SPIRITUALIS SEJATI

SPIRITUALIS SEJATI

Bagi orang-orang yang sudah mencapai kesadaran tinggi khususnya para spiritualis sejati, mengatakan, “bahwa : tujuan inti hidup manusia adalah kembali kepada Sang Maha Pencipta. Dalam perjalanan menuju KESEJATIAN ini, kita harus melewati segala rintangan dan tantangan di tengah hiruk pikuknya alur kehidupan. “

Ya,.. bagi siapa saja yang telah mampu mencapai kesadaran tinggi serta para spiritualis sejati, maka berbahagialah. Karena Hidayah Tuhan telah tercurah kepada mereka. Tetapi perlu diingat sahabat,… bahwa itu semua belumlah sempurna, jikalau saja aplikasi yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan relevansinya.

Lalu ciri-ciri apakah yang menunjukkan relevansi dan kesempurnaannya ? Pada dasarnya ada beberapa ciri-ciri yang bisa dilihat, dirasakan, dilakukan dan diamati. Baik itu yang secara umum maupun secara khusus.

Berikut ini kami paparkan sedikit 3 CIRI UTAMA yang umum :

1. Kesadaran mental, emosional dan spiritualnya tinggi.

Mereka sudah tahu jati diri, arah tujuan hidup dan kontrol diri. Sehingga segala niatan, sikap dan perbuatannya terkontrol dari segala perbuatan yang kurang terpuji.

2. Pola pikirnya sudah berubah, menjadi KEPASRAHAN DAN PENGABDIAN DIRI kepada Sang Pencipta.

Segala apa yang dilakukannya dia pasrahkan dan persembahkan kepada Tuhannya, sebagai bukti pengabdian kepada-Nya tanpa mengharapkan balasan dari Tuhannya sekalipun, apalagi mengharapkan balas jasa dari makhluk-Nya.

3. Selalu menebarkan cinta kasih dan nilai-nilai kebaikan kepada apa dan siapa saja.

Aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari ia lakukan dengan penuh komitmen. Sehingga dimana saja ia berada selalu menebarkan cinta kasih dan nilai-nilai kebaikan kepada siapa saja, tanpa memandang status, derajat, SARA, dan lainnya yang hanya merupakan topeng dan simbol-simbol lainnya yang menutupi jati diri sebagai manusia.

Jadi, jangan pernah merasa diri telah mencapai KESADARAN TINGGI dan menjadi SPIRITUALIS SEJATI, jika belum melaksanakan 3 POINT diatas secara konsekwen dan komitmen yang tinggi. Pun jika sudah diraih, itupun kurang pantas dan bijak jika untuk di sombongkan, karena itu semua merupakan HIDAYAH dan KASIH dari Sang Maha Pencipta.

Jika saja kita mau belajar terutama bagi warga Negara Indonesia, maka proses menuju NUSANTARA JAYA akan kita rasakan. Belajarlah pada orang-orang yang sudah TAHU DITAHUNYA DAN LULUS PENGETAHUANNYA.

Semoga Kasih dan Damai menyertai kita semua.

AMANAT DARI SANG GURU BESAR

SEKEDAR AMANAT DARI SANG GURU BESAR

Menindaklanjuti AMANAT dari SANG GURU BESAR kami, dalam rangka membantu sesama makhluk Gusti ditengah mahalnya biaya pengobatan, apalagi di era globalisasi ini yang serba salah dan serba sulit.

“Salam Kasih dan Damai untuk kita semua Atas berkat rahmat Gusti Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta puji syukur kepada-Nya. Karena atas segala limpahan rahmat, hidayah, inayah dan segala karunia-Nya yang tak terbatas telah tercurah kepada kita sekalian, dan mudah-mudahan kita semua dalam menjalani perjalanan kesejatian ini diberikan kemudahan dan petunjuk-Nya, Amin.

Serta tak lupa salam kasih dan damai kepada para Nabi dan Rasul, para sahabat, Auliya dan orang-orang mulia serta bijak di semua kehidupan, serta para leluhur nusantara yang telah memberikan suri tauladannya kepada kita sebagai panduan dan pembelajaran dalam mencapai kesejatian Sang Gusti.”

KINI……… TELAH DIBUKA PENGOBATAN UNTUK UMUM

Mudah-mudahan atas Ridho’ dan Karunia dari Gusti, semua penyakit baik fisik maupun non fisik dapat di sembuhkan,… Amin.

A. PENYAKIT FISIK :

- ASMA - KATARAK / MATA RABUN - PARU-PARU BASAH - SIPILIS / RAJA SINGA - KELENJAR - ASAM URAT - KANKER - KUSTA / GATAL-GATAL - HERNIA / TURUN BEROK - JERAWAT - TELOID / AMANDEL - MIGREN - AMBIEN / WASIR - LAMBAT DATANG BULAN - LUMPUH / STROKE - IMPOTENSI - DARAH TINGGI - LEMAH SYAHWAT - KENCING MANIS / DIABETES - PILEK MENAHUN - KENCING BATU - REMATIK / PENGAPURAN - MENCEGAH KEHAMILAN - INGIN MEMPUNYAI ANAK - RAMUAN JANTAN & PERKASA - MENINGKATKAN IQ DAN EQ ANAK - HIV / AIDS - KECANDUAN – DLL

B. PENYAKIT NON FISIK

- KESURUPAN - MENETRALISIR TEMPAT ( RUMAH, KANTOR, TEMPAT USAHA, GUDANG, DLL ) DARI SEGALA JENIS MAKHLUK GHAIB YANG MENGGANGGU - MEMUSNAHKAN SEGALA JENIS ILMU - MEMUSNAHKAN SEGALA JENIS SUSUK - MENYEMBUHKAN SEGALA JENIS KIRIMAN DARI ORANG / SANTET - DLL

Metode penyembuhan dilakukan dengan cara mengkombinasikan :

- BAHAN PENGOBATAN TRADISIONAL DAN ALAMI

- METODE HYPER METAFISIK

- TANPA BENDA KERAMAT APAPUN

BAGI ANDA YANG PERNAH BEROBAT DI TEMPAT LAIN DAN BELUM JUGA SEMBUH, BISA KIRIMKAN DATA ANDA KEPADA KAMI.

- NAMA LENGKAP PASIEN

- FOTO - NOMOR YANG BISA DI HUBUNGI

- ALAMAT

- PEKERJAAN ( JIKA SUDAH BEKERJA )

- JENIS KELAMIN

- NAMA IBU KANDUNG

- TGL LAHIR – UMUR

- JENIS PENYAKIT ( KELUHAN-KELUHAN )

- LAMA PENYAKIT ( HARI / BULAN / TAHUN )

- TEMPAT PENGOBATAN YANG PERNAH DIKUNJUNGI

( MOHON DEMI MEMAKSIMALISASI HASIL YANG AKAN DICAPAI, KIRIMKAN DATA ANDA SECARA LENGKAP, BENAR DAN JUJUR )

Kirimkan data anda ke email kami di : mr.xxx212@yahoo.com

MOHON MAAF SEBELUMNYA….. KAMI HANYA AKAN MELAYANI PERMINTAAN YANG SERIUS DAN BENAR KEABSAHAN DATANYA…, SERTA JUMLAH YANG TERBATAS.

TERIMA KASIH SALAM KASIH DAN DAMAI…

KI AGENG TAPA ( KETURUNAN EMBAH EYANG WANAGATI )

=PENDIRI PADEPOKAN LASKAR PUTRA LANGIT=

PERLU DIRENUNGKAN….

PERLU TATAKRAMA IKLAN POLITIK

Beberapa calon pemimpin bangsa yang melekat dengan keberhasilan yang digambarkan oleh berbagai pariwara politik, dinilai hanya menguntungkan kubu mereka. Semua mengklaim keberhasilan pembangunan sebagai bagian dari perjuangan partainya. Oleh karena itu, setiap anggota calon legislatif ( caleg ) dan partai politik ( parpol ) agar memiliki KEMATANGAN EMOSIONAL terutama dalam membuat iklan politik.

Perlu ada swakarma yang bisa mendewasakan diri dan kehidupan beretika dari caleg maupun parpol. Iklan politik perlu memperhatikan beberapa aspek penting, yakni tatanan dari dari segi tata cara dan tata karma, masa iklan, kewenangan, dan asas-asas yang diperjuangkan. Seperti benar, lurus dan jujur serta bertanggung jawab. Hal ini pula harus dilaksakan dengan persaingan yang sehat. Iklan juga mesti melindungi dan menghargai khalayak, tidak merendahkan agama, budaya, Negara, golongan bahkan tidak melawan hokum.

Iklan tidak 100% memaparkan situasi apa adanya. Iklan politik secara lebih spesifik bisa merupakan janji-janji kepada konstiuen. Jika janji ini tidak dipenuhi, berarti pemasang iklan ini telah menipu. Maka perlu di berdayakan nilai-nilai moral dan kode etis terhadap mereka. Sesuatu hal-hal yang termuat pada isi iklan harus merupakan sesuatu yang benar.

Kita khawatir, apakah gencarnya iklan politik bisa mendongkrak elektabilitas caleg atau parpor. Ataukah iklan itu hanya merupakan simbol atau wadah saja dalam mendongkrak popularitas semata.

Beberapa hal penting yang menjadi rebutan beberapa pemasang iklan politik antara lain, swasembada pangan, alokasi APBN 20% ke sector pendidikan, penurunan harga minyak, harga kebutuhan pokok, pembangunan infrastruktur dan lainnya.

Adakah yang peduli dengan ini semua ???

Sampai kapankah fenomena ini akan terus berlangsung di negeri tercinta ini ???

Dimanakah peran serta dari para intelektual agama, dewan pertimbangan agung, DPR / MPR atau lembaga-lembaga lainnya ???

Mengapa kita harus berjalan dengan langkah sendiri-sendiri tanpa memperdulikan langkah dan fenomena yang ada disekitar kita ???

Apakah kita sudah buta, tuli, dan tidak peka lagi terhadap perkembangan bangsa ini ???

Dimanakah HATI NURANI kita sebagai hidayah terbesar dari SANG MAHA PENCIPTA ???

Semoga kita semua, bahu membahu dan berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara MENUJU NUSANTARA JAYA.

Salam

MENJADI POLITISI ADALAH SEBUAH PENGABDIAN

Memilih karier sebagai politisi di Indonesia, memang susah-susah gampang. Susahnya, ditengah masyarakat yang sedang susah, segala perbuatan yang tidak baik pasti akan cepat terkuak. Dalam hitungan jam, maupun beberapa hari perilaku tersebut dapat diketahui oleh masyarakat terlebih lagi di era informasi sekarang ini yang cukup pesat.

Ada juga yang mengatakan kalau menjadi politisi tersebut gampang. Asal mempunyai uang, mempunyai minat terhadap kesejahteraan rakyat maka orang tersebut bisa masuk menjadi anggota partai politik dan kemudian berkecimpung didalamnya.

Tetapi yang harus kita renungkan, bahwa menjadi politisi tersebut sesungguhnya adalah sebuah PENGABDIAN. Pengabdian ini tidak sekedar kepada Negara, tetapi terlebih kepada masyarakat. Partai politik hanya sebagai wadah saja agar pengabdian tersebut bisa berlangsung dengan lebih terkoordinir. Tetapi faktanya jauh sekali dengan di lapangan, jadi memang di perlukan penanaman moral, nilai-nilai kebaikan dan kebersamaan serta nasionalisme kepada para politikus kita.

Kebetulan di Indonesia secara garis besar boleh dikatakan, pengabdian politisi tersebut harus dilakukan melalui partai. Menjadi politisi harus siap dengan waktu yang terkuras bahkan waktunya banyak terbuang untuk organisasinya ketimbang keluarganya. Juga ia pun harus rela uang pribadinya terkuras.

Dengan konteks itulah, maka kita khawatir dengan berbagai penyimpangan dan manuver politik yang terlihat di setiap pemilu, baik itu di tingkat daerah maupun di tingkat pusat.

Di tingkat bawah, kita dukung aparat keamanan yang mengusut calon anggota legislatifnya yang berbuat menyimpang. Di tingkat atas kita dukung KPK untuk menindaklanjuti calon maupun anggota legislative yang berbuat korupsi. Tetapi bagaimana terhadap maneuver politik tingkat pada tingkat eksekutif ???

Saat ini sudah jelas, bahwa pasangan SBY-JK tidak akan bergabung lagi. Keadaan ini memicu dinamika tinggi pada tingkat elit politik pusat. Pemilihan Presiden yang berlangsung bulan Juli nanti, justru kini terasa di bulan Maret dan April. Artinya, baik perhatian maupun strategi untuk pemilihan presiden tersebut, lebih popular di bandingkan dengan pemilu legislative yang akan diselenggarakan di bulan April nanti. Salah satunya adalah adanya trik-trik koalisi antar partai besar. Disinilah kekhawatiran kita. Koalisi adalah metode untuk mencapai kekuasaan, tetapi koalisi terkadang tidak baik untuk membangun pemerintahan. Pemerintah adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap rakyat. Koalisi, apalagi yang berlangsung diantara partai-partai besar, kerap runtuh di tengah jalan disebabkan oleh “perebutan “ pengaruh atau kekuasaan. Partai-partai besar merasa dirinya berkuasa dan memerintah. Jika koalisi ini retak di tengah jalan, maka Negara akan kacau dan rakyat menjadi penonton dan kebingungan.

Maka sekali lagi kita coba ingatkan, bahwa berpolitik itu adalah sebuah PENGABDIAN, bahkan bisa disebut pengabdian luhur, jika aplikasinya sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jika pandangan anda terhadap BERPOLITIK sama dengan BERKUASA, maka urungkanlah niat anda untuk berpolitik. Maka tindakan tersebut bukannya membuat Nusantara Jaya, tetapi menjadi Nusantara Sengsara. Jadi, mari kita bersama-sama berpartisipasi dan berperan aktif dalam peningkatan mutu bangsa menuju NUSANTARA JAYA.

Salam Kasih dan Damai untuk kita semua

7 BIDANG PEMBERDAYAAN MENUJU NUSANTARA JAYA :

1. AGAMA

* Pemberdayaan keagamaan pada setiap agama yang ada di Indonesia Contohnya : sebagai sarana konsultasi atau bimbingan gratis kepada umat untuk lebih menghayati spiritual dan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan pada setiap agama yang dianutnya, dan lainnya. * Mengadakan acara “Sadar Diri”, terutama di lingkup pemerintahan bahkan jikalau perlu dibuat pula kebijakan untuk pihak swasta. Dengan menanamkan materi nilai-nilai kebaikan dan kesadaran serta kejujuran. Dengan acara yang cukup sederhana tetapi materi dan isinya mengena di setiap pekerja. * Membuat kebijakan u/ stasiun TV agar membuat program acara kerukunan beragama * Melaksakan program-program sebelumnya yang sudah baik * Mengeluarkan kebijakan lain yang mendukung

2. PENDIDIKAN

* Program Beasiswa * Lembaga Pendidikan Belajar yang gratis * Merevisi Sistem Pendidikan ( cth : SD = 6 tahun, SMP sudah pengkhususan pada bidang profesi kerja * Membuat kebijakan u/ stasiun TV agar membuat program acara pendidikan * Melaksakan program-program sebelumnya yang sudah baik * Mengeluarkan kebijakan lain yang mendukung

3. EKONOMI DAN SOSIAL

* Mencanangkan program cinta Produk Indonesia * Memberikan pinjaman yang lunak dengan pengawasan yang baik untuk usaha kecil dan menengah * Swasembada Pangan * Mengontrol kelayakan dari perkembangan perusahaan besar khususnya * Membuka lapangan kerja baru dan pemerataan di setiap propinsi yang ada * Memaksimalisasi dan memperketat potensi dari Pajak, dan pengelolaannya * Membatasi produk-produk impor, dengan berasaskan bahan-bahan yang substansial dan pokok saja yang bisa masuk ke pangsa pasar dalam negeri * Membuat kebijakan u/ stasiun TV agar membuat program acara tentang pengembangan ekonomi dan sosial * Melaksakan program-program sebelumnya yang sudah baik * Mengeluarkan kebijakan lain yang mendukung

4. TENAGA KERJA

* Membuka program kursus-kursus untuk profesi kerja * Mengadakan penyuluhan-penyuluhan mengenai pemberdayaan SDM * Membuat kebijakan u/ stasiun TV agar membuat program acara tentang tentang tenaga kerja dan usaha mandiri * Melaksakan program-program sebelumnya yang sudah baik * Mengeluarkan kebijakan lain yang mendukung

5. SENI DAN BUDAYA

* Program Festival Seni dan Budaya * Pembangunan Sanggar Seni dan Budaya * Membuat kebijakan u/ stasiun TV agar membuat program acara tentang seni dan budaya * Mencantumkan 1 hari libur nasional dalam tiap tahun sebagai hari seni dan budaya nasional, dengan mengadakan parade atau perlombaan di tiap wilayah maupun nasional sebagai simbol kreasi bangsa dari seni dan budaya sebagai warisan leluhur dahulu * Melaksakan program-program sebelumnya yang sudah baik * Mengeluarkan kebijakan lain yang mendukung

6. OLAHRAGA DAN KESEHATAN

* Mengadakan program kompetisi dibidang olahraga * Melaksakan program-program sebelumnya yang sudah baik * Mengadakan penyuluhan-penyuluhan dan pengobatan gratis bagi warga yang tak mampu khususnya * Membuat kebijakan u/ stasiun TV agar membuat program acara tentang olahraga dan kesehatan. * Melaksakan program-program sebelumnya yang sudah baik * Mengeluarkan kebijakan lain yang mendukung

7. RISET DAN TEKHNOLOGI

* Membangun lembaga untuk pengembangan Riset dan Tekhnologi * Membuat olimpiade untuk penemuan-penemuan alat baru bagi anak bangsa demi kemajuan tekhnologi * Memberikan program beasiswa khusus bagi pelajar / pihak yang berperan dalam pengembangan tekhnologi * Membuat kebijakan u/ bekerja sama dengan stasiun TV agar membuat program acara tentang riset dan tekhnologi, sehingga meningkatkan minat, bakat dan kemampuan khususnya bagi para anak bangsa.agar berkarya. * Melaksakan program-program sebelumnya yang sudah baik * Mengeluarkan kebijakan lain yang mendukung

Point-point umum, terdiri dari :

- Untuk bidang-bidang tertentu program dilaksakan secara rutin / berkala ( seperti per periode tertentu )

- Untuk bidang-bidang yang tidak memerlukan biaya besar, serta ketentuannya yang mudah, maka dapat di galakkan pada setiap unit kecil sampai tingkat nasional - Beberapa program diatas juga dapat dilaksanakan secara mandiri oleh pemerintah maupun dengan bekerjasama dengan pihak swasta ataupun sponsor lainnya baik perorangan ( cth para pengusaha besar ), maupun kelompok atau lembaga

- Untuk program wajib pada setiap stasiun TV di tanah air, mungkin hari penayangan bisa dibuat bebas tetapi dibuat rutin 1 minggu sekali, serta durasinya mungkin bisa dibuat minimal 30 menit dan jam tayangnya diatur sedemikian rupa, agar dapat di tonton oleh masyarakat umum. Model Program acaranya dibuat bebas sesuai dengan tim kreativ pada setiap stasiun televisi yang ada. Untuk mendukung peran serta dan kreativitas masing-masing stasiun TV, maka di buat program AMI Award ataupun lainnya yang terkesan berkelas. Sebagai wadah informasi maupun pengembangan minat dan bakat masyarakat, sehingga timbul kesadaran untuk berkreasi dan berkarya, mempererat rasa kebersamaan serta meningkatkan rasa nasionalisme.

- Jikalau memang mungkin diperlukan, di buat suatu wadah pemberdayaan, sebagai contoh Lembaga Perdayaan Bangsa ( LPB ), yang terdiri dari beberapa unsur, seperti pakar ekonomi, tenaga kerja, Seni dan Budaya, dan lainnya. Disini mereka menuangkan aspirasi dan konsep untuk pengembangan pemberdayaan Bangsa, dengan didukung oleh anggaran dari pemerintah dan membuka sumbangan dari pihak swasta dan pengusaha lainnya untuk turut berperan serta. Dengan mengedepankan sisi efesiensi, efektif dan tepat sasaran.

- Dan aturan dan kebijakan lainnya yang mendukung.

VITAMIN D BIKIN UMUR LEBIH PANJANG

Vitamin D, disamping baik untuk kesehatan secara umum, tetapi juga bisa lebih memperpanjang usia manusia. Riset terbaru dari Universitas John Hopkins, AS, menyimpulkan bahwa asupan vitamin D yang lebih besar mengurangi kemungkinan anda meninggal dini, di luar faktor meninggal dari luar tubuh.

Hasil sejumlah studi juga menunjukkan, kekurangan vitamin D meningkatkan resiko kematian hingga 26 %. Vitamin D juga mengurangi tingkat kematian dari hampir semua jenis kanker, termasuk kanker payudara, usus dan prostate.

Para riset juga menyimpulkan, bahwa vitamin D membantu mencegah penyakit diabetes, ginjal dan kardiovaskuler. Dokter penyakit dalam asal Atlanta, AS, Reginald Fowler mengatakan, 80 % pasiennya kekurangan vitamin krusial yang mempertahankan level darah normal dari kalsium dan fosfor di dalam tubuh.

Dr. Fowler kerap melakukan skrining untuk vitamin D selama memeriksa pasiennya. Tes darah yang sederhana bisa mengecek level vitamin D yang harus mencapai 30 nanogram per milimiter atau lebih.

Dikatakannya, orang yang kekurangan vitamin D bisa mengalami nyeri otot. Bahkan kekurangan vitamin D yang parah dan berlangsung lama bisa memicu penyakit rachitis, pelemahan dan kerapuhan tulang. “ini bukanlah hal yang dianggap main-main,” kata Fowler.

Seperti diketahui, bahwa sinar matahari membantu tubuh dalam memproduksi vitamin D, namun terlalu sering berjemur di bawah sinar matahari juga bisa meningkatkan risiko kanker kulit. Jadi, makanan dan suplemen umumnya dipandang sebagai sumber terbaik vitamin D.

Untuk meningkatkan asupan vitamin D, makanlah lebih banyak makanan yang kaya vitamin D, seperti ikan tuna, salmon, sereal, kacang-kacangan, jus jeruk, susu dan keju. Bisa juga mengkonsumsi suplemen vitamin D-3 seperti cholecalciferol.

SEJARAH PANJALU

SEJARAH PANJALU

Panjalu berasal dari kata jalu (bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata panjalu berkonotasi dengan kata-kata: jagoan, jawara, pendekar, warrior (bhs. Inggeris: petarung, ahli olah perang), dan knight (bhs. Inggeris: kesatria, perwira).

Nama Panjalu mulai dikenal ketika wilayah itu berada dibawah pemerintahan Prabu Sanghyang Ranggagumilang; sebelumnya kawasan Panjalu lebih dikenal dengan sebutan Kabuyutan Sawal atau Kabuyutan Gunung Sawal. Istilah Kabuyutan identik dengan daerah Kabataraan yaitu daerah yang memiliki kewenangan keagamaan (Hindu) seperti Kabuyutan Galunggung atau Kabataraan Galunggung.

Kabuyutan adalah suatu tempat atau kawasan yang dianggap suci dan biasanya terletak di lokasi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, biasanya di bekas daerah Kabuyutan juga ditemukan situs-situs megalitik (batu-batuan purba) peninggalan masa pra sejarah.

Kekuasaan Kabataraan (Tahta Suci)

Pendiri kerajaan Panjalu adalah Batara Tesnajati yang petilasannya terdapat di Karantenan Gunung Sawal. Mengingat gelar Batara yang disandangnya, maka kemungkinan besar pada awal berdirinya Panjalu adalah suatu daerah Kabataraan sama halnya dengan Kabataraan Galunggung yang didirikan oleh Batara Semplak Waja putera dari Sang Wretikandayun (670-702), pendiri Kerajaan Galuh.

Daerah Kabataraan adalah tahta suci yang lebih menitikberatkan pada bidang keagamaan atau spiritual, dengan demikian seorang Batara selain berperan sebagai Raja juga berperan sebagai Brahmana atau Resiguru. Seorang Batara di Kemaharajaan Sunda mempunyai kedudukan yang sangat penting karena ia mempunyai satu kekuasaan istimewa yaitu kekuasaan untuk mengabhiseka atau mentahbiskan atau menginisiasi penobatan seorang Maharaja yang naik tahta Sunda.

Menurut sumber sejarah Kerajaan Galunggung, para Batara yang pernah bertahta di Galunggung adalah Batara Semplak Waja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang. Berdasarkan keterangan Prasasti Geger Hanjuang, Batari Hyang dinobatkan sebagai penguasa Galunggung pada tanggal 21 Agustus 1111 M atau 13 Bhadrapada 1033 Caka. Kabataraan Galunggung adalah cikal bakal Kerajaan Galunggung yang dikemudian hari menjadi Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya).

Besar kemungkinan setelah berakhirnya periode kabataraan di Galunggung itu kekuasaan kabataraan di Kemaharajaan Sunda dipegang oleh Batara Tesnajati dari Karantenan Gunung Sawal Panjalu. Adapun para batara yang pernah bertahta di Karantenan Gunung Sawal adalah Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara Karimun Putih. Pada masa kekuasaan Prabu Sanghyang Rangagumilang, putera Batara Karimun Putih, Panjalu berubah dari kabataraan menjadi sebuah daerah kerajaan.

Diperkirakan kekuasaan kabataraan Sunda kala itu dilanjutkan oleh Prabu Guru Aji Putih di Gunung Tembong Agung, Prabu Guru Aji Putih adalah seorang tokoh yang menjadi perintis Kerajaan Sumedan Larang. Prabu Guru Aji Putih digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Tajimalela, menurut sumber sejarah Sumedang Larang, Prabu Resi Tajimalela hidup sejaman dengan Maharaja Sunda yang bernama Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Prabu Resi Tajimalela digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Lembu Agung, kemudian Prabu Resi Lembu Agung digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Gajah Agung yang berkedudukan di Ciguling. Dibawah pemerintahan Prabu Gajah Agung, Sumedang Larang bertransisi dari daerah kabataraan menjadi kerajaan.

Kekuasaan kabataraan kemudian dilanjutkan oleh Batara Gunung Picung yang menjadi cikal bakal Kerajaan Talaga (Majalengka). Batara Gunung Picung adalah putera Suryadewata, sedangkan Suryadewata adalah putera bungsu dari Maharaja Sunda yang bernama Ajiguna Linggawisesa (1333-1340), Batara Gunung Picung digantikan oleh puteranya yang bernama Pandita Prabu Darmasuci, sedangkan Pandita Prabu Darmasuci kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Begawan Garasiang. Begawan Garasiang digantikan oleh adiknya sebagai Raja Talaga yang bernama Sunan Talaga Manggung dan sejak itu Talaga menjadi sebuah kerajaan.

Hubungan dengan Kemaharajaan Sunda

Panjalu adalah salah satu kerajaan daerah yang termasuk dalam kekuasaan Kemaharajaan Sunda karena wilayah Kemaharajaan Sunda sejak masa Sanjaya Sang Harisdarma(723-732) sampai dengan Sri Baduga Maharaja (1482-1521) adalah seluruh Jawa Barat termasuk Provinsi Banten dan DKI Jakarta serta bagian barat Provinsi Jawa Tengah, yaitu mulai dari Ujung Kulon di sebelah barat sampai ke Sungai Cipamali (Kali Brebes) dan Sungai Ciserayu (Kali Serayu) di sebelah timur.

Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kemaharajaan Sunda juga mencakup Provinsi Lampung sekarang sebagai akibat dari pernikahan antar penguasa daerah itu, salah satunya adalah Niskala Wastu Kancana (1371-1475) yang menikahi Rara Sarkati puteri penguasa Lampung, dan dari pernikahan itu melahirkan Sang Haliwungan yang naik tahta Pakwan (Sunda) sebagai Prabu Susuktunggal (1475-1482), sedangkan dari Mayangsari puteri sulung Hyang Bunisora (1357-1371), Niskala Watu Kancana berputera Ningrat Kancana yang naik tahta Kawali (Galuh) sebagai Prabu Dewa Niskala (1475-1482).

Lokasi Kerajaan Panjalu yang berbatasan langsung dengan Kawali dan Galuh juga menunjukkan keterkaitan yang erat dengan Kemaharajaan Sunda karena menurut Ekadjati (93:75) ada empat -kawasan yang pernah menjadi ibukota Sunda yaitu: Galuh, Parahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran.

Kerajaan-kerajaan lain yang menjadi bagian dari Kemaharajaan Sunda adalah: Cirebon Larang, Cirebon Girang, Sindangbarang, Sukapura, Kidanglamatan, Galuh, Astuna Tajeknasing, Sumedang Larang, Ujung Muhara, Ajong Kidul, Kamuning Gading, Pancakaki, Tanjung Singguru, Nusa Kalapa, Banten Girang dan Ujung Kulon (Hageman,1967:209). Selain itu Sunda juga memiliki daerah-daerah pelabuhan yang dikepalai oleh seorang Syahbandar yaitu Bantam (Banten), Pontang (Puntang), Chegujde (Cigede), Tanggerang, Kalapa, dan Chimanuk (Cimanuk) (Armando Cortesao, 1944:196).

Kaitan lain yang menarik antara Kemaharajaan Sunda dengan Kerajaan Panjalu adalah bahwa berdasarkan catatan sejarah Sunda, Hyang Bunisora digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya yaitu Niskala Wastu Kancana yang setelah mangkat dipusarakan di Nusa Larang, sementara menurut Babad Panjalu tokoh yang dipusarakan di Nusa Larang adalah Prabu Rahyang Kancana putera dari Prabu Sanghyang Borosngora.

Sementara itu sumber lain dari luar mengenai kaitan Panjalu dengan Sunda yakni dari Wawacan Sajarah Galuh memapaparkan bahwa setelah runtuhnya Pajajaran, maka putera-puteri raja dan rakyat Pajajaran itu melarikan diri ke Panjalu, Kawali, dan Kuningan.

SOLUSI MASA DEPAN INDONESIA

SOLUSI MASA DEPAN INDONESIA

KONDISI SAAT INI

Sejak beberapa waktu terakhir, berbagai krisis telah mengguncang dan memporakporandakan tata nilai yang berlaku di masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Krisis tersebut antara lain menyangkup aspek PANCA GATRA, yaitu :
• krisis politik
• krisis ekonomi
• krisis hukum
• krisis kepercayaan
• krisis moral

Tidak dapat disangkal bahwa guncangan ini terjadi karena kurang tangguhnya ketahanan pribadi dan nasional kita. Padahal seperti telah di sebutkan di atas, jika kualitas pribadi sebagai esensi dari ketahanan pribadi yang di harapkan dalam keadaan rapuh, kondisi ini juga akan mempengaruhi ketahanan pribadi, keluarga, wilayah dan pada akhirnya ketahanan nasional.

Adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, krisis yang telah mampu mengguncang hampir seluruh aspek kehidupan nasional ini pada hakekatnya bersumber pada krisis identitas. MAka masalah identitas yang sebenarnya bukan termasuk masalah urgent tetapi tergolong important, penanganannya pun harus ditangani secara efektif oleh pemerintah dan partisipasi aktif dari segenap lapisan masyarakat.

Jika kondisi Negara dan bangsa ibarat sebatang pohon, berbagai krisis yang sedang berlangsung semisal rontoknya dedaunan gara-gara rapuhnya ranting, dahan dan batang pohon. Apa penyebab semua itu ??? Akar pohon yang membusuk karena si pemilik lupa memberi pupuk, lalai menyiramnya dengan air. Akibatnya telah kita ketahui bersama. Merupakan tugas kita bersama untuk menjaga akar pohon, yang melambangkan berbagai unsur penting, yaitu agama, budaya, jati diri, kepedulian, keteladanan dan budi pekerti yang senantiasa terpelihara dengan baik, dan segera ditangani jika kita tidak berharap kondisinya akan menjadi semakin parah.

KIAT MENGHADAPI PERSAINGAN

Pada saat ini kita telah berada di abad ke-21 yang merupakan abad Milenium baru yang merupakan era globalisasi dan dengan segala implikasinya. Agar bangsa dan Negara tetap eksis, maka kita harus mempersiapkan diri untuk meningkatkan kemampuan menghadapi persaingan.

Dengan memahami tantangan di masa depan, lewat suatu analisis mendalam kita dapat menghayati berbagai faktor, baik yang mempengaruhi perkembangan global, regional maupun nasional, singkat kata, semua yang berkaitan dengan kehidupan sosial kita ( Panca Gatra ). Hanya dengan cara itulah berbagai kemungkinan yang dapat kita tempuh dapat di antisipasi dengan baik.

Sebagai salah satu gambaran analis tentang adanya berbagai konsep yang masuk ke Indonesia akibat globalisasi ini adalah HAM, perdagangan bebas, demokrasi, budaya dan lingkungan hidup. Sementara itu, akibat yang terjadi di dalam negeri sekarang ini adalah :
• tidak adanya demokrasi
• KKN
• Konsentrasi kekuasaan hanya pada golongan tertentu saja

Hal itulah yang menuntut adanya reformasi total yang dapat mengakomodasikan hasil interaksi antara konsep-konsep luar negeri dan konsep dalam neger, dengan memanfaatkan segenap kemampuan kita mengendalikan kekuatan itu.

Sebagai alternative, dapat dikembangkan tiga ( 3 ) kemungkinan strategi, yaitu :
1. melawan ( kalau mampu )
2. menghindar ( kalau tidak mampu )
3. ikut ( kalau bermanfaat )

Strategi apapun yang diambil, tolak ukurnya adalah PANCASILA, tetapi yang sangat menentukan adalah peran pelakunya, yaitu manusia Indonesia.

ILUSTRASI

Berkaitan dengan masalah persaingan dalam era globalisasi, sebuah pertanyaan muncul. Sudah siapkah kita berkompetisi dengan bangsa lain, khususnya dalam bidang ekonomi??? Sudah siapkah kita menghadapi globalisasi dengan segala implikasinya???

Betapa sering kita mendengar komentar, “ Kita harus siap bersaing. “ di ucapkan oleh para pejabat dan petinggi Negara. Komentar yang sering terdengar sangat sederhana, tetapi dalam kenyataannya mengandung sejumlah hal mendasar, yang justru merupakan titik kelemahan kita. Mengapa demikian ?

Kenyataan membuktikan bahwa kita belum memiliki kebiasaan bersaing, bahkan cenderunglengah menghadapi persaingan. Dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan lebih sering di cegah untuk bersaing. Dalam suatu kelompok, jika kebetulan pendapat kita berbeda dengan yang lain, kita dianjurkan untuk mengikuti arahan ataupun keputusan/ketentuan yang telah digariskan.

Hal serupa juga terjadi dalam dunia olahraga kita : Lingkungan yang seharusnya dapat melatih seseorang untuk berjiwa besar, bersikap sportif dan rendah hati. Sejauh ini tampaknya sebagian besar olahragawan kita baru sampai pada tahap mengagumi bila melihat seseorang juara menunjukkan sikap sebagai pemenang simpatik ( a sympathetic champion ). Namun pada saat mereka mereka berkesempatan tampil sebagai pemenang, sikap yang mereka perlihatkan jauh lebih menarik.

Apa yang membuat seseorang pemenang mampu bersikap simpatik? Dalam filosofi budaya jawa terdapat ungkapan, “Menang tanpa ngasorake” maksudnya menang tanpa membuat pihak lawan merasa rendah diri. Sungguh sangat disayangkan betapa sering kita melihat seorang juara sedemikian membanggakan kemenangannya hingga memberi kesan sombong, suatu sikap yang acap disebut sebagai awal kehancuran.

Lalu bagaimana seharusnya sikap seorang pemenang? Untuk menjadi pemenang yang simpatik, terlebih dahulu ia harus melatih diri untuk mampu menjadi si kalah yang baik ( a good loser ); dalam bahasa jawanya Kalah nanging legowo, artinya biarpun kalah, ia tetap menghargai pihak yang mengalahkan dirinya ( pemenang ), tetapi diam-diam bertekad untuk berlatih dengan lebih giat lagi agar dapat meraih hasil yang lebih baik. Kesadarn seperti itu tentunya harus diwujudkan dalam tindakan, bukan sekedar dengan kata-kata.

Kesadaran dalam bertindak juga merupakan suatu tuntutan jika kita memutuskan untuk menjadi seorang pemimpin atau para pemegang suatu keputusan, terlebih lagi para wakil-wakil rakyat dan staf di struktur pemerintahan.

SISTEM NILAI YANG DIANUT

Proses globalisasi mengandug suatu implikasi mendasar, aktivitas yang semula terbatas jangkauan menjadi hampir tanpa batas. Secara revolusioner, proses globalisasi juga akan memberikan implikasi pada tatanan nilai hampir di setiap bidang kehidupan. Khususnya dalam bidang social budaya, globalisasi akan memberikan dampak terhadap masuk dan munculnya nilai-nilai baru dalam tata kehidupan umum dan menjadi penentu perilaku bangsa. Sangat di harapkan bila kita dapat menyesuaikannya dengan integritas, identitas dan kepribadian bangsa.

Integritas bangsa merupakan perpaduan dari integritas pribadi-pribadi sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai social dan budaya. Identitas itu akan terpancar dari penampilan kepribadian bangsa, tercermin dari rangkaian kepribadian individu-individu warganya. Timbul pertanyaan : Sistem nilai manakah yang paling sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia???

Suatu bangsa memerlukan dasar normatif, suatu system nilai dan pandangan tentang manusia yang mendasari kebijaksanaan-kebijaksaannya. Akan tetapi, sestem nilai tersebut seyogyanya tidak hanya dibuat dan diciptakan oleh mereka yang sedang berkuasa, tetapi juga harus diambil dan digali dari masyarakat itu sendiri dan merupakan perwujudan kepribadian moral bangsa dan masyarakat itu sendiri. Pada akhirnya kita akan kembali kepada PANCASILA, dasar dan haluan kehidupan yang diakui sebagai satu-satunya azas bangsa Indonesia. Sebagai suatu system nilai normative bagi bangsa Indonesia, Pancasila tidak digariskan dari atas, tetapi digali dari nilai-nilai dasar dan pandangan hidup masyarakat Indonesia sendiri.

Dalam Pancasila sendiri, sebagai makhluk Tuhan, manusia menempati kedudukan terhormat berkat keluhuran, kesadaran dan martabatnya. Dengan kesadarannya itu, manusia diharapkan dapat mengembangkan kodratnya sebagai individu ataupun sebagai makhluk sosial.

Visi yang menyangkut pandangan hidup dan tertuang dalam Pancasila ini tentu saja harus dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukanlah suatu hal yang sulit jika kita memegang teguh Pancasila, kristalisasi berbagai nilai yang telah hidup dan berurat akar dalam masyarakat dan bangsa kita.

Idealnya, system nilai bagi bangsa Indonesia dapat digali dari ideology Pancasila serta tradisi kebudayaan yang masih relevan, dan bermuara pada system nilai dari agama yang kita peluk. Secara sederhana kita dapat merangkumnya dengan istilah 4 F, seperti pernah diutarakan oleh Frank Kehoe, seorang konsultan senior yaitu :

-Friendly ( ramah tamah )

-Frank ( terbuka )

-Firm ( tegas, bertanggung jawab )

- dan Fair ( adil ), yang dilandasi dengan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

MANUSIA DAN PEMANFAATAN INTELLIGENCE QUOTIENT, EMOTIONAL INTELLIGENCE DAN EMPATI

Sebelum Daniel Goleman memperkenalkan teorinya tentang pentingnya Emotional Intelligence ( kecerdasan Emosional ), pihak-pihak yang berkaitan dengan dunia pendidikan lebih banyak memberikan perhatian pada upaya mempertinggi tingkat ecerdasan, yang lazim kita kenal dengan istilah IQ ( Intelligence Quotient ).

Dalam buku Emotional Intellegence yang menggemparkan itu, Dr. Daniel Goleman mengatakan bahwa seseorang yang memiliki IQ tinggi, tetapi ber-EQ rendah berpeluang menemui kegagalan, sebaliknya seseorang ber-EQ tinggi meski hanya memiliki tingkat kecerdasan rata-rata, berpeluang menikmati keberhasilan.

APA SESUNGGUHNYA YANG DISEBUT KECERDASAN EMOSIONAL ?

Kecerdasan emosional terutama berkaitan dengan kemampuan dalam pengendalian diri. Khususnya dalam pergaulan, mampu mengendalikan diri juga berarti mampu mengelola emosi. Artinya, kita dapat memahami perasaan orang lain, menerima sudut pandang mereka, menghargai perbedaan dalam cara berperasaan terhadap berbagai hal. Jangan pula diabaikan pentingnya kemampuan untuk menjadi pendengar dan penanya yang baik kemampuan membedakan antara yang dikatakan ataupun dilakukan seseorang lewat suatu reaksi dan penilaian tertentu. Seni bergaul juga menyangkut kemampuan dalam bekerja sama, memecahkan konflik, membuat kesepakatan. Tak kurang pentingnya adalah kemampuan membaca pikiran emosional; sedih, bahagia, marah, terkejut, benci atau takut.

Jika seseorang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, berarti ia mampu mengendalikan dorongan emosionalnya, pandai membaca perasaan orang lain serta memelihara hubungan baik dengan lingkungannya,. Seperti halnya IQ yang perlu dilatih dan ditingkatkan lewat berbagai bentuk pendidikan, EQ-pun dapat dipertajam, antara lain, lewat pengenalan diri sendiri secara lebih mendalam. Sebagai makhluk sosial, akan lebih baik lagi bila ia memilki sejumlah kemampuan, yang merupakan komponen dasar dari kecerdasan antar pribadi.

Kemampuan yang dimaksud, antara lain :
• Keampuan menjalin hubungan pribadi : keterampilan untuk masuk dalam lingkup pergaulan, termasuk didalamnya keterampilan dalam mengenal dan merespon secara tepat perasaan ataupn keprihatinan orang lain.
• Kemampuan dalam membuat analisa sosial : keterampilan dalam mendeteksi dan memahami perasaan orang lain.
• Kemampuan mengorganisir kelompok : keterampilan esensial bagi seorang pemimpin, menyangkut tindakan mengambil prakarsa dan mengkoordinasi upaya menggerakkan kelompok.
• Kemampuan merundingkan pemecahan : keterampilan khusus yang dimiliki seorang mediator, yaitu mencegah atau menyelesaikan konflik, mengupayakan kesepakata, mengatasi atau menengahi selisih pendapat.

APAKAH EMPATI ITU ???

Akan sangat ideal jika kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dapat diserasikan. Tiadanya keserasian akan menghambat pengendalian diri dan pengendalian emosi seseorang.

Apabila seseorang hanya mengandalkan IQ, sementara EQ rendah, ia akan menemui kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan lingkungannya. Ia cenderung mengharapkan lingkungan “menyesuaikan diri dengan pemikirannya”. Sikap egoistis, mementingkan diri sendiri membuat seseorang menutup telinga, enggan memberikan empatinya. Meskipun ia bukan penderita buta dan tuli, namun ia tidak mampu melihat ataupun mendengar dengan telinga dan mata hatinya.

Agak berbeda dengan simpati, kesadaran untuk memberikan pengertian terhadap pengalaman ataupun perasaan orang lain, empati adalah penyaluran perasaan kita kedalam perasaan orang lain. Apabila kita mendengar seseorang sedang dilanda musibah, dengan menunjukkan empati kita luruh, seolah kita ikut mengalami musibah itu.

Bila seseorang memiliki kemampuan untuk memancarkan empati, ia akan dapat mendekatkan diri dengan pihak mana pun yang membutuhkan empatinya. Dengan gampang ia menyatukan diri dalam satu gelombang pemikiran dengan “penerima empati” dan melakukan yang terbaik untuknya.

Selain memberikan kemampuan kepada seseorang untuk memberikan simpati, kecerdasan emosi selanjutnya akan meningkatkan kemampuan yang bersangkutan untuk memancarkan empati. Pihak yang hanya mementingkan diri sendiri niscaya akan menyebabkan rang lain merasa terganggu dan bosan, sementara mereka yang mampu memancarkan empati akan menjadi sosok yang disenangi oleh orang disekitar.

GAMBARAN MASA LALU BANGSA

1. Stability, predictibality ( stabilitas, kondisi mudah di ramalkan )
2. Size and scale ( dimensi dan berskala )
3. Leadership from the top ( kepemimpinan dari atas )
4. Organization rigidity ( kekakuan organisasi )
5. Control by rules and hierarchy ( pengawasan atas dasar peraturan dan hierarki )
6. Information closely guarded ( informasi dengan pengawasan ketat )
7. Qualitative analysis ( analisa kualitatif )
8. Need for certainty ( kebutuhan atas kepastian )
9. Reactive risk averse ( penolakan reaktif terhadap resiko )
10. Corporate invendence ( kemandirian usaha )
11. Vertical integration ( integrasi vertical )
12. Focus on internal organization ( fokus pada organisasi internal )
13. Sustainable competitive advantage ( keuntungan kompetitif berkelanjutan )
14. Competing for today’s market ( persaingan untuk merebut pasar hari ini )

GAMBARAN MASA DEPAN BANGSA

1. Discontinous change ( perubahan tidak menentu )
2. Speed and responsive ( kecepatan dan tanggap )
3. Leadership from everybody ( kepemimpinan semua pihak )
4. Permanent flexibility ( fleksibilitas menetap )
5. Control by vision and value ( pengawasan atas dasar visi dan sistem nilai )
6. Information shared ( informasi untuk semua pihak )
7. Creativitas, intuisi ( kreativitas, intuisi )
8. Tolerance of ambignity ( toleransi terhadap ketidakpastian )
9. Proactive entrepreneurial ( kewirausahaan proaktif )
10. Corporate interdependence ( interdependensi usaha )
11. Virtual integration ( integrasi maya )
12. Focus on competitive environment ( fokus pada lingkungan persaingan )
13. Consultant reinvention of advantage ( pengupayaan keuntungan secara berkelanjutan )
14. Creating tomorrow market ( menciptakan pasar masa depan )

Apa yang kita perlukan untuk mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri sehingga dapat menjadi motivator bagi bangsa di seluruh dunia ???…
• Mempersiapkan visi, konsep dan teknis praktis yang jelas dalam menghadapi era millennium ini, minimal hingga tahun 2020.
• Program terpadu yang disepakati bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun masyarakat Indonesia baru.
• Fondasi atau landasan yang kukuh untuk menopang visi dan program tersebut, jati diri bangsa yang jelas dan kokoh serta dengan didukung oleh pribadi-pribadi yang berkualitas baik itu dari struktur pemerintahan maupun masyarakatnya.
• Program terpadu menyangkut pembinaan jati diri, moral dan esensi diri baik sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial maupun makhluk yang berketuhanan.

UPAYA-UPAYA YANG PERLU DILAKUKAN

Sebagai respond an sikap proaktif dalam menghadapi situasi dan kondisi saat ini, pembinaan jati diri merupakan suatu upaya strategis dan konseptual yang paling bijak dilakukan.

Apa sesungguhnya yang disebut jati diri?… Jati diri seorang pribadi/bangsa akan tercermin dari penampilan rasa, cipta serta karsa atau sistem nilai ( value system ), sikap pandang ( attitude ), dan perilaku ( behavior ) yang ia miliki. Berbagai unsur berikut ini kiranya dapat dipertimbangkan sebagai landasan jati diri, yang dicoba digali dari kehidupan nyata dalam upaya memelihara nilai-nilai intrinsik kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
1. ketakwaan kepada Tuhan
2. refleksi hati nurani
3. keramahan yang tulus dan santun
4. kebersamaan
5. keuletan dan ketangguhan
6. kecerdasan yang arif
7. harga diri

Ketakwaan kepada Tuhan, sesungguhnya telah mengakar kuat, walaupun seringkali dikaburkan dan kurang dihayati seperti yang seharusnya. Seandainya pembinaan dan ketakwaan kepada Tuhan dilakukan secara lebih mendasar dan benar-benar dilaksanakan secara tepat dengan pendekatan dari bawah ke atas ( bottom up ), berkat Pancasila sebagai ideologi negara rakyat Indonesia niscaya dapat membanggakan diri sebagai bangsa yang berbudi luhur.

Refleksi hati nurani, merupakan cerminan sikap seseorang yang tidak henti-henti mencoba dan mencari tumpuan hati. Benarkah cemooh yang mengatakan bahwa orang Indonesia lebih mendahulukan perasaan, kurang menggunakan akalnya???.

Dalam hal ini, kita tidak perlu berkecil hati kendati komentar ini tidaklah mengada-ada. Seperti telah diuatarakan diatas, ternyata kecerdasan emosi ( EQ ) merupakan elemen sangat penting di samping kecerdasan otak ( IQ ). Seseorang dengan IQ tinggi, tanpa didukung kecerdasan emosi yang memadai, cenderung akan menemui kegagalan dalam hidupnya. Ia harus lebih memahami hati nurani, membina dan menggunakannya secara tepat.

Keramahan yang tulus dan santun, adalah suatu realita dalam kehidupan di daerah pedesaan dengan ciri khas nya dengan keramahan dan kesantunan para warganya. Alangkah baiknya apabila realita kehidupan ini juga di bangun pada masyarakat perkotaan.

Kebersamaan, merupakan ciri utama kndati setiap individu tetap memelihara jati dirinya. Karena dengan adanya factor ini, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya.

Keuletan dan ketangguhan, merupakan unsure yang sangat menentukan pula dalam meraih keberhasilan. Tanpa kedua hal ini, Indonesia dipastikan belum adapt menikmati kemerdekaan pada tahun 1945.

Kecerdasan yang arif, merupakan suatu pendapat yang obyektif tentang bangsa Indonesia. Kita bukan bangsa yang bodoh, bahkan sebaliknya dapat dikategorikan sebagai bangsa yang potensial. Bukankah tidak sedikit putra dan putri bangsa telah memberikan prestasinya dalam bidang pendidikan di luar negeri???

Harga diri, merupakan budaya tua dan luhur, yang diwariskan secara turun temurun yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kenyataan ini selayaknya dipertahankan dan menjadi jati diri bangsa.

Dengan demikian, jika kita simak secara menyeluruh di setiap Nusantara ini, maka dapat dianggap sebagai suatu kebenaran ditemukannya persamaan yang menunjukkan adanya sifa-sifat berikut ini :

- Religius
- Ramah-tamah
- Gotong royong

Kiranya ketiga hal ini dapat merupakan format Jati Diri Bangsa yang dapat ditumbuh kembangkan.

Semoga Bangsa ini dapat mempercepat prosesnya MENUJU NUSANTARA JAYA.

( Syair dalam An Anglican Bishop, ditulis dalam The Crypts of Wetminister Abbey, Diterjemahkan oleh Rita Oetoro-1999 )

KEHENDAK UNTUK BERUBAH

Ketika diriku muda dan bebas,
Dan angan-anganku tanpa batas,
Aku berniat mengubah dunia.

Seiring diriku tumbuh dan lebih bijak,
Kudapati dunia tak kunjung berubah,
Maka kusederhanakan wawasan dan kuputuskan,
Hanya mengubah negeriku,
Namun tampak sia-sia,

Saat diriku menapak tahu-tahun senjakala,
Dalam suatu tekad penghabisan,
Kutetapkan untuk mengubah keluargaku saja,
Mereka yang akrab denganku,
Namun apa daya, mereka menolak

Dan kini saat terbaring diriku iranjang kematian,
Barulah aku menyadari,
Seandainya saja aku mengubah diriku sendiri,
Sebagai teladan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku,

Dengan keteladanan, kegigihan dan kobaran semangat mereka,
Pasti aku bisa memperbaiki negeriku dan
Siapa tahu, diriku bahkan berhasil mengubah dunia.

Salam untuk semuanya,
MARI KITA PERSIAPKAN DIRI MENUJU NUSANTARA JAYA

Satrio Piningit dan Dasarajadhamma

Pembicaraan mengenai pemimpin Indonesia masa depan yang akan membawa kemakmuran selalu enak untuk diikuti. Banyak pemberitaan pers meminta nasehat paranormal untuk meramalkan siapa kah yang akan menjadi pemimpin tersebut, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan “satrio piningit” dan pertama kali ditulis oleh Ranggawarsito.

Para pengamat memperkirakan, pada saat satrio piningit muncul, Indonesia sedang menghadapi goro-goro besar (kerusuhan). Setelah ia menjadi pemimpin negara, bangsa Indonesia akan menuju kemakmuran dan kejayaan seperti pada jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Ranggawarsito dalam karangannya memaparkan tujuh pemimpin Indonesia, sebagaimana diberitakan oleh tabloid Bangkit (28 Desember 1998), sebagai berikut.

1. Satria Kinunjara Murwa Kuncara. Satria terpenjara, Soekarno memang diketahui sebelum tampil menjadi presiden, sering keluar masuk penjara.

2. Satria Wibawa Kesandung-kesampar. Satria berwibawa, Soeharto memang presiden berwibawa. Ia tampil sebagai presiden selama 32 tahun tanpa ada orang yang berani melawannya.

3. Satria Jinumput Sumela Atur. Satria terpungut, Habibie menjadi presiden setelah Soeharto lengser. Satria terpungut ini tak henti-hentinya digoyang.

4. Satria Piningit Hamong Tuwuh. Satria yang bagaikan tersembunyi dalam pertapaan.

5. Satria Lelana Tapa Ngrame. Satria pengembara

6. Satria Boyong Pambukaning Gapura. Satria yang berpindah tempat.

7. Satria Pinandita Sinisihan Wahyu. Satria yang berjiwa dan bersemangan pendeta/brahmana/kebegawanan.

Jauh sebelum ramalan ini dicetuskan, Sang Buddha telah menggariskan raja atau pemimpin yang pantas dipuja oleh seluruh penduduknya, yaitu yang memiliki sepuluh kebajikan luhur dan sering disebut dengan dasarajadhamma.

Sepuluh kebajikan itu dapat diterangkan sebagai berikut:

Kebajikan pertama, gemar berdana atau beramal (dana). Raja yang pantas dipuja haruslah memiliki kemurahan hati dan beramal demi orang banyak. Pemimpin ini akan membangun tempat-tempat ibadah, panti asuhan, panti jompo dan sekolah-sekolah dengan menggunakan kekayaannya, apalagi disokong oleh menteri-menteri yang gemar berdana pula.

Kebajikan kedua, memiliki kesilaan atau moralitas yang terjaga dengan baik (sila). Presiden Clinton yang berselingkuh dengan Monica Lewinsky menunjukkan kesilaan yang tak terjaga dengan baik. Perselingkuhan ini membuat Clinton terpuruk dari karir kepresidenannya.

Kebajikan ketiga, rela berkorban (pariccaga). Raja harus rela berkorban demi mendahulukan kepentingan bangsanya. Raja yang enggan berkorban dan lebih mementingkan keluarga dan teman-teman dekatnya untuk mengambil keuntungan akan dikritik dan ditinggalkan rakyatnya.

Kebajikan keempat, berhati tulus (ajjava). Raja dalam bertindak harus dengan hati tulus dan tidak dibuat-buat dan juga tidak untuk menarik simpati rakyatnya. Program-program membantu anak yatim piatu dan orang tua asuh haruslah dialkukan dengan tulus, dan tidak sekedar program sementara untuk menyenangkan rakyat.

Kebajikan kelima, berprilaku ramah-tamah (maddava). Raja akan mendapatkan respek dari rakyatnya dengan berprilaku ramah-tamah. Bukan sebaliknya, rakya dipaksa berprilaku ramah-tamah, sementara rajanya berprilaku seenaknya.

Kebajikan keenam, hidup bersahaja dan sederhana (tapa). Raja dan keluarganya harus memberikan contoh hidup sederhana. Tidak perlu memiliki rumah dan tanah dimana-mana tapi tidak ditinggali. Rakyat akan mencontoh cara hidup rajanya yang sederhana. Meskipun krisis ekonomi dan politik menerpa suatu negara, rakyat akan menerimanya jika melihat cara hidup rajanya yang sederhana.

Kebajikan ketujuh, tak gampang marah dan dendam (akkodha). Jika ada menteri yang salah bicara atau salah bertindak, raja tidak seharusnya marah-marah, mendendam dan memecat menterinya serta-merta. Sifat tak gampang marah dan dendam ini akan mengurangi friksi-friksi politik dalam pemerintah.

Kebajikan kedelapan, tidak bersifat kejam (avihimsa). Dalam menghadapi perbedaan pendapat dan demo-demo, raja tidak boleh memerintahkan tentaranya untuk membunuh lawan-lawannya. Sifat kejam akan membawa kejatuhan; seperti Hitler yang membunuhi berjuta rakyat Yahudi dalam pemerintahannya. Sifat kejam ini membawa kejatuhan rakyat Jerman pada perang dunia. Sementara itu, Dalai Lama dengan sifatnya yang welas asih, berhasil menarik perhatian dunia atas rakyat Tibet. Dukungan dan perbaikan atas rakyat Tibet terus berdatangan, pemerintah Cina berusaha mengakomodir tuntutan perbaikan masyarakat Tibet.

Kebajikan kesembilan, mempunyai kesabaran (khanti). Raja yang tidak sabar dalam menghadapi tuntutan rakyatnya akan kesandung. Dia akan mengambil keputusan secara tergesa-gesa dan merugikan diri sendiri dan rakyatnya. Keputusan yang dihasilkan tidak matang dan harus direvisi atau pun tidak diikuti rakyatnya.

Kebajikan kesepuluh, tidak suka menimbulkan atau mencari pertentangan atau permusuhan (avirodhana). Kebajikan ini akan membuat para menteri menjalankan tugas-tugasnya selaras dengan kebijakan raja. Juga, raja tidak berupaya mencari masalah dan pertentangan dengan negara tetangga yang pada akhirnya akan merugikan negerinya sendiri. Memulai pertentangan dapat dengan mudah dijalankan, melakukan kerjasama damai dan normalisasi hubungan dengan negara lain jauh lebih sulit dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Kesepuluh kebajikan ini yang akan membuat suatu negar menjadi kuat dan damai. Masa kejayaan Indonesia akan tiba jika dipimpin oleh seseorang yang memiliki dasarajadhamma. Bangsa Indonesia sedang menunggu satrio piningit yang memiliki sepuluh kebajikan pemimpin, dasarajadhamma. Para pemimpin masyarakat, pemuka agama, aktivis mahasiswa, pendidik dapat memulai memupuk kebajikan dasarajadhamma agar krisis dapat dikurangi dan masa kejayaan dapat kita nikmati secepatnya.

Bait-Bait Terakhir Ramalan Joyoboyo

Dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo digambarkan suasana negara yang kacau penuh carut marut serta terjadi kerusakan moral yang luar biasa. Namun dengan adanya fenomena tersebut kemudian digambarkan munculnya seseorang yang arif dan bijaksana yang mampu mengatasi keadaan. Berikut adalah cuplikan bait-bait tersebut yang menggambarkan ciri-ciri atau karakter seseorang itu :

159.

selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu; bakal ana dewa ngejawantah; apengawak manungsa; apasurya padha bethara Kresna; awatak Baladewa; agegaman trisula wedha; jinejer wolak-waliking zaman; …

(selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (akhir Kalabendu, menjelang Kalasuba); akan ada dewa tampil; berbadan manusia; berparas seperti Batara Kresna; berwatak seperti Baladewa; bersenjata trisula wedha; tanda datangnya perubahan zaman; …)

160.

…; iku tandane putra Bethara Indra wus katon; tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa

(…; itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak; datang di bumi untuk membantu orang Jawa)

162.

…; bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis; tan kasat mata, tan arupa; sing madhegani putrane Bethara Indra; agegaman trisula wedha; momongane padha dadi nayaka perang perange tanpa bala; sakti mandraguna tanpa aji-aji

(…; pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar tak kelihatan, tak berbentuk; yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha; para asuhannya menjadi perwira perang; jika berperang tanpa pasukan; sakti mandraguna tanpa azimat)

163.

apeparap pangeraning prang; tan pokro anggoning nyandhang; ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang; …

(bergelar pangeran perang; kelihatan berpakaian kurang pantas; namun dapat mengatasi keruwetan banyak orang; …)

164.

…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong

(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

166.

idune idu geni; sabdane malati; sing mbregendhul mesti mati; ora tuwo, enom padha dene bayi; wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada; garis sabda ora gentalan dina; beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira; tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa; nanging inung pilih-pilih sapa

(ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti), yang membantah pasti mati; orang tua, muda maupun bayi; orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi; garis sabdanya tidak akan lama; beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya; tidak mau dihormati orang se tanah Jawa; tetapi hanya memilih beberapa saja)

167.

waskita pindha dewa; bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira; pindha lahir bareng sadina; ora bisa diapusi marga bisa maca ati; wasis, wegig, waskita; ngerti sakdurunge winarah; bisa pirsa mbah-mbahira; angawuningani jantraning zaman Jawa; ngerti garise siji-sijining umat; Tan kewran sasuruping zaman

(pandai meramal seperti dewa; dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda; seolah-olah lahir di waktu yang sama; tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati; bijak, cermat dan sakti; mengerti sebelum sesuatu terjadi; mengetahui leluhur anda; memahami putaran roda zaman Jawa; mengerti garis hidup setiap umat; tidak khawatir tertelan zaman)

168.

mula den upadinen sinatriya iku; wus tan abapa, tan bibi, lola; awus aputus weda Jawa; mung angandelake trisula; landheping trisula pucuk; gegawe pati utawa utang nyawa; sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan; sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda

(oleh sebab itu carilah satria itu; yatim piatu, tak bersanak saudara; sudah lulus weda Jawa; hanya berpedoman trisula; ujung trisulanya sangat tajam; membawa maut atau utang nyawa; yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain; yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan)

170.

ing ngarsa Begawan; dudu pandhita sinebut pandhita; dudu dewa sinebut dewa; kaya dene manungsa; …

(di hadapan Begawan; bukan pendeta disebut pendeta; bukan dewa disebut dewa; namun manusia biasa; …)

171.

aja gumun, aja ngungun; hiya iku putrane Bethara Indra; kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan; tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh; hiya siji iki kang bisa paring pituduh marang jarwane jangka kalaningsun; tan kena den apusi; marga bisa manjing jroning ati; ana manungso kaiden ketemu; uga ana jalma sing durung mangsane; aja sirik aja gela; iku dudu wektunira; nganggo simbol ratu tanpa makutha; mula sing menangi enggala den leluri; aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu; beja-bejane anak putu

(jangan heran, jangan bingung; itulah putranya Batara Indra; yang sulung dan masih kuasa mengusir setan; turunnya air brajamusti pecah memercik; hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya; tidak bisa ditipu; karena dapat masuk ke dalam hati; ada manusia yang bisa bertemu; tapi ada manusia yang belum saatnya; jangan iri dan kecewa; itu bukan waktu anda; memakai lambang ratu tanpa mahkota; sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati; jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh; keberuntungan ada di anak cucu)

172.

iki dalan kanggo sing eling lan waspada; ing zaman kalabendu Jawa; aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa; cures ludhes saka braja jelma kumara; aja-aja kleru pandhita samusana; larinen pandhita asenjata trisula wedha; iku hiya pinaringaning dewa

(inilah jalan bagi yang ingat dan waspada; pada zaman kalabendu Jawa; jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa; yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga; jangan keliru mencari dewa; carilah dewa bersenjata trisula wedha; itulah pemberian dewa)

173.

nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti

(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi)

Sabdopalon telah kembali ???….

Peninggalan budaya pada Jaman Majapahit di Nusantara

sekarang ini dapat dilihat situsnya di Mojokerto. Di

sana ada Situs Majapahit tetapi karena bahan bakunya

dari batu bata, maka tidak bisa bertahan lama, kini

tampak telah aus dimakan waktu/keropos, runtuh.

Berbeda dengan peninggalan Candi-candi Majapahit yang

lain di mana bahannya terbuat dari batu andesit,

hingga kini masih utuh. Yang menarik untuk

diperhatikan dan dipelajari adalah bagaimana Agama

Buddha yang demikian besar di Jaman Majapahit akhirnya

mengalami kemunduran hingga lenyap tidak dikenal sama

sekali, yang tersisa tinggal berupa kepingan-kepingan

sejarah.

Hal yang patut dicatat bahwa suatu agama akan

berkembang menjadi besar bila didukung oleh beberapa

syarat, sekurang-kurangnya ada lima, yaitu:

Kalau menjadi agama negara; sehingga kegiatan

keagamaan maju pesat karena sepenuhnya didukung oleh

raja. Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan lain-lain,

dibangun karena sepenuhnya didukung oleh raja.

Ditangani oleh kaum profesional agama (ulama); artinya

sebagai ahli pelaku agama (ulama), waktu sepenuhnya

tercurah, berpikir, berucap, dan bertindak untuk

kemajuan agamanya.

Tingkat kemakmuran masyarakat mendukung;

Tingkat kerelaan umat; jika dari kemakmuran dan

kerelaan cukup, pengadaan sarana dan prasarana demi

kegiatan pengembangan keagamaan semua dengan mudah

terwujud.

Tingkat keimanan umat cukup mantap; artinya tidak

mudah terpengaruh atau pindah agama

Agama Buddha pada Jaman Majapahit menjadi besar karena

lima hal tersebut di atas terpenuhi. Raja, pejabat

tinggi negara, dan rakyatnya menganut cara berpikir

Buddhis, beragama Buddha. Akan tetapi ketika yang

terjadi sebaliknya, petinggi-petinggi negara beralih

agama, para profesional (ulama) agama menyimpang dari

haluannya, tingkat kesejahteraan rakyat tidak

mendukung, keimanan goyah, maka lambat laun agama akan

ditinggalkan. Begitu pula Agama Buddha pada jaman

pasca Majapahit menjadi merosot tajam, lenyap hilang.

Agama Buddha di Indonesia sekarang dalam kondisi baik

dan aman, karena sah dan dilindungi undang-undang,

akan tetapi karena belum ditangani oleh kaum

profesional (ulama) sepenuhnya, maka masih

tersendat-sendat, sering ngadat. Selama ini

lembaga-lembaga, organisasi agama masih ditangani oleh

pemimpin-pemimpin yang belum sepenuhnya profesional

agama, sehingga perhatian dan pencurahan energi, serta

pemikirannya masih harus dibagi dua dengan tanggung

jawab kebutuhan keluarga atau profesi lain yang

menjadi kendala.

Hal lain yang menjadi sebab Agama Buddha menurun

adalah Raja ke-5 pada Jaman Majapahit yaitu Raja

Brawijaya V mempunyai anak laki-laki hasil

pernikahannya dengan Putri Campa (China), di mana

sejak kecil anak tersebut yang diberi nama Raden Babah

Patah dididik oleh Raja Ariyodamar di Palembang,

Sumatera, yang telah beragama lain. Jadi Raden Patah

diajar agama lain bukan Agama Buddha yang telah dianut

di negeri itu, sampai Raden Patah menjadi besar dan

kembali ke negeri Tanah Jawa di Kerajaan Majapahit.

Oleh Brawijaya diterima dan diberikan wilayah

kekuasaan untuk dibuka menjadi kerajaan baru. Tempat

tersebut oleh Raden Patah dibangun bersama dengan

guru-guru spiritualnya yakni para wali, jadilah

Kerajaan Demak Bintoro, di Jawa Tengah. Akhirnya demi

kepentingan tertentu guru-guru spiritualnya mendesak

Raden Patah sebagai Raja Demak Bintoro, untuk segera

mereformasi Majapahit berganti agama baru. Meskipun

berkali-kali Raden Patah menunda-nunda permintaan

gurunya, akan tetapi karena didesak dan didesak terus,

akhirnya Raden Patah menurut juga. Oleh karena

Brawijaya tidak mendidik Raden Patah untuk mempelajari

Agama Buddha, akibatnya Raden Patah tidak menganut

Agama Buddha, malah bermaksud mengganti agama yang

dianut Brawijaya, orangtuanya.

Sampai suatu ketika Majapahit didatangi PANSUS tentara

dari Demak, untuk tujuan mereformasi Majapahit. Prabu

Brawijaya sebagai orangtua tentu berpikir panjang,

apakah dia harus berperang berhadapan dengan anak,

sedangkan sebagai orangtua rela kurang makan minum,

kurang tidur, asal anak bahagia orangtua sudah cukup

puas. Maka meskipun negeri kerajaan dalam keadaan

didesak bahaya, daripada perang dengan anak, Prabu

Brawijaya memilih pergi meninggalkan kerajaan; lewat

pintu belakang beliau meninggalkan Kerajaan Majapahit

menuju Blambangan. Jadi Kerajaan Majapahit ketika itu

bukan diambil alih dengan peperangan atau perundingan,

tetapi tepatnya ditinggal pergi oleh rajanya. Raja

Demak berhasil mengambil alih istana Kerajaan

Majapahit, tetapi misinya dianggap belum sukses karena

Prabu Brawijaya belum pindah agama baru. Akhirnya

diputuskan untuk mengirim Raden Sahid Sunan Kalijaga

menyusul Prabu Brawijaya ke Blambangan, di ujung timur

Pulau Jawa. Tujuannya membujuk dan merayu, serta

memohon agar Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit dan

berganti agama. Pembicaraan ini berlangsung

berhari-hari sampai akhirnya Prabu Brawijaya

menyanggupi untuk kembali ke Majapahit. Tetapi beliau

mengatakan bahwa: “Saya mau kembali ke Majapahit bukan

untuk kekuasaan sebagai Raja Majapahit, tetapi demi

anak.” Sudah jelas dikudeta, tetapi Prabu Brawijaya

tetap tidak pupus rasa sayang pada anaknya. Walaupun

demikian misi para wali guru spiritual Raden Patah

belum tercapai, maka berhari-hari terus diadakan

dialog. Karena alotnya sampai suatu ketika dialog

diambil alih oleh kedua penasehat spiritual Prabu

Brawijaya yaitu Sabdopalon dan Noyoginggong (nama yang

sudah diistilahkan, yang dimaksud adalah bhikkhu).

Akhirnya Sabdopalon, Noyoginggong, dan Sunan Kalijaga

berdebat seru mengadu ilmu dan kesaktian.

Di mana untuk membuktikan misi baru ini hebat, Raden

Said mengambil air untuk mencuci muka, begitu

tersentuh tangan, air tersebut berubah menjadi berbau

wangi. Untuk menandai kejadian ajaib ini, maka di

tempat itu diberi nama Banyuwangi. Akhirnya disepakati

rombongan meninggalkan Blambangan menuju Majapahit.

Dalam perjalanan ke Majapahit rombongan berhenti di

suatu tempat peristirahatan (villa). Di tempat itu

diteruskan lagi diskusi yang belum usai. Sabdopalon

dan Noyoginggong menerima keajaiban air wangi tidak

tinggal diam, tetapi ingin menguji air wangi tersebut

sampai kapan bertahan. Air wangi yang dibawa dalam

bumbung (tabung) dari Blambangan, oleh Sabdopalon dan

Noyoginggong dibuka tutupnya, ternyata air yang semula

berbau wangi itu sekarang berubah menjadi berbau basin

(busuk) dan banger. Prabu Brawijaya berkata: “Saya

sudah tua, semuanya demi anak. Permintaan saya,

meskipun Majapahit sudah berganti pemerintahan tetapi

jangan sampai dinodai tetesan darah. Saya sanggup

berganti agama tetapi saya mempunyai permintaan, kalau

saya meninggal jangan ditulis di sini makam Brawijaya,

cukup diberi tanda ‘di sini peristirahatan si putra

bulan [trowulan].” Begitu Prabu Brawijaya memberi

disposisi, kedua penasehat spiritualnya berkata:

“Brawijaya, saya tidak akan mengikuti perjalananmu

lagi, saya akan tidur saja, dan saya tidak akan bangun

sebelum Agama Buddha kembali. Dan ingatlah keharuman

air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4

jaman.” Usai berkata demikian Sabdopalon dan

Noyoginggong “moksa” (menghilang). Mendengar kata-kata

itu Brawijaya menangis tetapi semuanya sudah

terlambat. Untuk memberi saksi harumnya air wangi

menjadi berbau basin dan banger, tempat itu diberi

nama Jember. Dihitung-hitung perjalanan dari

Banyuwangi sampai Jember selama 4 hari dan 5 malam.

Artinya keharuman itu nanti bertahan selama 500 tahun

dan 4 jaman.

OBAT TRADISIONAL

OBAT TRADISIONAL

  1. Menghilangkan bekas luka

 

Bekas luka menimbulkan cacat atau noda yang menganggu kehalusan dan mengurangi keindahan kulit, apalagi bila terdapat di bagian muka. Tapi anda tak perlu resah, ada cara mudah untuk menghilangkannya :

    1. Bahan :

-Beberapa potong pare

-Bedak tepung beras secukupnya

    1. Pembuatan :

-Pare dicuci bersih lalu ditumbuk halus sampai berair, campurkan air perasan pare tersebut dengan bedak tepung beras

c. Pemakaian :

- Dioleskan pada bekas luka setiap akan tidur malam, sebelumnya muka dibersihkan dahulu

  1. Menghaluskan tangan

 

Sebagai orang timur kita sering melakukan jabat tangan, tetapi kadang kita segan melakukannya karena tangan kita kasar. Di bawah ini ada beberapa cara untuk merawat tangan agar halus.

    1. Resep Pertama

Kentang di parut, lalu digosokkan pada bagian kulit tangan yang kasar berulang-ulang.

 

    1. Resep Pertama

Mentimun di kupas lalu diambil kulitnya, digosokkan berulang-ulang pada bagian kulit tangan.

 

    1. Resep Ketiga

Gosokkan kopi bubuk yang telah diberi air agak panas pada tangan berulang-ulang, biarkan beberapa saat lamanya. Kemudian cucilah tangan anda dengan sabun.

  1. Menghilangkan Panu

Panu bila dibiarkan akan mengurangi penampilan seseorang, terlebih bila sampai menjalar pada bagian muka. Memang tidak terasa sakit, tetapi bila terkena panas dan berkeringat akan terasa gatal. Beberapa cara menghilangkan panu, di antaranya :

    1. Resep Pertama

-Bahan :

- Jeruk Nipis

- Belerang

- Pembuatan :

- Jeruk nipis dibelah empat, belerang ditumbuk sampai halus. Belahan jeruk nipis dicelupkan pada belerang.

- Pemakaian :

- Gosokkan pada bagian tubuh yang berpanu setiap kali sehabis mandi. Lakukan 2-3 kali sehari.

    1. Resep Kedua :

-Bahan :

- Beberapa lembar daun ketepeng

- Garam sedikit

- Pemakaian :

- Daun ketepeng dibubuhi garam sedikit, digosokkan pada bagian yang berpanu. Lakukan setiap kali habis mandi.

    1. Resep Ketiga :

-Bahan :

- Sepotong lengkuas sebesar jari

- Pemakaian :

- Sepotong lengkuas besar sebesar jari, dicuci lalu dibelah kemudian ditumbuk jangan terlalu hancur. Gosokkan pada bagian yang berpanu setiap saat setelah mandi.

    1. Resep Empat :

-Bahan :

- Satu siung bawang putih

- Pemakaian :

- Ambil satu siung bawang putih lalu dibelah dua, gosokkan pada bagian tubuh yang berpanu.

  1. Menghilangkan kerut wajah

 

Kerut muka wajar terdapat pada orang berusia tua atau mereka yang banyak berfikir. Bila anda juga mengalaminya, maka atasilah dengan resep di bawah ini :

    1. Resep Pertama

-Bahan :

- Tepung beras 1 cangkir

- Tepung kacang hijau 1 cangkir

- Telur ayam kampong 1 butir

- Pembuatan :

- Semua bahan diaduk sampai rata lalu dijemur. Setelah kering ditumbuk dan diayak sampai halus.

- Pemakaian :

- Gosokkan sebagai bedak terutama pada bagian kulit yang mengkerut. Lakukanlah setiap akan tidur malam.

    1. Resep Kedua :

-Bahan :

- Buah semangka

- Pemakaian :

- Peraslah daging buah semangka. Simpan dalam botol tertutup rapat selama 24 jam lalu dipergunakan mencuci muka..

  1. Menghilangkan jerawat

 

A Obat Luar

a. Jeruk nipis

- Ambil belerang ½ sendok makan, lembut kan dengan perasan air jeruk nipis yang sudah dibelah. Untuk menghilang bau belerang yang tidak sedap itu teteskanlah minyak wangi. Lalu teteskanlah pada jerawat anda.

b. Tomat

- Ambil buah tomat yang sudah masak, diiris kecil-kecil, menjelang tidur malam balurkan ke bagian muka yang jerawatan.

c. Sirih

- Lumatkan beberapa lembar daun sirih, lalu tempelkanlah pada bagian muka yang jerawatan. Lakukanlah beberapa hari, agar hasilnya maksimal.

B. Obat dalam ( untuk diminum )

a. Bahan :

- 10 gram kencur

- 10 gram temulawak

- Asam sedikit

- Jinten beberapa butir

- Gula aren sedikit

b. Pembuatan :

- Kencur dan temulawak diparut

- Asam, jinten dan gula ditumbuk dengan parutan kencur dan temulawak

- Diberi air secukupnya

- Diseduh dengan air panas

c. Pemakaian :

- Diminum pagi hari

- Dimalam hari, muka yang berjerawat digosok dengan jeruk nipis yang dibelah.

- Pagi hari, muka dicuci dengan air bersih

( Hindari makanan yang berlemak )

 

  1. Meningkatkan nafsu makan

 

Kurang nafsu makan sebenarnya bukan suatu penyakit tersendiri, melainkan suatu gejala dari adanya penyakit di dalam tubuh. Diantaranya, beri-beri, kurang darah, malaria dan beguk. Karena penyakit ini biasanya didahului dengan tanda kurangnya nafsu makan pada seseorang. Untuk mengatasinya, maka carilah sumber utama penyakit tersebut.

    1. Perawatannya :

-Usahakan penderita dapat istirahat dan tidur dengan cukup

-Usahakan setiap hari bisa makan sayur ( daun singkong, daun ubi jalar merah, daun melinjo atau lalapan daun kenir / kemangi ) dan makan buah-buahan yang masak di pohon, seperti jeruk manis, pepaya, pisang, nanas, mangga dan sirsak

-Hindari semampu-mampunya makanan yang berminyak dan gula pasir

-Usahakan dapat meminum secara teratur

    1. Pengobatannya :

> Bahan :

-Daun papaya yang agak muda dan masih segar ½ pelepah

-Air masak ¾ cangkir

-Madu 1 sendok makan

> Caranya :

- Daun papaya ditumbuk halus, di beri air masak dan madu dip eras lalu di saring. Minum 2-3 kali sehari.

  1. Kencing manis

 

Orang yang terkena kencing manis juga bisa mengakibatkan kekuatan seksnya melemah, karena itu obati penyakit kencing manis anda.

    1. Bahan :

10 – 16 lembar daun tapak dara

b. Caranya :

Direbus dengan tiga gelas air sampai mendidih dan akhirnya tinggal satu gelas

-Pemakaian :

Biarkan air rebusan sampai dingin setelah itu diminum. Lakukan sesering mungkin agar cepat sembuh.

Diminum pagi dan sore hari setelah makan

  1. Sakit Gigi

 

Orang yang sakit gigi biasanya uring-uringan/tidak bisa diam. Rasa sakitnya bukan main, seperti mau makan. Penyebab umumnya adalah gigi berlubang dan infeksi.

Hal ini dapat dihindari dengan beberapa tindakan, diantaranya :

-Menyikat gigi secara teratur

-Menghindari makanan yang terlalu panas, dingin atau keras

-Konsultasi dengan Dokter gigi

-Makan makanan yang bergizi seperti susu, buah-buahan, dan sayuran yang kaya akan vitamin c.

a.1. Bahan :

- Pucuk daun jambu biji sebanyak 3 helai

b.1. Caranya :

- Pucuk daun jambu biji yang masih segar dimamah atau dilembutkan dengan gigi lalu disumpal pada gigi yang sakit. Biarkan selama beberapa saat, jangan ditelan.

a.2. Bahan :

- Bawang putih secukupnya

b.2. Caranya :

- Bawang putih dihancurkan lebih halus, lalu sisipkan kedalam gigi yang sakit. Angkat setelah beberapa saat, 15 – 30 menit.

 

KUNCI MENUJU DIMENSI SPIRITUAL

Adakalanya dalam situasi kehidupan yang mengancam, pergeseran dalam kesadaran waktu menuju kehadiran ( presence ) terjadi secara alami. Kepribadian yang memiliki masa lalu dan masa depan untuk sementara harus mengundurkan diri dan digantikan oleh kehadiran sadar yang kuat, sangat senang namun pada saat yang sama juga sangat waspada. Apapun tanggapan yang diperlukan akan muncul dari keadaan kesadaran itu.

Sejak zaman dahulu, guru-guru spiritual dari semua tradisi telah menunjuk pada saat sekarang sebagai kunci menuju dimensi spiritual. Sehingga timbul kesadaraan penuh kewaspadaan sepanjang sekarang, dengan kata lain, hadir sepenuhnya sehingga tidak ada masalah, tidak ada penderitaan, tidak ada yang bukan siapa adanya Anda yang dapat bertahan didalam diri anda. Dalam saat sekarang, dalam keadaan tanpa waktu, semua masalah anda lenyap. Penderitaan membutuhkan waktu, penderitaan tidak dapat bertahan hidup dalam saat sekarang. “Waktu menghalangi terang menjangkau kita. Tidak ada hambatan menuju Tuhan seperti waktu. “

MEMBACA WATAK DAN PIKIRAN SESEORANG

 

MEMBACA WATAK DAN PIKIRAN SESEORANG

 

A. PENTINGNYA MENGENAL WATAK SESEORANG

 

Kepribadian yang dimiliki orang yang satu dengan lainnya tentu menunjukkan perbedaan-perbedaan tertentu. Antara orang yang satu dengan yang lainnya mempunyai ciri tersendiri, baik gaya lahiriahnya, maupun watak yang terpendam di balik bentuk yang kelihatan. Artinya, watak seseorangpun juga dapat membedakan antara satu dengan yang lainnya. Maka mengenal watak dan berusaha membaca pikiran seseorang amatlah penting bagi kehidupan. Namun sampai sekarang masih sedikit orang-orang yang mampu mengungkapkan tabir rahasia ini. Mungkin ilmu untuk mengenali watak dan membaca pikiran seseorang ini baru dimiliki oleh para pemeriksa kejahatan, intelegency dan badan penyidikan. Orang awam masih merasa kesulitan untuk belajar bagaimana mengenal watak dan membaca pikiran seseorang.

Jika kita benar-benar ingin mempelajari bagaimana cara mengenal dan menebak isi serta watak seseorang, maka jika berhasil tentu kita menjadi kaget terhadap diri kita sendiri. Sebab kita mengetahui orang manakah dan siapa yang patut kita jadikan sebagai teman bisnis, teman pergaulan, teman perkawinan dan lainnya.

B. CARA MEMBACA WATAK SESEORANG

 

  1. Melalui warna kesayangannya :
    1. Biru

-Mudah patah semangat jika mendapat cobaan

-Mudah puas dengan apa yang diperoleh, meskipun nilainya kecil

-Mendambakan perasaan damai, tentram tetapi tidak mau bekerja keras dan memeras keringatnya untuk kebahagiaan hidupnya.

-Dalam bercinta, ia selalu rendah diri dan takut jika mengalami kegagalan

-Sulit untuk merasa tertarik terhadap keindahan

-Penampilannya dibuatnya tidak bersimpati dan tidak menarik

-Cara hidupnya tidak berlebihan, sederhana saja

    1. Hijau

-Merindukan kewibawaan dan rasa hormat

-Hidupnya lebih suka memilih kemewahan atau glamour dibandingkan dengan kesederhanaan

-Kurang percaya diri

-Tak mau mengalah dan terkesan sok tahu serta memaksakan kehendak

-Tidak suka menyendiri, lebih suka hidup dan bersosialisasi dengan orang lain, baik itu teman, pacar dan keluarga

-Ia menyukai orang-orang yang mau mendengar keluhannya

-Rasa cemburunya berlebihan dan selalu ingin mendapatkan perhatian dari pasangannya

-Bagi wanita, lebih menyukai potongan rambut yang pendek

    1. Merah

-Mempunyai semangat yang tinggi, bergolak dan menggebu-gebu

-Jika marah sulit dipadamkan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tidak mempunyai rasa cemas dan takut terhadap kesepian dan kekosongan dalam hidupnya, karena ia akan mencari pengalaman baru dan suka berpetualang

-Mempunyai daya pikat tinggi

-Ingin diperhatikan oleh pasangannya

-Cenderung bersifat mandiri

    1. Kuning

-Suka akan kebebasan dan petualangan

-Terkadang suka menyendiri

-Mempunyai keingintahuan yang tinggi

-Cenderung merasa cepat bosan

-Suka memikirkan dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik

-Pandai mengambil suatu keputusan

-Bersikap salah tingkah jika ingin mengungkapkan perasaannya

-Mengerahkan jiwa dan raganya terhadap orang-orang yang sangat dicintainya

    1. Hitam

-Agak misterius, sulit di tebak perasaan dan sikapnya

-Suka menyendiri

-Cenderung merasa cepat bosan

-Mempunyai bakat / keingintahuan yang tinggi terhadap kebatinan, magis, agama atau spiritual

-Mempunyai rasa solidaritas yang tinggi terhadap orang lain, terlebih orang-orang yang disayanginya

-Rajin dan tekun terhadap suatu hal yang di minati

    1. Putih

-Penyabar

-Suka akan kedamaian dan kebersihan

-Mempunyai rasa solidaritas yang tinggi terhadap orang lain, terlebih orang-orang yang disayanginya

-Mempunyai bakat / keingintahuan yang tinggi terhadap kebatinan, magis, agama atau spiritual

-Suka memberikan nasehat kepada orang lain

-Cenderung agak Idealis

 

  1. Melalui gerak isyarat telapak tangan
    1. Posisi telapak tangan menghadap ke atas

-Cenderung dengan kejujuran, penyerahan diri dan tulus

    1. Posisi telapak tangan menghadap ke bawah

-Cenderung agak tertutup / ada hal yang disembunyikan dan agak otoriter

    1. Macam-macam gerak isyarat berjabat tangan

> i. Isyarat jabat tangan yang ingin menguasai :

- Menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain

- Memaksakan kehendak kepada orang lain

- Cenderung berjiwa besar dan bertanggung jawab

> ii. Berjabat tangan “saya menyerah”

- Kemungkinan memberi hormat kepada orang yang di jabatnya

- Tak terlalu agresif

- Suka mengalah dan cenderung jujur

- Sifatnya serba tenang, santai tetapi meyakinkan

> iii. Berjabat tangan dengan kedua tangan

- Ingin menunjukkan rasa kejujuran dan persahabatan yang erat

- Penuh keakraban dan kehangatan

 

  1. Melalui gerak isyarat mata
    1. Tatapan mata berbohong

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>sorot matanya mengundang tanda Tanya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sesekali ia menunduk atau matanya berputar-putar

    1. Isyarat menutup mata

- Ia cenderung merasa bosan terhadap lawan bicara

    1. Tatapan mata intim

- Kebanyakan tanpa sadar saling beradu pandang lalu sotot matanya tertuju pada daerah mata, hidung, bibir selanjutnya ke dada / payudara.

    1. Tatapan mata formal / serius

- Tatapan mata berbentuk segitiga, yaitu daerah obyek pandangan mata tertuju sekitar kedua mata dan dahi

    1. Tatapan Sosial / wajar / biasa

- Sorot mata biasa, dahi tidak mengerut

  1. Gerakan Lainnya
    1. Gerak isyarat menutup mulut

- Cenderung berbohong

b. Gerak tangan disandarkan ke dagu / pipi

- Orang tersebut sedang menilai pembicaraan

c. Gerak isyarat menyentuh telinga / menggosok telinga

- Orang tersebut merasa cukup mendengarkan komentar anda

d. Gerak isyarat menggosok daerah sekitar mata

- Orang tersebut menyembunyikan sesuatu

e. Gerak isyarat menggaruk leher

- Aku ragu-ragu atau kurang setuju terhadap pendapat anda

f. Gerak isyarat menarik kerah baju

- Orang tersebut cenderung berbohong

g. Gerak isyarat menggigi jari

- Orang tersebut kurang nyaman dan gelisah terhadap perkataannya

 

TASAWWUF

TASAWWUF

  1. TENTANG ILMU TASAWWUF

“Ilmu tasawwuf itu tidak mempunyai batas, ia merupakan ilmu tertinggi, ilmu ghaib, ilmu ketuhanan.

Ia mempunyai manfa’at yang sangat mendalam bagi ilmu ketuhanan, secara khusus hanya diketahui oleh orang yang selalu ingat Alla dan ciptaan-Nya.”

( Abul Hasan bin Abi Dzarr ).

  1. TENTANG ILMU BATHIN

“Sesuatu yang lebih baik telah diajarkan oleh Allah dan kami, suatu awal kebenaran hati yang telah kami rasakan. Yang mengabarkan tentang diriku dan Dia, dari keindahan-Nya, atau membungkusnya dengan apa yang menutupi-Nya. Karena tersembunyi seseorang tak dapat menyiarkannya, akan rusaklah maknanya apabila sesuatu menerangkannya. Maka seseorang tidak dapat memahamiitilah ( sufi ) walaupun sedikit, maka sufi pun mengabarkannya. Maka ia menyingkap kebodohan dan kelompoknya pun semakin tampak, dan dipelajari Ilmu Bathin dan pengaruh-pengaruhnya. “

( Abul Abas )

“Apabila seseorang pemikir bertanya kepada kami ( tentang ilmu bathin ), maka kami akan menjawabnya dengan tanda-tanda yang misterius. Kami mengisyaratkan dengan tanda-tanda itu sehingga ia pun menjadi bingung. Sehingga pemikir-pemikir tentang Ilmu Bathin tambah berkurang. Kami menyaksikannya dan ia pun menyaksikan kami di dalam hati, sehingga setiap kejadian berpengaruh bagi dirinya. Ucapan-ucapan / tindakan akan diketahui melalui perjalanan keadaan spiritual, bagaikan perjalan orang yang bijaksana ditimpa kemalangan.”

( Abul Abas )

TOKOH-TOKOH SUFI

- Al Hasan Al Bashri

- Rabi’ah Al ‘Adawiyah

- Sufyan Ats tsauri

- Ibrahim bin Adham

- Dzun Nun Al Mishri

- Abu Yazid Al Busthami

- Abul Qasim Al Junaidi

- Imam Al Ghazali

- Syeh Abdul Qadir Al Jaelani

- Jalaluddin Ar Rumi

AJARAN-AJARAN SUFI

1. Tentang Tauhid

2. Tentang Takdir dan penciptaan perbuatan

3. Tentang Kemampuan

4. Tentang Al Qur’an

5. Tentang Tasawuf

6. Tentang Allah

7. Tentang Janji dan ancaman

8. Tentang Syafa’at

9. Tentang Keramat para Wali

10. Tentang Hakekat Iman

11. Tentang Mazhab

12. Tentang Taubat

13. Tentang Zuhud

14. Tentang Sabar

15. Tentang Fakir

16. Tentang Rendah hati

17. Tentang Takut

18. Tentang Taqwa

19. Tentang Ikhlas

20. Tentang Syukur

21. Tentang Tawakal

22. Tentang Ridha

23. Tentang Yakin

24. Tentang Zikir kepada Allah

25. Tentang Cinta

TAUHID

TAUHID

Perlu kita ketahui…! Semoga Allah memberi rahmat kepada kita sekalian, karena wajib bagi setiap orang yang ingin menuju jalan akhirat, ia harus menghimpun dan menjalani antara syari’at dan hakekat. Karena hakekat tanpa syari’at akan batal dan syari’at tanpa hakekat akan menjadi sia-sia.

Demikianlah celakanya orang yang hanya berpegang kepada hakekat tanpa syari’at. Alasan mereka seolah-olah benar, padahal syari’at adalah perintah Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya. Dan bila masuk surga karena semata-mata karunia Allah, lalu untuk apa Allah membuat aturan yang harus dan wajib dilakukan dan yang wajib ditinggalkan ???… Oleh karena itulah hakekat anpa syari’at adalah jalan yang kurang bijak.

Adapun orang yang hanya berpegang pada syari’at saja, dan ia beranggapan bahwa seseorang itu masuk surga hanya karena amal perbuatannya, dan jika tidak beramal maka timbangan pahalanya sedikit, sehingga kecil kemungkinannya masuk surga. Alasan seperti ini juga tidak bijak, karena sholat selama seribu tahunpun, belum cukup untuk membayar ni’mat mata yang sebelah saja dari Allah. Apalagi dengan banyaknya ni’mat yang Allah berikan kepada para makhluk-Nya.

Sayyidina Ali karamahullahu wajhah telah mengatakan, bahwa orang yang mengira bisa masuk surga tanpa amal ibadah adalah orang yang melamun. Dan orang yang mengira bahwa dengan amalnya ia masuk surga, maka yang demikian itu hanya akan melelahkan dirinya saja.

Oleh karenanya orang harus memegang kedua-duanya, yaitu hakekat dan syari’at.

Jika kamu bertanya, “Apa ada batas dalam Ilmu Tauhid, seperti yang disebutkan itu, agar orang bisa mengetahuinya tanpa guru ?”. Maka ketahuilah olehmu, bahwa guru itu sebagai pembuka jalan untuk mengetahui batas tersebut. Dan jika bersama guru akan lebih mudah, dan Allah dengan karunia-Nya akan memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Dalam hal demikian, Allah jualah yang mengajarkan kepada mereka.

Beberapa Ilmu perlu kita pelajari dan pahami, terutama Ilmu Tauhid dan Tasawuf sebagai bahan dasar dan fundamen untuk beribadah secara keseluruhan. Yang pada akhirnya membuahkan sikap, perkataan dan perbuatan kita pada jalan-Nya, untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada Nabi Daud, a.s yaitu firman-Nya. “ Wahai Daud !… Peliharalah olehmu ilmu-ilmu yang bermanfa’at !”

Daud a.s. berkata, “Wahai Tuhanku, ilmu apakah yang bermanfa’at itu ?… Allah berfirman, “Adalah ilmu yang berfungsi untuk mengetahui keluhuran, keagungan dan kebesaran-Ku serta kesempurnaan atas kekuasaan segala sesuatu. Inilah yang mendekatkan kamu kepada-Ku.

Yang dimaksudkan oleh firman Allah diatas adalah ilmu Tauhid, yaitu ilmu yang membahas tentang ke-Mahaesaan Allah, keagungan-Nya, kesuician-Nya dari sifat-sifat yang dituduhkan oleh orang-orang kafir, serta ke-Mahakuasaan-Nya terhadap segala sesuatu.

( bersambung … )

SEJARAH SUNDA

SUNDA

Apakah manfaat pengetahuan sejarah bagi kita ?

Pertanyaan itu dijawab oleh Muiler (1952:38), “Our task is to creatiea “usable past” for our own living purpose” yaitu tugas kita ialah mereka instruksi masa lalu untuk mencari manfaat bagi kehidupan sekarang jelasnya lagi, yaitu kita harus mampu menyerap unsur sejarah yang bermanfaat bagi

kemajuan bangsa dan dapat mentransformasikan dalam kehidupan.

Manfaat sejarah dapat disimpulkan dalam Ciri Jati Diri (Identitas)

a. Sejarah untuk menjadikan Ciri Jati Diri (Identitas): Identitas diri atau kelompok dapat tumbuh dari rasa bangga akan hasil peradaban atau kebudayaannya. Sehingga pada akhirnya memotivasi generasi penerus untuk lebih berprestasi kerja agar terwujud identitas diri dan bangsa.

b. Sejarah Sebagai Sumber Nilai Budaya Dan Peradaban: Dalam kandungan sejarah banyak terdapat nilai-nilai peradaban yang menjadi ukuran derajat peradaban bangsa tersebut. Nilai peradaban itu harus dapat disampaikan kepada generasi selanjutnya.

Periodesasi Sejarah Sunda

Drs. Saleh Danasasmita, pakar Sejarah Sunda membuat periodesasi Sejarah Sunda berdasarkan “Ide Dasar” yang menjiwai masyarakat pada masanya. Pembagiannya yaitu:

A. Ide dasar Nusantara, Bercirikan Megalitik.

B. Ide dasar Hinduisme.

C. Ide dasar Budisme.

D. Ide dasar Islamisme.

E. Ide dasar Kejawen.

Tetapi ada pula pakar yang membuat periodesasi berdasarkan kurun waktu. Periodesasi sejarah sunda Sbb :

a) Jaman Pra Sejarah (Purwayuga), Pada jaman ini dikatakan bahwa mahluk yang pernah hidup disebutnya.

- Satwapurusa (manusia hewan), 1.000.000 – 600.000 th S.M.

- Bhutapurusa (manusia bhuta, Raksasa) 750.000 – 300.000 th S.M.

- Yaksapurusa (manusia yaksa, sejenis raksasa) 500.000 – 300.000 th S.M.

- Wamanapurusa (manusia cebol) 50.000 – 25.000 th S.M.

- Antara 25.000 – 10.000 th S.M. berdatangan manusia dari Yuwana, Campa, Syangka, hidup berbaur dengan penduduk asli.

- Antara 10.000 S.M. sampai dengan awal tarikh Masehi, berdatangan manusia baru dari daerah utara.

Catatan: pada jaman pra-sejarah terdapat tradisi Nusantara (Megalitik). Manusia penghuni asli berbaur dengan pendatang baru.

b) Jaman Sunda Mandiri (Yuga ning Rajakawaca)

- Kerajaan Salakanagara :

ini adalah kerajaan yang pertama yang ada di tatar Sunda, juga di Nusantara. Salakanagara (Negara Perak), kotanya Rajatapura (Kota Perak). Rajanya yaitu Dewawarman, yang berasal dari India Selatan dan menikah dengan Pohaci Larasati, putra dari Aki Tirem (Aki Luhur Mulya). Wilayah negaranya adalah daerah Banten sekarang sampai ke pesisir Sumatera Selatan.

Catatan :

A. Sudah ada ahli ilmu hundagi (arsitektur).

B. Konsep kerajaan bersumber kepada tradisi India.

C. Raja Yeh-Tiao yang bernama Tiao-piem, kemungkinan yang dimaksud yaitu Yavadwipa dengan Dewawarman.

D. Dalam pemerintahan Dewawarman VII baru terceritakan adanya kerajaan Bakulapura (Kutai) di Kalimantan. Jadi lebih awal adanya Kerajaan Salakanagara daripada Kutai.

- Kerajaan Tarumanagara :

Tahun 348 M, seorang Maharesi dari Calakayana, India selatan, datang ke tatar sunda, membuka pedesaan di tepi sungai Citarum. Diambil mantu oleh Dewawarman VIII, diberi julukan Jayasingawarman (sang resi Rajadi Rajaguru). Jayasingawarman inilah yang menurunkan raja-raja di kerajaan Tarumanagara (dari tahun 568 M – 669 M).

Catatan:

A. agamanya Hindu, istilah kasta yang menyerap sampai sekarang dalam bahsa Sunda ialah kata : nista, maja (madya), utama.

B. Yang paling termashyur adalah Raja Purnawarman dari tahun (395-434 M) bergelar Narendrayajabutena (Panji Sagala Raja). Raja ke III Tarumanagara. Raja yang namanya ditulis dalam prasasti paling lama memerintah (Prasasti Ciaruteun). Memerintah untuk menggali sungai (Bangawan) Gamati. Mendirikan Kota Sundapura, membuat pelabuhan angkatan perang, Ahli perang, sudah mengenakan pakaian dari besi (kere, zirah). Bergelar Wyagra Tarumanagara (maung Tarumanagara). Nyusuk, membendung dan memelihara sungai Gangga (Cirebon), sungai Cupu Nagara, sungai Surasah Manukrawa (Cimanuk), sungai Gomati, sungai Candrabaga, sungai Citarum. Armada perangnya paling hebat dan kuat. Pimpinan perang dipegang sendiri mentampas bajak laut di laut Jawa. Kerajaan-kerajaan kecil yang dibawahinya terdiri atas 46 kerajaan.

C. Raja terakhir dari kerajaan Tarumanagara, yaitu Linggawarman (666-669 M). Menantunya bernama Tarusbawa, sejak raja inilah nama Raja Wreti Kandayun dari negara Galuh (di daerah Ciamis sekarang), melepaskan negaranya dari Tarumanagara, jadi negara Galuh mandiri, kedudukannya di daerah selatan tatar sunda. Tahun 670 M wilayah Tarumanagara dibagi dua, yaitu kerajaan Sunda di daerah barat, kerajaan Galuh (Parahyangan) disebelah timur. Batasnya Sungai Citarum.

- Kerajaan Galuh:

Menerangkan kerajaan Galuh, harus dimulai dari awal yaitu dari mulai Kendan (Daerah Nagreg, Cicalengka). Kendan adalah asal muasalnya Kerajaan Galuh. Tokohnya bernama Resiguru Manikmaya, Orang India (Wangsa Calakayana). Diangkat rajaresi di daerah Kendan (536-568 M). Raja Kendan yang tidak mendirikan lagi keraton yaitu ialah Wretikandayun. Wretikandayun meneruskan wangsa Kendan dengan mendirikan Kerajaan Galuh tempatnya di daerah Karang Kamulyan sekarang Ciamis. Jaman Wretikandayun, Galuh lepas dari kerajaan Tarumanagara. Galuh ada hungungan yang erat sekali dengan Kalingga, karena Raja Galuh (Sang Mandiminyak) menikah dengan Dewi Parwati, putranya Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga. Kerajaan Galuh berdiri sejak tahun 591-852 M.

Catatan:

A. Cerita asal muasal Kerajaan Galuh, ada dalam naskah kuna ‘Carita Parahyangan’ (Naskah akhir abad Ke 16).

B. Di Galuh pernah terjadi perang saudara, disebabkan diangkatnya sang Sena menjadi raja di Galuh, dan ini menimbulkan amarah dari putra Mandiminyak yang sah, yaitu Purbasora dan Demunawan. Sang Sena bisa lolos dan melarikan diri ke Kalingga Utara (Jawa tengah).

C. Sena (putra Mandiminyak + Rababu) menikah dengan Sahana (putra Mandiminyak + Parwati) mempunyai putra Sanjaya.

D. Sanjaya (putra Sena) yang ada di Kalingga Utara, membalaskan sakit hati ke ayahnya dengan menyerang Kerajaan Galuh. Sanjaya berhasil merebut Galuh dari Purbasora.

E. Sanjaya menikah dengan Teja Kancana, putra dari Tarusbawa (Raja Sunda) dan akhirnya diangkat menjadi Raja Nagara Sunda.

F. Akhirnya Sanjaya menjadi Raja yang mengusasai Nagara Sunda dan Nagara Galuh. Berdiamnya tidak di kota Galuh tapi di keraton (Purasaba) Sunda.

G. Di Galuh mengangkat wakilnya, yaitu Premana Dikusumah (cucunya Purbasora), mempunyai putra Surotama (Manarah, Ciung Manarah).

H. Premana Dikusumah suka bertapa. Patihnya yang bernama Tamperan mempunyai hubungan gelap dengan istri kedua Premana Dikusumah, maka lahirlah Banga.

- Kerajaan Sunda :

Kerajaan Sunda adalah nama baru dari Kerajaan Tarumanagara. Di dirikan oleh Tarusbawa (669 M). Keratonnya di daerah Batu tulis, Bogor. Kotanya disebut Pakuan. Istananya (keraton) disebut Sang Bima –Punta-Narayana Madura-Suradipati, disingkat Sang Bima atau Sri Bima. Salah seorang raja dari nagara Sunda yang termasyur, bernama Sri Jayabhupati (Prabu Detya Maharaja). Dalam Prasasti Citatih disebut Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Cakala bhuwanamanda-laeswaranin-dita Hargowardhana Wikromotunggaluewa.

Catatan:

A. Waktu jaman kerajaan Sunda, ada di dalam daerah khusus yang dianggap mandiri yaitu kerajaan Galunggung. Rajanya bernama Batari Hyang menurut prasasti Geger Hanjuang.

B. Mengenai raja Sunda yang bernama Darmasiksa (1175-1297 M), ini ada fragmennya dalam naskah kuna carita parahyangan. Beliau mendirikan pusat pemerintahan baru di daerah Tasikmalaya sekarang, yang disebut Saunggalah (senama dengan Saunggalah di Kuningan).

- Kerajaan Kawali :

Raja kerajaan Sunda yang pertama di Kawali yaitu Ajiguna Linggawisesa, menantu prabu Linggadewata. Kejadian perang Bubat (pasundan Bubat) yaitu pada jaman Raja Linggabuana (1350-1357 M). Dua putranya yang tersohor yaitu bernama Dyah Pitaloka (Citraresmi) seorang putri yang terkenal dengan kecantikannya dengan Niskala Wastu Kencana. Citraresmi tadinya akan dipersunting oleh Prabu Hayam Wuruk dari Majapahit. Tetapi pernikahan tidak terlaksana karena terjadinya peristiwa Bubat. Prabu Wastukancana (Niskala Wastu Kancana, Prabu Resi Buanatunggal dewata, Prabu Linggawastu). Prabu Niskala Wastukancana yang membuat prasasti di Astana Gede yang berbunyi :

Prasasti I: Nihan tapa kawali nu siya mulia tanpa bhagya parebu raja wastu mangadeg di kuta kawali nu mahayu na kadatuan surawisesa nu marigi sakuliling dayeuh nu najur sagala desa aya ma nu padeuri pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya dina buana.

Dalam bahasa sunda: Nu tapa di Kawali ieu teh nu mulya nu tapa nu bagja Prabu Raja Wastu nu jumeneng di kota Kawali nu mapaes karaton Surawisesa, nu nyusuk (kakalen) sakuriling dayeuh, nu ngaraharjakeun sabudeureun nagri. Muga-muga aya nu pandeuri nu ngabiasakeun migawe karahayuan malar lila jayana di buana.

Dalam Bahasa Indonesia : Yang bertapa di Kawali ini yang mulia yang bertapa yang bahagia Prabu Raja Wastu yang berkedudukan di Kota Kawali yang menghiasi keraton Surawisesa, yang menggali parit sekeliling kota, yang mensejahterakan sekeliling negri. Mudah-mudahan ada yang dibelakang yang membiasakan mengerjakan kebajikan supaya berjaya di buana.

Prasasti II: Aya ma nu ngeusi bhagya kawali bari pakena bener pakeun najeur na juritan.

Dalam Bahasa Sunda: Muga-muga aya nu pandeuri nu ngeusian nagara kawali ku kabagjaan bari ngabiasakeun diri migawe karaharjaan Sajati supaya tetep unggul dina pangperangan.

Dalam bahasa Indonesia : Mudah-mudahan ada yang dibelakang yang mengisi negara kawali dengan kebahagiaan, dengan membiasakan diri mengerjakan kesejahteraan sejati agar tetap jaya dalam peperangan. Kerajaan Talaga daerah Talaga (Majalengka) besar kaitannya dengan Kawali. Kerajaan Talaga ialah salah satu (satu-satunya) yang menganut Agama Budha.

Catatan:

A. Naskah Kuna Carita Parahyangan banyak membahas mengenai Kawali.

B. Wastu Kancana meninggal tahun 1475 M. Putranya yang bernama Ningrat Kancana (Prabu Dewa Niskala) menggantikannya menjadi Raja Kawali. Putranya yang seorang lagi bernama Sang Haliwungan (Prabu Susuk Tunggal) jadi raja di nagara Sunda, berkedudukan di daerah Pakuan.

C. Putra Dewa Niskala,bernama Jayadewata di ambil menantu oleh Prabu Susuk Tunggal. Oleh karena itu nantinya Jayadewata menjadi raja di dua negara yaitu di Kawali dan di Sunda. Kerajaan yang dipegang oleh oleh Prabu Jayadewata disebut Pajajaran (1482-1579 M).

D. Prabu Jayadewata dikenal juga dengan nama Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi (1482-1521 M).

- Kerajaan Pajajaran :

Raja pertama kerajaan Pajajaran adalah Prabu Jayadewata (Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi, sang pemanah rasa, Keukeumbingan Raja Sunu) menikah dengan Ambetkasih (dari daerah Sindangkasih), dengan putri Subanglarang, dengan Kentringmanik Mayang Sunda, (Putra raja Susuk tunggal, dari Nagara Sunda). Beliau disebut Siliwangi, karena dianggap keharuman namanya mengganti keharuman nama Sang Prabu Wangi (Linggabuana) yaitu uyutnya, yang meninggal di Bubat. Prabu Siliwangi menjadi raja dari tahun 1482-1521 M. Jasa-jasa Prabu Siliwangi dicatat dalam prasasti Kebantenan dan Batu Tulis. Terdapat pada prasasti yang lainnya, isinya mengenai kewajiban rakyat kepada negara. Karya Prabu Siliwangi antara lain Telaga dengan nama Rena. Mahawijaya, membuat jalan, membuat benteng kota, memberikan daerah baru kepada para pendeta demi kemajuan agama, membuat keputren, kesatriaan, menciptakan formasi perang, tempat kesenian, menyusun angkatan perang, mengatur undang-undang, dll. Pada jaman Pajajaran inilah di mulai ada hubungan dengan Portugis yaitu tahun 1513 M. Tome Pires (bangsa Portugis) seorang penjelajah mengatakan Nagara Sunda (Pajajaran) disebutnya negara Ksatri yang dipimpin oleh seorang pahlawan laut. Raja Pajajaran yang terakhir bernama Ragamulya Suryakencana (1567-1579 M).

Catatan:

A. Kerajaan Pajajaran paling dikenal oleh orang Sunda, dengan rajanya yang sangat terkenal yaitu Prabu Siliwangi.

B. Pada jaman Pajajaran mulai masuk pengaruh agama Islam dengan derasnya.

- Kerajaan Surasowan :

Berkedudukan di Banten, merupakan kerajaan yang meneruskan kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang sudah bubar. Di mulai dengan pemerintahan Sultan Hasanuddin (1478 M). Termasyur sebagai kerajaan Banten-Islam. Putra Hasanuddin yaitu Panembahan Yusuf, yang menumpas Pakuan Pajajaran tahun 1579 M. Raja terakhir kerajaan Surasowah ialah Pangeran Muhamad (Kangjeng Ratu Banten 1580-1605 M).

Catatan:

Kerajaan Surasowan erat kaitannya dengan Cirebon dan Demak.

- Kerajaan Pakungwati :

Pakungwati adalah nama dari keraton di Cirebon di dirikan oleh Walang Sungsang. Cirebon Larang di dirikan tahun 1445 M. Sultan-sultan dari Pakungwati (Cirebon) mempunyai tempat khusus dalam sejarah Sunda terutama erat kaitannya dengan menyebarnya Agama Islam.

Catatan:

A. Salah satu tokoh yang terkenal dari Kerajaan Pakungwati ialah Sunan Gunung Jati, salah satu wali yang paling melekat di hati masyarakat sebagai tokoh Islam.

B. Keraton Cirebon, terhitung tempat yang paling lengkap yang memberi informasi mengenai sejarah Sunda.

- Kerajaan Sumedang Larang :

Pusat di kota Sumedang sekarang. Di Dirikan oleh Prabu Tajimalela kurang lebih tahun 1340-1350 M. Waktu yang memegang tampuk pemerintahan Ratu Sintawati hubungan dengan kerajaan Talaga (di Majalengka sekarang) terjalin erat sekali. Putrinya yaitu Ratu Satyasih (pucuk umum) nikah dengan Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang, cucu dari pangeran Panjunan dari Cirebon). Pangeran Santri adalah Raja Sumedang Larang yang pertama menganut Agama Islam. Salah satu putera Pangeran Santri yang terkenal yaitu Pangeran Angkawijaya (Geusan Ulun).

Catatan:

A. Senapati/pembesar Pajajaran yang membantu Geusan Ulun, yaitu Jaya Perkosa, Wiradijaya (Nangganan), Kondang Hapa, Pancar Buana. Senapati berempat inilah yang membawa mahkota Pajajaran dengan atribut lainnya, diserahkan kepada Geusan Ulun. Sekarang ada di museum Sumedang. Atribut ini dipakai sebagai pengesahan (Legitimasi), bahwa Sumedang Larang meneruskan Kerajaan Pajajaran.

B. Geusan Ulun erat sekali dengan kejadian Ratu Harisbaya.

- Kerajaan Galuh Pakuan :

Kedudukannya di Pasir Huut, Kampung Galuh Pakuan, Kecamatan Blubur –Limbangan sekarang. Dari situ pindah ke daerah Limbangan-Leles (Windupepet). Tokoh terkenal yaitu Prabu Sangkan Beunghar, keturunan dari Prabu Siliwangi.

Catatan:

Kerajaan Galuh Pakuan sering disebut dalam cerita Babad dan Pantun, namun tidak ada tertulis dalam naskah-naskah Kuno sekalipun.

c) Jaman Kasosok Ti Luar (pengaruh dari luar), yaitu maksudnya banyaknya pengaruh baik kekuasaan, budaya, tekhnik dari luar daerah Sunda. Umpamanya saja pengaruh dengan datangnya bangsa Belanda dan Inggris. Pengaruh kekuasaan dan Budaya dari Jawa (Kejawen, Mataram). Pengaruh budaya dari Timur Tengah. Mengenai periodesasi Jaman ini sudah banyak di bahas di buku-buku sejarah, diantaranya buku-buku pelajaran di SD, SLTP, SLTA, dari perguruan Tinggi.

d) Jaman Tandangna Kebangsaan, Kebangkitan nasional di tandai dengan berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908 dan organisasi-organisasi lainnya. Adapun kebangkitan rasa kebangsaan di tatar Sunda di tandai dengan berdirinya Organisasi Paguyuban Pasundan pada September 1914.

e) Jaman Bhinneka Tunggal Ika, Yang dimaksud adalah peran sejarah Sunda setelah berkumandangnya Kemerdekaan republik Indonesia, dari tahun 1945 sampai sekarang.

Penutup

Seperti yang sudah ditulis dalam Purwa Carita, tulisan ini hanya memberi ciri-ciri sejarah Sunda. Semoga Ki Sunda tidak selebar daun kelor, namun sunda selebar jagat. Nenek moyang sunda telah memperlihatkan kesadaran mengenai pentingnya kesejarahan yang paling hakiki yaitu isi Prasasti Kawali I, II dan isi Kropak 632 dari kabuyutan Ciburuy yang berbunyi:

Hana nguni hana mangketan hana nguni tan liana mangke aya ma baheula hanteu tu ayeuna hana tunggak hana ratan tan hana tunggak tan hana watang hana ma tunggulna aya tu catangna.

Aya bihari aya kiwari teu aya baheula moal aya ayeuna ku ayana baheula nya ayana ayeuna mun taya bihari moal aya kiwari aya tunggak (tangkal) aya dahan mun taya tunggak moal aya dahan mun aya tunggulna tangtu aya sirungna.

Ada dulu ada sekarang tidak ada dahulu tidak ada sekarang adanya sekarang adanya dahulu kalau tidak ada dahulu tidak ada sekarang ada batang ada cabang kalau tidak ada batang tidak ada cabang kalau ada tunggulnya mungkin ada tunasnya.

Artinya : Tunggul = metafora dari arti Karuhun (leluhurnya), Sirung = metafora dari Urang Pisan (keberadaan keturunannya).***

SEJARAH PAJAJARAN

Pajajaran (1482 – 1579)

A.Kawali Ibukota Baru

1. Pusat Pemerintahan Berpindah-pindah

Bila rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia tumbuh secara bersangsur-angsur, ini mudah dipahami karena banyaknya kelompok etnik yang menjadi penduduk Indonesia. Rasa kesatuan etnik Sunda di Jawa Barat pun tidak tumbuh serempak, melainkan berangsur-angsur.

Telah dikemukakan bahwa keturunan Manarah yang laki-laki terputus sehingga pada tahun 852 tahta Galuh jatuh kepada keturunan Banga, yaitu Rakeyan Wuwus yang beristrikan puteri keturunan Galuh. Sebaliknya adik perempuan Rakeyan Wuwus menikah dengan putera Galuh yang kemudian menggantikan kedudukan iparnya sebagai Raja Sunda IX dengan gelar Prabu Darmaraksa Buana. Kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Prabu Darmaraksa (891 – 895) dibunuh oleh seorang menteri Sunda yang fanatik.

Karena peristiwa itu, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895 sampai tahun 1311 kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rom an raja baru yang pindah tempat.

Ayah Sri Jayabupati berkedudukan di Galuh, Sri Jayabupati di Pakuan, tetapi puteranya berkedudukan di Galuh lagi. Dua raja berikutnya (Raja Sunda ke-22 dan ke-23) memerintah di Pakuan. Raja ke-24 memerintah di Galuh dan raja ke-25, yaitu Prabu Guru Darmasiksa mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Puteranya, Prabu Ragasuci, berkedudukan di Saunggalah dan dipusarakan di Taman, Ciamis.

Proses kepindahan seperti ini memang merepotkan (menurut pandangan kita), namun pengaruh positifnya jelas sekali dalam hal pemantapan etnik di Jawa Barat. Antara Galuh dengan Sunda memang terdapat kelainan dalam hal tradisi. Anwas Adiwijaya (1975) mengungkapkan bahwa orang Galuh itu “orang air”, sedang orang Sunda “Orang Gunung”. Yang satu memiliki “mitos buaya”, yang lain “mitos harimau”.

Di daerah Ciamis dan Tasikmalaya masih ada beberapa tempat yang bernama Panereban. Tempat yang bernama demikian pada masa silam merupakan tempat melabuhkan (nerebkeun) mayat karena menurut tradisi Galuh, mayat harus “dilarung” (dihanyutkan) di sungai. Sebaliknya orang Kanekes yang masih menyimpan banyak sekali “sisa-sisa” tradisi Sunda, mengubur mayat dalam tanah. Tradisi “nerebkeun” di sebelah timur dan tradisi “ngurebkeun” di sebelah barat (membekas dalam istilah panereban dan pasarean).

Peristiwa sejarah telah meleburkan kedua kelompok sub-etnik ini menjadi satu “Orang Air” dengan “Orang Gunung” itu menjadi akrab dan berbaur seperti dilambangkan oleh dongeng Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet (kura-kura dan monyet). Dongeng yang khas Sunda ini sangat mendalam dan meluas dalam segala lapisan masyarakat, padahal mereka tahu, bahwa dalam kenyataan sehari-hari monyet dan kuya itu bertemu saja mugkin tidak pernah (di kebun binatang pun tidak pernah diperkenalkan).

Dalam abad ke-14 sebutan SUNDA itu sudah meliputi seluruh Jawa Barat, baik dalam pengertian wilayah maupun dalam pengertian etnik. Menurut Pustaka Paratwan i Bgumi Jawadwipa, Parwa I sarga 1, nama Sunda mulai digunakan oleh Purnawarman untuk Ibukota Tarumanagara yang baru didirikannya, Sundapura. Idealisme kenegaraan memang terpaut di dalamnya karena Sundapura mengandung arti kota suci atau kota murni, sedangkan Galuh berarti permata atau batu mulia (secara kiasan berarti gadis).

2. Peran bergeser ke timur.

Dalam abad ke-14 di timur muncul kota baru yang makin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, yaitu Kawali (artinya kuali atau belanga). Lokasinya strategis karena berada di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh. Sejak abad XIV ini Galuh selalu disangkutpautkan dengan Kawali. Dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).

Sebenarnya gejala pemerintahan yang condong ke timur sudah mulai nampak sejak masa pemerintahan Prabu Ragasuci (1297-1303). Ketika naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Darmasiksa), ia tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan karena ia sendiri sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja di timur. Tetapi pada masa pemerintahan puteranya Prabu Citraganda, sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan.

Ragasuci sebenarnya bukan putera mahkota karena kedudukanya itu dijabat kakaknya Rakeyan Jayadarma. Menurut Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3, Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal. Mereka berputera Sang Nararya Sanggramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya, yang lahir di Pakuan.

Karena Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam Babad Tanah Jawi, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pajajaran yang kemudian menjadi Raja Majapahit yang pertama.

Sementara itu, kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur. Prabu Darmasiksa kemudian menunjuk putera Prabu Ragasuci, Citraganda, sebagai calon ahli warisnya. Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa, puteri Kerajaan Melayu, adik Dara Kencana isteri Kertanegara. Citraganda tinggal di Pakuan bersama kakeknya. Ketika Prabu Darmasiksa wafat, untuk sementara ia menjadi raja daerah selama enam tahun di Pakuan. Ketika itu Raja Sunda dijabat ayahnya di Saunggalah. Dari 1303 sampai 1311, Citraganda menjadi Raja Sunda di Pakuan dan ketika wafat ia dipusarakan di Tanjung.

Prabu Lingga Dewata, putera Citraganda, mungkin berkedudukan di Kawali. Yang pasti, menantunya, Prabu Ajiguna Wisesa (1333-1340) sudah berkedudukan di Kawali dan sampai tahun 1482 pusat pemerintahan tetap berada di sana. Bisa disebut bahwa tahun 1333-1482 adalah Jaman Kawali dalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat dan mengenal lima orang raja.

Lain dengan Galuh, nama Kawali terabadikan dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di Astana Gede, Kawali. Dalam prasasti itu ditegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya disebut Surawisesa yang dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” (keraton yang memberikan ketenangan hidup).

Prabu Raja Wastu atau Niskala Wastu Kancana adalah putera Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di medan Bubat dalam tahun 1357. Ketika terjadi Pasunda Bubat, usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia adalah satu-satunya ahli waris kerajaan yang hidup karena ketiga kakaknya meninggal. Pemerintahan kemudian diwakili oleh pamannya Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora (ada juga yang menyebut Prabu Kuda Lalean, sedangkan dalam Babad Panjalu disebut Prabu Borosngora. Selain itu ia pun dijuluki Batara Guru di Jampang karena ia menjadi pertapa dan resi yang ulung). Mangkubumi Suradipati dimakamkan di Geger Omas.

Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya, Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja pada tahun 1371 pada usia 23 tahun. Permaisurinya yang pertama adalah Lara Sarkati puteri Lampung. Dari perkawinan ini lahir Sang Haliwungan, yang setelah dinobatkan menjadi Raja Sunda bergelar Prabu Susuktunggal. Permaisuri yang kedua adalah Mayangsari puteri sulung Bunisora atau Mangkubumi Suradipati. Dari perkawinannya dengan Mayangsari lahir Ningrat Kancana, yang setelah menjadi penguasa Galuh bergelar Prabu Dewa Niskala.

Setelah Wastu Kancana wafat tahun 1475, kerajaan dipecah dua diantara Susuktunggal dan Dewa Niskala dalam kedudukan sederajat. Politik kesatuan wilayah telah membuat jalinan perkawinan antar cucu Wastu Kencana. Jayadewata, putera Dewa Niskala, mula-mula memperistri Ambetkasih, puteri Ki Gedeng Sindangkasih, kemudian memperistri Subanglarang. Yang terakhir ini adalah puteri Ki Gedeng Tapa yang menjadi Raja Singapura.

Subanglarang ini keluaran pesantren Pondok Quro di Pura, Karawang. Ia seorang wanita muslim murid Syekh Hasanudin yang menganut Mazhab Hanafi. Pesantren Qura di Karawang didirikan tahun 1416 dalam masa pemerintahan Wastu Kancana. Subanglarang belajar di situ selama dua tahun. Ia adalah nenek Syarif Hidayatullah.

Kemudian Jayadewata mempersitri Kentring Manik Mayang Sunda puteri Prabu Susuktunggal. Jadilah antara Raja Sunda dan Raja Galuh yang seayah ini menjadi besan.

3. Ibukota kembali ke Pakuan

Kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) Raja Majapahit tahun 1478 telah mempengaruhi jalan sejarah di Jawa Barat. Rom an pengungsi dari kerabat keraton Majapahit akhirnya ada juga yang sampai di Kawali. Salah seorang diantaranya ialah Raden Baribin saudara seayah Prabu Kertabumi. Ia diterima dengan baik oleh Prabu Dewa Niskala bahkan kemudian dijodohkan dengan Ratna Ayu Kirana (puteri bungsu Dewa Niskala dari salah seorang isterinya), adik Raden Banyak Cakra (Kamandaka) yang telah jadi raja daerah di Pasir Luhur. Disamping itu Dewa Niskala sendiri menikahi salah seorang dari wanita pengungsi yang kebetulan telah bertunangan.

Dalam Carita Parahiyangan disebutkan “estri larangan ti kaluaran”. Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit. Selain itu, menurut “perundang-undangan” waktu itu, seorang wanita yang bertunangan tidak boleh menikah dengan laki-laki lain kecuali bila tunangannya meninggal dunia atau membatalkan pertunangan.

Dengan demikian, Dewa Niskala telah melanggar dua peraturan sekaligus dan dianggap berdosa besar sebagai raja. Kehebohan pun tak terelakkan. Susuktunggal (Raja Sunda yang juga besan Dewa Niskala) mengancam memutuskan hubungan dengan Kawali. Namun, kericuhan dapat dicegah dengan keputusan, bahwa kedua raja yang berselisih itu bersama-sama mengundurkan diri. Akhirnya Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Jayadewata. Demikian pula dengan Prabu Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini (Jayadewata).

Dengan peristiwa yang terjadi tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan. Jayadewata memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai “Susuhunan” karena ia telah lama tinggal di sini menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan.

B. Raja-raja Pajajaran

1. Sri Baduga Maharaja

Jaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) yang memerintah selama 39 thaun (1482 – 1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Tahta Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah “sepi” selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rom an raja yang berpindah tempat dari timur ke barat.

Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

“Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”.

(Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.

Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):

“Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.

Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.

Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda”.

Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya (“silih”nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah “seuweu” Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus “langsung” dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar PRABU, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai “silih” (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). “Silih” dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.