyak secara telepati, tanpa suara, dan tanpa tatap muka. Mereka mengetahui wujud dunia lain dengan telepati juga. Pokoknya tidak ada jalur komunikasi konvesional seperti di dunia manusia (kabel telpon, udara, dll) tapi langsung ke hati.

2. Saya tunjukkan foto suatu tempat lalu saya tanya apakah ada penunggunya? Lalu mereka mengatakan ‘ada’. Bagaimana bisa mengetahui keberadaan mereka padahal dari foto saja?
** Saat melihat foto atau penggambaran tempat, kami akan langsung berada di sana. Sama seperti komunikasi yang dapat dilakukan secara instan, perpindahan tempat bagi kami dan mereka juga secara instan tidak ada jalur yang perlu dilewati yang membutuhkan waktu untuk dijalani.

3. Bagaiman wujud mereka?
** Wujud mereka beragam dan sifat mereka juga beragam. Apa yang bisa mereka lakukan tergantung jenis mereka. Ada yang baik juga ada yang jahat. Mereka memiliki bentuk asli (yang sebenarnya) dan dapat berbentuk yang lain yang dimauinya. Misalnya, bentuk mereka seperti manusia biasa (tapi ada modifikasi misalnya memiliki taring atau tanduk) tapi kecil. Saat tertentu bisa besar setinggi 30 meter hitam, berbulu, mata merah, dll. Bisa juga berbentuk yang menyeramkan atau yang cantik.
Penampakan yang mereka lakukan pada dunia manusia (seperti di TV) memerlukan energi yang besar karena dimensinya berbeda. Wujud yang ditampakkan bisa berbeda dari wujud aslinya. Hal ini bisa digunakan untuk menipu manusia dan mencari pengaruh pada manusia. Contoh korbannya mungkin Lia Eden.
Ada juga mahkluk halus yang berbentuk bola api yang akan membakar sesuatu yang didekatinya. Ada juga yang berbentuk angin. Mereka bisa disebut mahluk hidup karena bisa berkomunikasi maupun berkehendak.

4. Bagaimana dunia mereka?
** Dunia mereka tidak panas dan tidak gelap. Seperti subuh atau magrib. Dan selalu begitu. Mereka terdiri dari kerajaan2 yang dipimpin oleh raja atau ratu. Bentuk pemerintahan mereka seperti kerajaan2 manusia (jawa) di masa lalu. Antar kerajaan memiliki perbatasan juga. Mereka sepertinya hidup pada dunia yang sama dengan manusia namun pada dimensi yang berbeda. Misalnya, bagi manusia, tempat itu adalah pohon beringin yang areanya 10 meter persegi. Bagi mereka pohon itu seperti lingkungan istana kerajaan yang sangat luas. Biasanya tempat-tempat yang dianggap angker merupakan tempat yang dihuni komunitas mereka. Salah satu kerajaan besar adalah kerajaan yang dipimpin seorang Ratu yang memiliki kekuasaan di selatan pulau jawa.

5. Apakah manusia bisa ber-‘wisata’ ke alam mahkluk halus?
** Bisa saja. Baik sengaja atau tidak. Tapi ada satu hal yang aneh jika kita sempat berpindah antar alam manusia dan alam mahkluk halus. Banyak kejadian, ada orang yang secara tidak sengaja pergi ke alam mahkluk halus selama sehari namun kembali ke alam manusia ternyata kalau dihitung dengan waktu di dunia manusia mereka telah pergi selama beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Pernah kejadian ada yang tinggal di alam mahkluk halus selama seminggu setelah kembali ke alam manusia, anak2 mereka sudah menjadi kakek-kakek! Waktu tidak jalan bersamaan di alam/dimensi berbeda.
Saya ingat beberapa kisah / fenomena yang diceritakan di dalam Al Quran tentang relatifitas waktu. Misalnya ayat yang bilang: Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Al Sajdah 32:5)
Yang paling terkenal adalah kisah tentang beberapa manusia yang tidur di sebuah gua yang ketika bangun mereka berada jauh dari masa mereka hidup. Bahkan uang yang mereka miliki sudah tidak laku lagi. (Ashabul Kahfi – Al Quran surat Al-Kahfi).

6. Jika mereka dunia gaib apakah mereka bisa bertemu malaikat?
** Dunia gaib berlapis2. lapisan dunia mereka tidak sama dengan dunia malaikat atau yang lain. Mereka juga bisa mati. Saat mereka mati, mereka pindah ke dunia lain / dimensi yang lain lagi.

7. Apa mereka punya kepentingan dengan manusia?
** Mereka ada yang baik ada yang jahat seperti manusia. Ada yang beragama ada yang atheis. Ada yang Islam ada yang non-islam. Jika mereka dibawah pengaruh setan dan jaringannya, mereka akan jahat. Tujuannya adalah menjauhkan manusia dengan Tuhan dengan jalan syirik (bertuhan bukan kepada Allah tapi pada hal lain yang bisa memberikan kekuatan). Karena mereka gaib, mereka mudah menyesatkan manusia. Misalnya dengan menyamar menjadi malaikat atau memberikan kekuatan terhadap benda2 yang dikeramatkan manusia. Manusia menjadi tergantung pada benda itu (untuk kekayaan, kesehatan, dll) dan bukan minta pada Tuhan.
Ada juga yang baik yang berusaha menyelamatkan / memberikan peringatan pada sebagian manusia dan melindungi dari pengaruh mahkluk halus lain yang jahat.

8. Apakah hukum alam manusia berlaku di alam mahkluk halus?
** Tidak. Alam mereka bukan modifikasi alam manusia. Tapi alam yang sama sekali lain. Hukum alam mereka juga lain.

Timbul pertanyaan bagi saya. Selama ini kita mencoba mencari dan menganalisa keberadaan mahluk lain di luar bumi (planet lain) pada dimensi manusia (horizontal). Bagaimana kalau kita mencoba menganalisa kehidupan lain pada dimensi dan hukum alam yang berbeda dengan kita (vertikal)??? Padahal peradaban lama selalu bersentuhan dengan hal ini.
Suatu hal yang beyond science. Kadang2 saya berfikir bahwa science saat ini membelenggu pikiran kita. Misalnya mereka katakan: diluar hukum fisika saat ini, hal lain tidak perlu dianggap ada. Hal gain tidak benar karena tidak sesuai hukum fisika kita.
Bukankah lebih baik dikatakan: hukum fisika kita masih belum mampu menjelaskan seluruh hakikat alam namun akan terus berusaha memahaminya dalam suatu formula. Sesuatu yang diluar hukum fisika saat ini mungkin ada, tapi belum tersentuh…

Ada satu pesan dari dunia lain: saat ini sedang ada persiapan perang besar di dunia gaib. Antara yang baik dan yang jahat. Dampaknya akan terasa ke kehidupan manusia. Dan akan terjadi dalam waktu dekat. Mereka menyarankan agar selalu perpegang pada Sang Pencipta Kehidupan.


PENGUASA LAUT SELATAN ” GUSTI KANJENG RATU KIDUL “

Semua bencana di sepanjang pantai selatan pulau jawa pasti dikaitkan dengan mitos keberadaan penguasa sepanjang pantai tersebut yaitu Kanjeng Gusti Ratu Kidul, baik yang percaya maupun yang tidak. Banyak sebutan untuk penguasa selatan tersebut yaitu; Kanjeng Gusti Ratu Kidul,Nyi Roro Kidul,Nyai Ratu roro kidul dan lain-lain. Sebagian orang mengatakan bahwa sebenarnya sebutan yang berbeda-beda tersebut juga menggambarkan sosok yang berbeda pula, dan ada juga yang mengatakan semuanya adalah satu. Yang benar siapa, entahlah, Hanya Tuhan yang tau atau mungkin itu hanya sekedar legenda belaka???
Walau keberadaan Kanjeng Gusti Ratu Kidul hanya sekedar mitos atau legenda, tapi masyarakat Jawa pada umumnya sangat mempercayaai keberadaan tersebut, bahkan ada yang menyebutnya sebagai Wali Perempuan satu-satunya di Pulau Jawa disamping Wali-wali lainnya.
Keraton Jawa tidak lepas dari keberadaan mitos tersebut, bahkan sangat menonjol, dibuktikan dengan adanya dari tarian sakral Bedhaya Ketawang, yang sejak Paku Buwana X naik tahta, setiap setahun sekali tarian itu dipergelarkan pada acara ulang tahun penobatan Raja,adanya Panggung Sangga Buwana.
‘Gung pra peri perayangan ejim
sumiwi Sang Sinom
Prabu Rara yekti gedhe dhewe.
(kutipan dari “Babad Nitik” )
terjemahkan:
segenap makhluk halus jin
bersembah pada Sang Ratu
yang besar tak bertara

Terdapat berbagai macam versi mitos Kangjeng Ratu Kidul antara lain berdasarkan cerita pujangga Yosodipuro. Di kerajaan Kediri, terdapat seorang putra raja Jenggala yang bernama Raden Panji Sekar Taji yang pergi meninggalkan kerajaannya untuk mencari daerah kekuasaan baru. Pada masa pencariannya sampailah ia di hutan Sigaluh yang didalamnya terdapat pohon beringin berdaun putih dan bersulur panjang yang bernama waringin putih. Pohon itu ternyata merupakan pusat kerajaan para lelembut (mahluk halus) dengan Sang Prabu Banjaran Seta sebagai rajanya.

Berdasarkan keyakinannya akan daerah itu, Raden Panji Sekar Taji melakukan pembabatan hutan sehingga pohon waringin putih tersebut ikut terbabat. Dengan terbabatnya pohon itu si Raja lelembut yaitu Prabu Banjaran Seta merasa senang dan dapat menyempurnakan hidupnya dengan langsung musnah ke alam sebenarnya. Kemusnahannya berwujud suatu cahaya yang kemudian langsung masuk ke tubuh Raden Panji Sekar Taji sehingga menjadikan dirinya bertambah sakti.

Alkisah, Retnaning Dyah Angin-Angin adalah saudara perempuan Prabu Banjaran Seta yang kemudian menikah dengan Raden Panji Sekar Taji yang selanjutnya dinobatkan sebagai Raja. Dari hasil perkawinannya, pada hari Selasa Kliwon lahirlah putri yang bernama Ratu Hayu. Pada saat kelahirannya putri ini menurut cerita, dihadiri oleh para bidadari dan semua mahluk halus. Putri tersebut diberi nama oleh eyangnya (Eyang Sindhula), Ratu Pegedong dengan harapan nantinya akan menjadi wanita tercantik dijagat raya. Setelah dewasa ia benar-benar menjadi wanita yang cantik tanpa cacat atau sempurna dan wajahnya mirip dengan wajah ibunya bagaikan pinang dibelah dua. Pada suatu hari Ratu Hayu atau Ratu Pagedongan dengan menangis memohon kepada eyangnya agar kecantikan yang dimilikinya tetap abadi. Dengan kesaktian eyang Sindhula, akhirnya permohonan Ratu Pagedongan wanita yang cantik, tidak pernah tua atau keriput dan tidak pernah mati sampai hari kiamat dikabulkan, dengan syarat ia akan berubah sifatnya menjadi mahluk halus yang sakti mandra guna (tidak ada yang dapat mengalahkannya).

Setelah berubah wujudnya menjadi mahluk halus, oleh sang ayah Putri Pagedongan diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memerintah seluruh wilayah Laut Selatan serta menguasai seluruh mahluk halus di seluruh pulau Jawa. Selama hidupnya Ratu Pagedongan tidak mempunyai pedamping tetapi ia diramalkan bahwa suatu saat ia akan bertemu dengan raja agung (hebat) yang memerintah di tanah Jawa. Sejak saat itu ia menjadi Ratu dari rakyat yang mahluk halus dan mempunyai berkuasa penuh di Laut Selatan.

Kekuasaan Ratu Kidul di Laut Selatan juga tertulis dalam serat Wedatama yang berbunyi:

Wikan wengkoning samodra,

Kederan wus den ideri,

Kinemat kamot hing driya,

Rinegan segegem dadi,

Dumadya angratoni,

Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,

Ndedel nggayuh nggegana,

Umara marak maripih,

Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.

terjemahkan:
Tahu akan batas samudra
Semua telah dijelajahi
Dipesona nya masuk hati
Digenggam satu menjadi
Jadilah ia merajai
Syahdan Sang Ratu Kidul
Terbang tinggi mengangkasa
Lalu datang bersembah
Kalah perbawa terhadap
Junjungan Mataram

[setubuh alamai-senyawa Illahi]

Yang artinya : Mengetahui/mengerti betapa kekuasaan samodra, seluruhnya sudah dilalui/dihayati, dirasakan dan meresap dalam sanubari, ibarat digenggam menjadi satu genggaman, sehingga terkuasai. Tersebutlah Kangjeng Ratu Kidul, naik ke angkasa, datang menghadap dengan hormat, kalah wibawa dengan raja Mataram.

Ada versi lain dari masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menceritakan bahwa pada jaman kerajaan Pajajaran, terdapat seorang putri raja yang buruk rupa dan mengidap penyakit kulit bersisik sehingga bentuk dan seluruh tubuhnya jelak tidak terawat.Oleh karena itu, Ia diusir dari kerajaan oleh saudara-saudaranya karena merasa malu mempunyai saudara yang berpenyakitan seperti dia. Dengan perasaan sedih dan kecewa, sang putri kemudian bunuh diri dengan mencebur ke laut selatan.

Pada suatu hari rombongan kerajaan Pajajaran mengadakan slametan di Pelabuhan Ratu. Pada saat mereka tengah kusuk berdoa muncullah si putri yang cantik dan mereka tidak mengerti mengapa ia berada disitu, kemudian si putri menjelaskan bahwa ia adalah putri kerajaan Pajajaran yang diusir oleh kerajaan dan bunuh diri di laut selatan, tetapi sekarang telah menjadi Ratu mahluk halus dan menguasai seluruh Laut Selatan. Selanjutnya oleh masyarakat, ia dikenal sebagai Ratu Kidul.

Dari cerita-cerita mitos tentang Kangjeng Ratu Kidul, jelaslah bahwa Kangjeng Ratu Kidul adalh penguasa lautan yang bertahta di Laut Selatan dengan kerajaan yang bernama Karaton Bale Sokodhomas.
Mitos Pertemuan Kangjeng Ratu Kidul Dengan Penembahan Senopati

Sebelum Panambahan Senopati dinobatkan menjadi raja, beliau melakukan tapabrata di Dlepih dan tapa ngeli. Dalam laku tapabratanya, beliau selalu memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat membimbing dan mengayomi rakyatnya sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur.

Dalam cerita, pada waktu Panembahan Senopati melakukan tapa ngeli, sampai di tempuran atau tempat bertemunya aliran sungai Opak dan sungai Gajah Wong di dekat desa Plered dan sudah dekat dengan Parang Kusumo, Laut Selatan tiba-tiba terjadilah badai dilaut yang dasyat sehingga pohon-pohon dipesisir pantai tercabut beserta akarnya, ikan-ikan terlempar di darat dan menjadikan air laut menjadi panas seolah-olah mendidih. Bencana alam ini menarik perhatian Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian muncul dipermukaan laut mencari penyebab terjadinya bencana alam tersebut.

Dalam pencariannya, Kangjeng Ratu Kidul menemukan seorang satria sedang bertapa di tempuran sungai Opak dan sungai Gajah Wong, yang tidak lain adalah Sang Panembahan Senopati. Pada waktu Kangjeng Ratu Kidul melihat ketampanan Senopati, kemudian jatuh cinta. Selanjutnya Kangjeng Ratu Kidul menanyakan apa yang menjadi keinginan Panembahan Senopati sehingga melakukan tapabrata yang sangat berat dan menimbulkan bencana alam di laut selatan, kemudian Panembahan menjelaskan keinginannya

Kangjeng Ratu Kidul memperkenalkan diri sebagai raja di Laut Selatan dengan segala kekuasaan dan kesaktiannya. Kangjeng Ratu Kidul menyanggupi untuk membantu Panembahan Senopati mencapai cita-cita yang diinginkan dengan syarat, bila terkabul keinginannya maka Panembahan Senopati beserta raja-raja keturunannya bersedia menjadi suami Kangjeng Ratu Kidul. Panembahan Senopati menyanggupi persyaratan Kangjeng Ratu Kidul namun dengan ketentuan bahwa perkawinan antara Panembahan Senopati dan keturunannya tidak menghasilkan anak. Setelah terjadi kesepakatan itu maka alam kembali tenang dan ikan-ikan yang setengah mati hidup kembali.

Adanya perkawinan itu konon mengandung makna simbolis bersatunya air (laut) dengan bumi (daratan/tanah). Ratu Kidul dilambangkan dengan air sedangkan raja Mataram dilambangkan dengan bumi. Makna simbolisnya adalah dengan bersatunya air dan bumi maka akan membawa kesuburan bagi kehidupan kerajaan Mataram yang akan datang.

Menurut sejarah bahwa Panembahan Senopati sebagai raja Mataram yang beristrikan Kangjeng Ratu Kidul tersebut merupakan cikal bakal atau leluhur para raja Mataram ,termasuk Karaton Surakarta Hadiningrat. Oleh karena itu maka raja-raja karaton Surakarta sesuai dengan janji Panembahan Senopati yaitu menjadi suami dari Kangjeng Ratu Kidul. Dalam perkembangannya, raja Paku Buwana III selaku suami Kangjeng Ratu Kidul telah mendirikan Panggung Sangga Buawana sebagai tempat pertemuannya. Selanjutnya tradisi raja-raja Surakarta sebagai suami Kangjeng Ratu Kidul berlangsung terus sampai dengan raja Paku Buwana X. Alkisah Paku Buwana X yang merupakan suami Ratu Kidul sedang bermain asmara di Panggung Sangga Buwana. Pada saat mereka berdua menuruni tangga Panggung yang curam tiba-tiba Paku Buwana X terpeleset dan hampir jatuh dari tangga tetapi berhasil diselamatkan oleh Kangjeng Ratu Kidul. Dalam kekagetannya itu Ratu Kidul berseru : “Anakku ngGer…………..” (Oh……….Anakku). Apa yang diucapkan oleh Kangjeng Ratu Kidul itu sebagai Sabda Pandito Ratu artinya sabda Raja harus ditaati. Sejak saat itu hubungan kedudukan mereka berdua berubah bukanlah lagi sebagai suami istri , tetapi hubungannya sebagai ibu dan anak, begitu pula terhadap raja-raja keturunan Paku Buwana X selanjutnya.

Tetap menjadi sebuah misteri??? Tanya kenapa??
disadur dari beberapa sumber

IM YANG = TAO


Taoisme (Tionghua: 道教 atau 道家 ) juga diejakan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi (老子;pinyin:Lǎozǐ) sejak akhir Zaman Chunqiu. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berasaskan Daode Jing (道德經,pinyin:Dàodé Jīng). Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi (庄子) yang merupakan tokoh penulis kitab yang judul Zhuangzi.

Tao () tidak berbentuk, merupakan “Sesuatu” yang sudah ada sebelum semuanya ada.

Arti Tao sulit dipahami, artinya sangat luas sehingga sulit diterangkan secara jelas dan rinci melalui sebuah kalimat atau kata-kata.

Arti Tao yang paling sederhana adalah “Jalan”. Ada juga yang mengartikannya “Kelogisan”, “Hukum”, “Pedoman” atau “Aturan”.

Taoisme berasalkan dari “Dao” (道) yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat tetapi merupakan asas atau jalan atau cara kejadian kesemua benda hidup dan benda-benda alam semesta dunia. Dao yang wujud dalam kesemua benda hidup dan kebendaan adalah De (德). Gabungan Dao dengan De diperkenalkan sebagai Taoisme merupakan asasi alamiah. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan berabadi. Keabadian manusia adalah apabila seseorang mencapai kesedaran Dao dan akan menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekan Dao untuk mencapai kesedaran Dao dan juga mendewakan.

Taoisme juga memperkenalkan teori Yinyang (阴阳), dalam Daode Jing Bab 42:
“道生一,一生二,二生三,三生万物。万物负阴而抱阳,冲气以为和”

Berarti: Dao melahirkan sesuatu, yang dilahirkan itu melahirkan Yin dan Yang, Yinyang saling bertindak balas menghasilkan tenaga atua kuasa, dengan adalah tenaga ini, hasil jutaan benda di dunia. Setiap benda dalam alam, samada hidup atau tidak, mengandungi Yinyang yang saling bertindak untuk mencapai keseimbangan.

Yin dan Yang dengan saintifiknya diterjemahkan sebagai negatif dan positif. Setiap benda adalah dualisme, terdapat positif mesti adanya negatif; tidak bernegatif dan tidak berpositif jadinya kosong, tidak ada apa-apa. Bahkan magnet, magnet kepunyaan positif dan negatif, kedua-dua sifat tidak bisa diasingkan; tanpa positif, tidak wujudnya negatif, tidak jadinya magnet.

Dan itu semua didasari oleh Wu, dimana Wu dalam Tao yang secara harafiah dapat diartikan sebagai “Kesadaran dan nalar yang tinggi”.

Wu adalah pola berpikir yang melewati pertimbangan “Hati nurani” dan “Akal sehat” dengan mempertimbangkan “Situasi”, “Kondisi”, dan “Cara” untuk menghasilkan suatu keputusan atau tindakan yang “Paling Tepat”.

Dalam Wu, suatu keputusan atau tindakan tidak hanya dilihat pada keputusan atau tindakan itu sendiri, melainkan juga mempertimbangkan pengaruh atau akibat dari keputusan atau tindakan tersebut.

Dengan daya Wu yang tinggilah akan dihasilkan suatu keputusan atau tindakan yang “Bijaksana”.

Wu Wei

Wu Wei adalah salah satu prinsip Tao () yang paling terkenal dan “hebat”. Tetapi karena pemahaman Wu Wei yang kurang tepat, banyak orang yang salah terima terhadap Tao.

Banyak orang mengira bahwa Wu Wei yang artinya “Tidak Berbuat” bermakna “diam saja” atau “pasif” dan tidak melakukan kegiatan apa pun. Padahal makna sebenarnya sangatlah dalam dan tidak sesederhana itu.

Tao “tidak berbuat” apapun, tetapi karena Nya lah segalanya “tercipta”.

Di jaman kuno, seorang murid yang berucap sembarangan tanpa mengetahui kebenaran atau fakta dapat dihukum mati oleh gurunya. Demikian pula kapan pun dan di mana pun tempat di dunia ini: pertumpahan darah terjadi karena masing-masing mempertahankan “kebenaran” menurut versinya sendiri.

Lalu apakah sebenarnya “Kebenaran” yang dipertahankan itu?
Tiadakah suatu titik temu?
Apakah “Kebenaran” itu milik segolongan orang tertentu?
Ataukah merupakan suatu hal yang majemuk?
Dimanakah letak “keberadaban” manusia yang kacau karena kesadaran-nya yang rabun?

Nah, kata kuncinya adalah kesadaran. Paling tidak (minimal) dapat berarti: kemampuan mengetahui kesalahan diri dan mencari cara memperbaikinya. Memang hanya segelintir orang yang memiliki bibit baik yang bisa terus melatih hingga taraf tinggi.

Pengalaman menunjukkan bahwa “alam pikiran” merupakan hal yang unik. Bagaikan cermin. Cermin yang retak memantulkan bayangan yang retak, meskipun obyeknya utuh. Namun maukah dan mampukah cermin tersebut menyadari dirinya?

Untungnya kita adalah mahluk hidup yang berbudi, sehingga senantiasa dapat merevisi diri. Memang sulit untuk keluar dari lautan kebodohan sementara diri kita sedang tenggelam. Tetapi dalam artikel ini, saya ingin mengajak saudara-saudari semua memulai langkahnya yang pertama (dasar-dasar) untuk melatih kesadaran masing-masing.

Wu (baca: U), dapat diterjemahkan secara singkat sebagai “mengerti”, “sadar”, “memahami”. Seringkali kesadaran ini menjadikan kita begitu terpesona sehingga akhirnya menjadi mati di satu titik. Tetapi ingat bahwa “pemahaman” itu sendiri bukanlah titik akhir, melainkan sesuatu kondisi kesadaran yang tetap harus diikuti oleh sikap batin yang selalu berusaha untuk menyempurnakan pengertian-pengertiannya. Inilah yang membedakan antara “Wu” yang sejati dengan sikap keras kepala. Maka dikatakan: “Wu, Wu, dan Wu lagi”.

Sebenarnya “Wu” adalah sebuah kondisi dimana pikiran kita bisa “menembus” kedalam pengertian-pengertian yang hakiki secara komplit (komprehensif) dan memiliki kelincahan dalam menangkap dan menganalisa suatu obyek.

Sesuatu yang kelihatannya sulit dan kompleks, dapat ditembus dengan satu benang merah yang sederhana.

Otomatis dalam tarafnya yang tertinggi, perbedaan-perbedaan akan melebur, hanya tersisa satu Kebenaran saja. Itulah yang Hakiki (Tao). Tombak (mao) dan tameng (dun) dapat disatukan (kamus: maodun = konflik). Dari taiji kembali pada wuji.

Pedoman untuk Wu

Dalam menghadapi masalah sehari-hari, kita seringkali sudah merasa berpikir keras dan merasa telah mengambil keputusan yang terbaik. Tetapi apakah sesungguhnya kriteria dari “yang terbaik” itu?

Untuk melatih diri mengarah kepada tingkat Wu yang semakin tinggi, ada 3 hal yang harus terpenuhi:

1. He Qing, sejalan dengan perasaan atau batin.
2. He Li, sejalan dengan logika, nalar, rasio.
3. He Fa, sejalan dengan etik, norma, hukum, peraturan.

Poin pertama dan kedua memiliki ruang-lingkup ke dalam diri kita (dimensi subyektif). He Fa, memiliki ruang lingkup keluar terhadap lingkungan di sekitar kita (dimensi obyektif). Setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Problem akan timbul bahwa tingkat pengertian dari tiap individu berbeda-beda, sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan yang berbeda-beda terhadap sebuah masalah yang sama. Bagaimanakah cara menyikapinya?

Setiap manusia memiliki hak azasinya masing-masing untuk mempertahankan keunikan dirinya. Meskipun demikian, ingat bahwa tiada seorang pun yang dapat menjalankan kemanusiannya secara normal dengan hidup tanpa orang lain. Oleh karena itu, untuk menghadapi perbedaan-perbedaan yang timbul dalam pengertian masing-masing, kita memerlukan Wu pada suatu level yang lebih tinggi lagi.

Ada beberapa tips:

1. Sadar bahwa tidak selalu diri kita pasti benar. Oleh karena itu, perlu sikap jujur terhadap diri sendiri, lapang dada, dan rendah hati (misal: berani mengakui dan menerima kesalahan).

2. Sadar bahwa selalu ada orang lain yang lebih pintar dalam satu atau beberapa hal atau bidang tertentu. Oleh karena itu, perlu sikap mengalah, terus mau belajar dan menyempurnakan diri. Sementara anda belajar mengasah “Wu” anda, ikutilah petunjuk dari yang lebih tahu (senior, atasan, pemimpin, dsb).

3. Sadar bahwa kepintaran bukan segala-galanya. Pada waktu dan kondisi tertentu, kita perlu menyadari posisi kita dalam kaitannya dengan budaya dan tradisi. Ini adalah dasar menuju Wu juga: belajar untuk konform pada “yang telah ada”, walaupun terus aktif menganalisa dan bersikap kritis.

Memang sulit, karena disamping perlu kerendahan hati dan sikap fleksibel juga perlu wawasan yang luas dan dalam. Misal: meskipun merasa diri kita sudah benar, namun mampu memberikan respon berupa sikap yang sesuai dengan budaya dimana kita berada. Misal: sikap terhadap “Shi” (shifu, shixiung, shijie, shidi, shimei, dll)

4. Sadar bahwa setiap masalah tidak sama urutan kepentingan atau prioritasnya. Ada yang prinsipil, ada pula yang sepele sehingga lebih baik mengalah saja, atau dikorbankan.

5. Sadar akan tujuan, motivasi dan konstrain (kendala, batasan). Belum tentu yang diajarkan atau diberikan oleh seseorang itu menyatakan sebuah pernyataan yang lengkap, mengingat adanya tujuan yang lain, misalnya: untuk mendidik dan merangsang untuk berpikir sendiri.

Hal-hal yang mendukung dalam peningkatan Wu:

1. Melatih “He Qing”.
Pemurnian hati nurani, sering melakukan introspeksi diri, menilai kemampuan dan keku-rangan diri, jujur terhadap diri sendiri, mencari jalan untuk mengerti “aku sejati”, melatih kepekaan terhadap perasaan orang lain (empati).

2. Melatih “He Li”.
Memahami pengertian-pengertian dasar, berlatih mengenai “cara berpikir” yang baik, bersikap kritis, memiliki dasar (kenyataan, fakta, logika), tidak berprasangka dulu (apriori), tidak pretensius, wawasan harus luas dan mendalam (sekolah, kursus, bergaul, dsb), mempunyai pengetahuan terhadap cara pandang orang pada umumnya, tidak melakukan hal-hal aneh / sekedar berbeda.

3. Melatih “He Fa”.
Bersikap sosial, membuka diri terhadap lingkungan sekitar, mempelajari budaya, etika, norma, tata aturan dan hukum yang berlaku. Melatih pengendalian diri yang baik.

Secara global,disamping rajin menggunakan akal dan budi, kecerdasan dapat ditingkatkan melalui latihan Jing Zuo [Cing Co], yang juga termasuk salah satu cara memupuk kepekaan dan kecerdasan.

Ciri-ciri mencapai Wu

Menurut pendapat saya, sulit untuk mengukur sampai dimanakah taraf Wu kita. Jadi lebih baik kita berhenti untuk ukur-mengukur taraf Wu diri sendiri maupun orang lain. Namun meskipun demikian, biasanya terdapat beberapa gejala yang berkorelasi dengan tingkat pencapaian seseorang. Menurut saya, suatu sikap atau tindakan dapat dikatakan “Wu” biasanya memiliki karakteristik a.l.:

1. Fair terhadap pihak-pihak yang terlibat.
2. Memancarkan kuasa (authoritative power) dan kesan yang baik (goodwill).
3. Membina ke arah hubungan antar manusia dan pergaulan yang baik.
4. Pada akhirnya akan mempunyai nilai positif untuk semua pihak.
5. Memiliki nilai kebenaran universal.

Saran:

* Wu sangat mendasar dan penting bagi Siu Tao ( ) kita. Bagi yang baru belajar Tao (), lebih baik mematangkan soal “Wu” ini sebelum mencoba mengerti konsep-konsep lain yang lebih sulit dan mendalam.

* Jangan cepat putus-asa, atau sebaliknya juga jangan terlalu berambisi (semuanya akan sampai sendiri pada waktunya), juga jangan cepat tersinggung apabila menerima kritik ataupun pendapat lain yang berbeda.

* Jangan menjadikan “Wu” sebagai tameng, sebagai alat mengadili orang lain. Tidak tahu katakanlah tidak tahu. Tidak boleh memberitahu, katakanlah belum saatnya. Bila salah, akui salah. Bila kalah, akui kalah. Jangan membalik bahwa orang lain yang belum “Wu”, karena anda sendiri yang akan rugi.

* Rajin-rajin mendengar Ciang Tao. Aktif berdiskusi kelompok. Rajin membaca buku yang baik, walau harus kritis menyaring dan berpikir sambil membaca. Rendah hati saling belajar satu dengan yang lainnya. Ingat bahwa dari pernyataan yang “pro” dan “kontra”, kita akan lebih banyak mendapatkan pelajaran dari suatu pendapat yang “kontra”. Alangkah tentramnya dunia ini apabila semua orang bisa mencapai taraf tertinggi dalam Wu-nya, walaupun saya percaya bahwa hal ini adalah suatu impian yang mustahil belaka. Perbedaan akan selalu timbul, karena itu adalah sesuatu kodrat juga. Oleh karena itu, sangat penting memupuk sifat Lapang Dada. Ini juga merupakan suatu Wu juga.

* Untuk melatih “Wu” diperlukan sikap-sikap lain yang merupakan dasar dari Siu Tao ( ) kita, misal: Zheng Yi (sikap yang satu), kemantapan atau percaya diri, dll.

PIRAMIDA MESIR

Piramida raksasa Mesir merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia saat ini, sejak dulu dipandang sebagai bangunan yang misterius dan megah oleh orang-orang. Namun, meskipun telah berlalu berapa tahun lamanya, setelah sarjana dan ahli menggunakan sejumlah besar alat peneliti yang akurat dan canggih, masih belum diketahui, siapakah sebenarnya yang telah membuat bangunan raksasa yang tinggi dan megah itu? Dan berasal dari kecerdasan manusia manakah prestasi yang tidak dapat dibayangkan di atas bangunan itu? Serta apa tujuannya membuat bangunan tersebut? Dan pada waktu itu ia memiliki kegunaan yang bagaimana atau apa artinya? Teka-teki yang terus berputar di dalam benak semua orang selama ribuan tahun, dari awal hingga akhir merupakan misteri yang tidak dapat dijelaskan. Meskipun sejarawan mengatakan ia didirikan pada tahun 2000 lebih SM, namun pendapat yang demikian malah tidak bisa menjelaskan kebimbangan yang diinisiasikan oleh sejumlah besar penemuan hasil penelitian.
Sejarah Mitos dan Temuan Arkeologi

Sejak abad ke-6 SM, Mesir merupakan tempat pelarian kerajaan Poshi, yang kehilangan kedudukannya setelah berdiri lebih dari 2.000 tahun, menerima kekuasaan yang berasal dari luar yaitu kerajaan Yunani, Roma, kerajaan Islam serta kekuasaan bangsa lain. Semasa itu sejumlah besar karya terkenal zaman Firaun dihancurkan, aksara dan kepercayaan agama bangsa Mesir sendiri secara berangsur-angsur digantikan oleh budaya lain, sehingga kebudayaan Mesir kuno menjadi surut dan hancur, generasi belakangan juga kehilangan sejumlah besar peninggalan yang dapat menguraikan petunjuk yang ditinggalkan oleh para pendahulu.

Tahun 450 SM, setelah seorang sejarawan Yunani berkeliling dan tiba di Mesir, membubuhkan tulisan: Cheops, (aksara Yunani Khufu), konon katanya, hancur setelah 50 tahun. Dalam batas tertentu sejarawan Yunani tersebut menggunakan kalimat “konon katanya”, maksudnya bahwa kebenarannya perlu dibuktikan lagi. Namun, sejak itu pendapat sejarawan Yunani tersebut malah menjadi kutipan generasi belakangan sebagai bukti penting bahwa piramida didirikan pada dinasti kerajaan ke-4.
Selama ini, para sejarawan menganggap bahwa piramida adalah makam raja. Dengan demikian, begitu membicarakan piramida, yang terbayang dalam benak secara tanpa disadari adalah perhiasan dan barang-barang yang gemerlap. Dan, pada tahun 820 M, ketika gubernur jenderal Islam Kairo yaitu Khalifah Al-Ma’mun memimpin pasukan, pertama kali menggali jalan rahasia dan masuk ke piramida, dan ketika dengan tidak sabar masuk ke ruangan, pemandangan yang terlihat malah membuatnya sangat kecewa. Bukan saja tidak ada satu pun benda yang biasanya dikubur bersama mayat, seperti mutiara, maupun ukiran, bahkan sekeping serpihan pecah belah pun tidak ada, yang ada hanya sebuah peti batu kosong yang tidak ada penutupnya. Sedangkan tembok pun hanya bidang yang bersih kosong, juga tak ada sedikit pun ukiran tulisan.

Kesimpulan para sejarawan terhadap prestasi pertama kali memasuki piramida ini adalah “mengalami perampokan benda-benda dalam makam”. Namun, hasil penyelidikan nyata menunjukkan, kemungkinan pencuri makam masuk ke piramida melalui jalan lainnya adalah sangat kecil sekali. Di bawah kondisi biasa, pencuri makam juga tidak mungkin dapat mencuri tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, dan lebih tidak mungkin lagi menghapus seluruh prasasti Firaun yang dilukiskan di atas tembok. Dibanding dengan makam-makam lain yang umumnya dipenuhi perhiasan-perhiasan dan harta karun yang berlimpah ruah, piramida raksasa yang dibangun untuk memperingati keagungan raja Firaun menjadi sangat berbeda.

Selain itu, dalam catatan “Inventory Stela” yang disimpan di dalam museum Kairo, pernah disinggung bahwa piramida telah ada sejak awal sebelum Khufu meneruskan takhta kerajaan. Namun, oleh karena catatan pada batu prasasti tersebut secara keras menantang pandangan tradisional, terdapat masalah antara hasil penelitian para ahli dan cara penulisan pada buku, selanjutnya secara keras mengecam nilai penelitiannya. Sebenarnya dalam keterbatasan catatan sejarah yang bisa diperoleh, jika karena pandangan tertentu lalu mengesampingkan sebagian bukti sejarah, tanpa disadari telah menghambat kita secara obyektif dalam memandang kedudukan sejarah yang sebenarnya.

Teknik Bangunan yang Luar Biasa

Di Mesir, terdapat begitu banyak piramida berbagai macam ukuran, standarnya bukan saja jauh lebih kecil, strukturnya pun kasar. Di antaranya piramida yang didirikan pada masa kerajaan ke-5 dan 6, banyak yang sudah rusak dan hancur, menjadi timbunan puing, seperti misalnya piramida Raja Menkaure seperti pada gambar. Kemudian, piramida besar yang dibangun pada masa yang lebih awal, dalam sebuah gempa bumi dahsyat pada abad ke-13, di mana sebagian batu ditembok sebelah luar telah hancur, namun karena bagian dalam ditunjang oleh tembok penyangga, sehingga seluruh strukturnya tetap sangat kuat. Karenanya, ketika membangun piramida raksasa, bukan hanya secara sederhana menyusun 3 juta batu menjadi bentuk kerucut, jika terdapat kekurangan pada rancangan konstruksi yang khusus ini, sebagian saja yang rusak, maka bisa mengakibatkan seluruhnya ambruk karena beratnya beban yang ditopang.

Lagi pula, bagaimanakah proyek bangunan piramida raksasa itu dikerjakan, tetap merupakan topik yang membuat pusing para sarjana. Selain mempertimbangkan sejumlah besar batu dan tenaga yang diperlukan, faktor terpenting adalah titik puncak piramida harus berada di bidang dasar tepat di titik tengah 4 sudut atas. Karena jika ke-4 sudutnya miring dan sedikit menyimpang, maka ketika menutup titik puncak tidak mungkin menyatu di satu titik, berarti proyek bangunan ini dinyatakan gagal. Karenanya, merupakan suatu poin yang amat penting, bagaimanakah meletakkan sejumlah 2,3 juta -2,6 juta buah batu besar yang setiap batunya berbobot 2,5 ton dari permukaan tanah hingga setinggi lebih dari seratus meter di angkasa dan dipasang dari awal sampai akhir pada posisi yang tepat.

Seperti yang dikatakan oleh pengarang Graham Hancock dalam karangannya “Sidik Jari Tuhan”: Di tempat yang terhuyung-huyung ini, di satu sisi harus menjaga keseimbangan tubuh, dan sisi lainnya harus memindahkan satu demi satu batu yang paling tidak beratnya 2 kali lipat mobil kecil ke atas, diangkut ke tempat yang tepat, dan mengarah tepat pada tempatnya, entah apa yang ada dalam pikiran pekerja-pekerja pengangkut batu tersebut. Meskipun ilmu pengetahuan modern telah memperkirakan berbagai macam cara dan tenaga yang memungkinkan untuk membangun, namun jika dipertimbangkan lagi kondisi riilnya, akan kita temukan bahwa orang-orang tersebut tentunya memiliki kemampuan atau kekuatan fisik yang melebihi manusia biasa, baru bisa menyelesaikan proyek raksasa tersebut serta memastikan keakuratan maupun ketepatan presisinya. Terhadap hal ini, Jean Francois Champollion yang mendapat sebutan sebagai “Bapak Pengetahuan Mesir Kuno Modern” memperkirakan bahwa orang yang mendirikan piramida berbeda dengan manusia sekarang, paling tidak dalam “pemikiran mereka mempunyai tinggi tubuh 100 kaki yang tingginya sama seperti manusia raksasa”. Ia berpendapat, dilihat dari sisi pembuatan piramida, itu adalah hasil karya manusia raksasa.

Senada dengan itu, Master Li Hongzhi dalam ceramahnya pada keliling Amerika Utara tahun 2002 juga pernah menyinggung kemungkinan itu. “Manusia tidak dapat memahami bagaimana piramida dibuat. Batu yang begitu besar bagaimana manusia mengangkutnya? Beberapa orang manusia raksasa yang tingginya lima meter mengangkut sesuatu, itu dengan manusia sekarang memindahkan sebuah batu besar adalah sama. Untuk membangun piramida itu, manusia setinggi lima meter sama seperti kita sekarang membangun sebuah gedung besar.”

Pemikiran demikian mau tidak mau membuat kita membayangkan, bahwa piramida raksasa dan sejumlah besar bangunan batu raksasa kuno yang ditemukan di berbagai penjuru dunia telah mendatangkan keraguan yang sama kepada semua orang: tinggi besar dan megah, terbentuk dengan menggunakan susunan batu yang sangat besar, bahkan penyusunannya sangat sempurna. Seperti misalnya, di pinggiran kota utara Mexico ada Kastil Sacsahuaman yang disusun dengan batu raksasa yang beratnya melebihi 100 ton lebih, di antaranya ada sebuah batu raksasa yang tingginya mencapai 28 kaki, diperkirakan beratnya mencapai 360 ton (setara dengan 500 buah mobil keluarga). Dan di dataran barat daya Inggris terdapat formasi batu raksasa, dikelilingi puluhan batu raksasa dan membentuk sebuah bundaran besar, di antara beberapa batu tingginya mencapai 6 meter. Sebenarnya, sekelompok manusia yang bagaimanakah mereka itu? Mengapa selalu menggunakan batu raksasa, dan tidak menggunakan batu yang ukurannya dalam jangkauan kemampuan kita untuk membangun?

Sphinx, singa bermuka manusia yang juga merupakan obyek penting dalam penelitian ilmuwan, tingginya 20 meter, panjang keseluruhan 73 meter, dianggap didirikan oleh kerjaan Firaun ke-4 yaitu Khafre. Namun, melalui bekas yang dimakan karat (erosi) pada permukaan badan Sphinx, ilmuwan memperkirakan bahwa masa pembuatannya mungkin lebih awal, paling tidak 10 ribu tahun silam sebelum Masehi.

Seorang sarjana John Washeth juga berpendapat: Bahwa Piramida raksasa dan tetangga dekatnya yaitu Sphinx dengan bangunan masa kerajaan ke-4 lainnya sama sekali berbeda, ia dibangun pada masa yang lebih purbakala dibanding masa kerajaan ke-4. Dalam bukunya “Ular Angkasa”, John Washeth mengemukakan: perkembangan budaya Mesir mungkin bukan berasal dari daerah aliran sungai Nil, melainkan berasal dari budaya yang lebih awal dan hebat yang lebih kuno ribuan tahun dibanding Mesir kuno, warisan budaya yang diwariskan yang tidak diketahui oleh kita. Ini, selain alasan secara teknologi bangunan yang diuraikan sebelumnya, dan yang ditemukan di atas yaitu patung Sphinx sangat parah dimakan karat juga telah membuktikan hal ini.
Ahli ilmu pasti Swalle Rubich dalam “Ilmu Pengetahuan Kudus” menunjukkan: pada tahun 11.000 SM, Mesir pasti telah mempunyai sebuah budaya yang hebat. Pada saat itu Sphinx telah ada, sebab bagian badan singa bermuka manusia itu, selain kepala, jelas sekali ada bekas erosi. Perkiraannya adalah pada sebuah banjir dahsyat tahun 11.000 SM dan hujan lebat yang silih berganti lalu mengakibatkan bekas erosi.

Perkiraan erosi lainnya pada Sphinx adalah air hujan dan angin. Washeth mengesampingkan dari kemungkinan air hujan, sebab selama 9.000 tahun di masa lalu dataran tinggi Jazirah, air hujan selalu tidak mencukupi, dan harus melacak kembali hingga tahun 10000 SM baru ada cuaca buruk yang demikian. Washeth juga mengesampingkan kemungkinan tererosi oleh angin, karena bangunan batu kapur lainnya pada masa kerajaan ke-4 malah tidak mengalami erosi yang sama. Tulisan berbentuk gajah dan prasasti yang ditinggalkan masa kerajaan kuno tidak ada sepotong batu pun yang mengalami erosi yang parah seperti yang terjadi pada Sphinx.

Profesor Universitas Boston, dan ahli dari segi batuan erosi Robert S. juga setuju dengan pandangan Washeth sekaligus menujukkan: Bahwa erosi yang dialami Sphinx, ada beberapa bagian yang kedalamannya mencapai 2 meter lebih, sehingga berliku-liku jika dipandang dari sudut luar, bagaikan gelombang, jelas sekali merupakan bekas setelah mengalami tiupan dan terpaan angin yang hebat selama ribuan tahun.

Washeth dan Robert S. juga menunjukkan: Teknologi bangsa Mesir kuno tidak mungkin dapat mengukir skala yang sedemikian besar di atas sebuah batu raksasa, produk seni yang tekniknya rumit.

Jika diamati secara keseluruhan, kita bisa menyimpulkan secara logis, bahwa pada masa purbakala, di atas tanah Mesir, pernah ada sebuah budaya yang sangat maju, namun karena adanya pergeseran lempengan bumi, daratan batu tenggelam di lautan, dan budaya yang sangat purba pada waktu itu akhirnya disingkirkan, meninggalkan piramida dan Sphinx dengan menggunakan teknologi bangunan yang sempurna.

Dalam jangka waktu yang panjang di dasar lautan, piramida raksasa dan Sphinx mengalami rendaman air dan pengikisan dalam waktu yang panjang, adalah penyebab langsung yang mengakibatkan erosi yang parah terhadap Sphinx. Karena bahan bangunan piramida raksasa Jazirah adalah hasil teknologi manusia yang tidak diketahui orang sekarang, kemampuan erosi tahan airnya jauh melampaui batu alam, sedangkan Sphinx terukir dengan keseluruhan batu alam, mungkin ini penyebab yang nyata piramida raksasa dikikis oleh air laut yang tidak tampak dari permukaan.

Keterangan gambar: Sphinx yang bertetangga dekat dengan piramida raksasa kelihatannya sangat kuno. Para ilmuwan memastikan bahwa dari badannya, saluran dan irigasi yang seperti dikikis air, ia pernah mengalami sebagian cuaca yang lembab, karenanya memperkirakan bahwa ia sangat berkemungkinan telah ada sebelum 10 ribu tahun silam. (Lisensi gambar: Xu Xiaoqian)

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.